TEORI KEPEMIMPINAN DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM
ABSTRAK
Kepemimpinan
merupakan salah satu faktor yang menentukan pencapaian visi, misi dan tujuan
dari suatu lembaga atau organisasi. Dalam konteks lembaga pendidikan Islam,
komponen yang menjadi motor penggerak kepemimpinan tersebut adalah kepala
sekolah/madrasah, guru, staf dan seluruh elemen pendidikan. Dalam tulisan ini,
penulis menemukan ada sembilan teori kepemimpinan yang ada relevansinya dengan
tipe kepemimpinan dalam lembaga pendidikan Islam yaitu; teori otokratis dan
kepemimpinan otokratis, teori psikologis, teori sosiologis, teori suportif,
teori laissez faire, teori kelakuan pribadi, teori sifat orang-orang besar
(traits of great man), teori situasi dan teori humanistik/populistik. Teori
tersebut dapat dijadikan tolak ukur untuk mengetahui, mengidentifikasi dan
mengevaluasi sikap, perilaku, kebijakan, hingga gaya kepemimpinan seseorang.
Biasanya, kebijakan seorang pemimpin dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti
perilaku, pengetahuan, situasi dan kepentingan. Maka, menjadi menarik jika
keberadaan teori kepemimpian tersebut dijadikan nilainilai dasar pengetahuan
untuk mempelajari lebih dalam model dan karakteristik kepemimpinan dalam
lembaga pendidikan Islam.
Kata Kunci: Teori, Kepemimpinan,
Lembaga Pendidikan Islam
A. PENDAHULUAN
Kepemimpinan
adalah roda penggerak sebuah lembaga atau organisasi. Kualitas kepemimpinan
menentukan arah keberhasilan lembaga atau organisasinya. Sehingga seorang
pemimpin harus mampu mengantisipasi, mengelola dan menggerakkan roda organisasi
secara cepat dan tepat. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan jika seorang
pemimpin (leader) bukan sekedar pengambil keputusan (decision making) tapi
sebagai kunci keberhasilan sebuah lembaga atau organisasi. Dalam lembaga
pendidikan Islam, fungsi pemimpin mempunyai peran yang strategis dalam mewujudkan visi
kelembagaan khususnya dalam pengembangan mutu kelembagaan, peningkatan sumber
daya manusia (SDM) dan daya saing dalam berbagai bidang. Sehubungan dengan ini,
peran aktif kepemimpinan tentu bukan sekedar mengemban fungsi secara struktural
saja tapi sebagai perealisasi tujuan dan program kelembagaan yang telah
direncanakan secara kolektif. Kaitannya dengan ini, berdasarkan hasil
penelitian di berbagai Negara maju, variabel kepemimpinan sekolah memberikan
kontribusi rata-rata 40% bagi perkembangan dan mutu pendidikan, sedangkan 60%
lainnya ditentukan oleh variabel lain. Hal ini berbeda dengan temuan penelitian
di Indonesia bahwa kepemimpinan kepala sekolah/madrasah hanya memberikan
kontribusi rata-rata 10% saja, sedangkan 90% lainnya ditentukan oleh variabel
lain.[1]
Temuan
penelitian di atas, erat kiatannya dengan keberadaan dan permasalahan
kepemimpinan dalam berbagai lembaga pendidikan Islam saat ini, seperti
sekolah/madrasah yang kurang memenuhi standar kualifikasi dan kompetensi
pendidikan karena kepala sekolah/madrasah sebagian besar berpendidikan baru
atau kurang dari strata S1, rendahnya pengetahuan atau keilmuan mengenai
teori-teori kepemimpinan, serta posisi jabatan kepemimpinan yang tidak sesuai
dengan profesionalisme atau bidang keilmuan yang ditekuni, sehingga hal
demikian menjadi kendala dalam pengelolaan dan pengembangan suatu lembaga
pendidikan Islam. Penulis memahami bahwa aktivitas kepemimpinan pada umumnya
berfungsi untuk mengajak dan menggerakkan roda organisasi untuk mencapai suatu
tujuan. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengkaji dan mengembangkan
lebih dalam bagaimana teori kepemimpinan kaitannya dengan lembaga pendidikan
Islam.
B. Pengertian
Kepemimpinan Islam
Kepemimpinan
adalah terjemahan dari kata “leadership” yang berasal dari kata leader.
Pemimpin (leader) ialah orang yang memimpin, sedangkan pimpinan merupakan
jabatannya. Secara etimologi, istilah kepemimpinan berasal dari kata “pimpin”
yang artinya bimbing atau tuntun. Dari kata pimpin tersebut maka lahirlah kata
kerja “memimpin” yang artinya membimbing dan menuntun.[2]
Studi tentang kepemimpinan telah banyak
dilakukan dibeberapa wilayah riset termasuk dalam wilayah lembaga pendidikan
Islam. Sehingga istilah dan definisi tentang kepemimpinan sangat beragam
pendefinisiannya biasanya berdasarkan perspektif dan fenomena yang ditemukan
oleh para peneliti. Namun untuk memperkaya pengetahuan dan definisi mengenai
kepemimpinan di bawah ini penulis sajikan beberapa definisi kepemimpinan.
Hadari
Nawawi, berpendapat bahwa kepemimpinan adalah kemampuan menggerakkan,
memberikan motivasi dan mempengaruhi orang-orang agar bersedia melakukan
tindakan-tindakan yang terarah pada pencapaian tujuan melalui keberanian
mengambil keputusan tentang kegiatan yang dilakukan.[3]
Suharsimi
Arikunto, kepemimpinan adalah usaha yang dilakukan untuk mempengaruhi anggota
kelompok agar mereka dengan suka rela menyumbangkan kemampuannya secara
maksimal demi pencapaian tujuan kelompok yang telah ditetapkan.[4]
Imam Machali,
memberikan pengertian kepemimpinan adalah kemampuan untuk menggerakkan,
mempengaruhi, memotivasi, mengajak,
mengarahkan, menasihati, membina, membimbing, melatih, menyuruh, memerintah,
melarang, dan bahkan menghukum (kalau perlu) dengan maksud agar manusia sebagai
bagian dari organisasi mau bekerja dalam rangka mencapai tujuan dirinya sendiri
maupun organisasi secara efektif dan efisien.[5]
Muwahid Shulhan,
memberikan definisi kepemimpinan kaitannya dengan lembaga pendidikan Islam
adalah kepemimpinan merupakan kemampuan untuk menggerakkan, melakukan
koordinasi atau mempengaruhi anggota dan segala sumber daya manusia yang ada di
sekolah/madrasah sehingga dapat di daya gunakan secara maksimal untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan.[6]
Sedangkan
menurut Wahjosumijo menjelaskan bahwa kepala madrasah adalah seorang tenaga
fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu madrasah, dimana terjadi
interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran.[7]
Berdasarkan
definisi mengenai kepemimpinan tersebut maka penulis memberikan pandangan bahwa
aktivitas kepemimpinan merupakan upaya secara kolektif (bersama) dalam
berfikir, bertindak dan memecahkan masalah yang dihadapi oleh lembaga secara
bersama-sama agar tujuan yang telah direncanakan dapat direalisasikan dengan
baik. Sedangkan relevansinya dengan lembaga pendidikan Islam, peran
kepemimpinan dilaksanakan oleh kepala sekolah/madrasah yang di dalamnya
melibatkan seluruh anggota dan warga sekolah dalam menjalankan fungsi dan peran
kepemimpinan tersebut dalam mencapai tujuan bersama.
C. Teori Kepemimpinan
Berbagai
studi tentang kepemimpinan hasilnya mengarah pada bagaimana konsep, rumusan dan
teori kepemimpinan itu sendiri. Konsep maupun teori kepemimpinan yang
dihasilkan tentu tidak lepas dari bagaimana metodologinya, uraian, interpretasi
yang diberikan hingga penarikan kesimpulannya. Beberapa teori tentang
kepemimpinan yang diuraikan oleh kartini kartono dalam bukunya “kepemimpinan
pendidikan dan pembangunan karakter” sebagai berikut:[8]
1)
Teori
Otokratis dan Pemimpin Otokratis
Kepemimpinan
menurut teori ini didasarkan atas perintah-perintah, paksaan, dan
tindakan-tindakan yang arbiter (sebagai wasit). Ia melakukan pengawasan yang
ketat, agar semua pekerjaan berlangsung secara efisien. Kepemimpinannya
berorientasi pada struktur organisasi dan tugas-tugas. Ciri khusus dari
kepemimpinan seperti ini ialah: a. Memberikan perintah-perintah yang
dipaksakan, dan harus dipatuhi. b. Menentukan policies/kebijakan untuk semua
pihak, tanpa berkonsultasi dengan para anggota. c. Tidak pernah memberikan
informasi mendetail tentang rencana-rencana yang akan datang, akan tetapi hanya
memberitahukan pada setiap anggota kelompoknya langkah-langkah segera yang
harus mereka lakukan. d. Memberikan pujian atau kritik pribadi terhadap setiap
anggota kelompoknya dengan inisiatif sendiri.
Pada
intinya kepemimpinan dengan model seperti ini bersifat autokrat keras yakni memiliki sifat-sifat tepat, saksama,
sesuai dengan prinsip namun keras dan kaku. Lembaga atau organisasi yang
dipimpinnya merupakan a one-man show. Dengan keras dia menekankan
prinsip-prinsip “business is business”, “waktu adalah uang” untuk bisa makan,
orang harus bekerja keras, yang dikejar adalah kemenangan mutlak dan lain-lain.
Dia hanya bersikap baik terhadap orang-orang yang patuh pada dirinya yaitu
terhadap hambahamba yang setia dan loyal padanya. Sebaliknya, dia akan
bertindak keras serta kejam terhadap orang-orang yang tidak mau patuh terhadap
dirinya.
2)
Teori
Psikologis
Teori
ini menyatakan, bahwa fungsi seorang pemimpin adalah memunculkan dan
mengembangkan sistem motivasi terbaik, untuk memotivasi kesediaan bekerja dari
para pengikut dan anak buah. Pemimpin merangsang bawahan, agar mereka mau
bekerja, guna mencapai sasaran-sasaran organisatoris maupun memenuhi
tujuan-tujuan pribadi. Maka kepemimpinan yang mampu memotivasi orang lain akan
sangat mementingkan aspek-aspek psikis manusia seperti pengakuan (recognizing),
martabat, status sosial, kepastian emosional, memperhatikan keinginan dan
kebutuhan pegawai, kegairahan kerja, minat, suasana hati, dan lain-lain.
3) Teori Sosiologis
Dalam
teori ini, kepemimpinan dianggap sebagai usaha-usaha untuk melancarkan
antar-relasi dalam organisasi dan sebagai usaha untuk menyelesaikan setiap
konflik organisatoris antara para pengikutnya, agar tercapai kerja sama yang
baik. Pemimpin menetapkan tujuan-tujuan, dengan menyertakan para pengikut dalam
pengambilan keputusan terakhir. Selanjutnya juga mengidentifikasi tujuan, dan
kerap kali memberikan petunjuk yang diperlukan bagi para pengikut untuk melakukan
setiap tindakan yang berkaitan dengan kepentingan kelompoknya.
4) Teori Suportif
Menurut
teori ini, para pengikut harus berusaha sekuat mungkin, dan bekerja dengan
penuh gairah, sedang pemimpin akan membimbing dengan sebaik-baiknya melalui
kebijakan tertentu. Dalam hal ini, pemimpin perlu menciptakan suatu lingkungan
kerja yang menyenangkan, dan bisa membantu mempertebal keinginan setiap
pengikutnya untuk melaksanakan pekerjaan sebaik mungkin, sanggup bekerjasama
dengan pihak lain, mau mengembangkan bakat dan keterampilannya, dan menyadari
benar keinginan untuk maju. Teori suportif ini biasa dikenal dengan teori
partisipatif atau teori kepemimpinan
demokratis.
5) Teori Laissez Faire
Kepemimpinan
Laissez Faire ditampilkan oleh seorang tokoh “ketua dewan” yang sebenarnya
tidak mampu mengurus dan dia menyerahkan tanggung jawab serta pekerjaan kepada
bawahan atau kepada semua anggota. Kepemimpinan semacam ini pemimpin adalah
seorang “ketua” yang bertindak hanya sebagai simbol. Pemimpin semacam ini
biasanya tidak memiliki keterampilan teknis. Kepemimpinannya tidak mampu
mengkoordinasikan semua jenis pekerjaan, tidak berdaya menciptakan suasana
kooperatif. Sehingga lembaga atau organisasi yang dipimpinnnya menjadi kacau
balau. Sehingga, pada intinya pemimpin Laissez Faire itu bukanlah seorang
pemimpin dalam pengertian yang sebenarnya. Artinya, semua anggota yang
dipimpinnya bersikap santaisantai dan bermotto “lebih baik tidak usah bekerja
saja”. Sehingga kelompok tersebut praktis menjadi tidak terbimbing dan tidak
terkontrol.
6) Teori Kelakuan Pribadi
Kepemimpinan
jenis ini akan muncul berdasarkan kualitas-kualitas pribadi atau polapola
kelakuan para pemimpinnya. Teori ini menyatakan, bahwa seorang pemimpin itu tidak melakukan tindakan-tindakan yang
identik sama dalam setiap situasi yang dihadapi. Dengan kata lain, pemimpin
dalam kategori ini harus memapu fleksibel, luwes dan bijaksana serta harus
mempu mengambil langkah-langkah yang paling tepat untuk suatu masalah. Pola
tingkah laku pemimpin dengan ciri ini erat kaitannya dengan: 1. Bakat dan
kemampuannya 2. Kondisi dan situasi yang dihadapi 3. Good-will atau keinginan
untuk memutuskan dan memecahkan permasalahan yang muncul 4. Derajat supervisi
dan ketajaman evaluasinya.
7) Teori Sifat Orang-Orang Besar
(Traits Great Men)
Teori
ini memandang bahwa untuk mengidentifikasi sifat-sifat unggul seorang pemimpin
dapat diketahui melalui sifat, karakter dan perilaku orang-orang besar yang
sudah terbukti sukses dalam menjalankan kepemimpinannya. Sehingga ada beberapa ciriciri
unggul yang diharapkan dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu mempunyai
intelegensi tinggi, banyak inisiatif, energik, punya kedewasaan emosional,
memiliki keterampilan yang komunikatif, mempunyai kepercayaan diri yang tinggi,
peka, kreatif dan selalu memberikan parstisipasi sosial yang tinggi.
8) Teori Situasi
Teori
ini menjelaskan, bahwa harus terdapat daya lenting yang tinggi pada diri
seorang pemimpin untuk dapat menyesuaikan diri, tuntutan situasi, lingkungan
dan zaman yang terus mengalami perubahan. Sebab permasalahan-permasalahan
hidup, dan saatsaat yang tidak terduga seperti adanya perang, revolusi dan
lain-lain tentu penuh dengan ancaman dan bahaya. Maka situasi-situasi seperti
itu harus memunculkan satu tipe kepemimpinan yang relevan dengan kondisi saat
itu.
Tipe
kepemimpinan seperti ini bersifat multi dimensional harus serba bisa, terampil,
serta mampu melibatkan diri dan menyesuaikan terhadap masyarakat dan situasi
yang cepat. Teori ini beranggapan, bahwa kepemimpinan itu terdiri atas tiga
elemen dasar, yaitu pemimpin, pengikut dan situasi. Dimana ketiga elemen
tersebut saling berkaitan erat, dimana ada kepemimpinan pasti selalu ada
anggota dan dilaksanakan pada suatu situasi atau kondisi.
9) Teori Humanistik/Populistik
Fungsi
kepemimpinan menurut teori ini ialah mengorganisir kebebasan manusia dan
memenuhi segenap kebutuhan insani, yang dapat dicapai melalui interaksi
pemimpin dengan rakyat. Untuk melakukan hal ini, perlu adanya organisasi yang
baik dan pemimpin yang baik, yang mau memperhatikan kepentingan dan kebutuhan
rakyat. Organisasi berfungsi sebagai sarana untuk melakukan kontrol sosial,
agar pemerintah melakukan fungsinya dengan baik, serta memperhatikan kemampuan
dan potensi rakyat. Hal ini dapat dilaksanakan melalui interaksi dan kerja sama
yang baik antara pemerintah dan rakyat dengan memperhatikan kepentingan
masing-masing. Pada teori ini terdapat tiga variabel pokok yaitu: a.
Kepemimpinan harus memperhatikan hati nurani rakyat, dengan segenap harapan,
kebutuhan dan kemampuannya. b. Organisasi agar bisa relevan dengan kepentingan
rakyat dan pemerintah. c. Interaksi yang akrab dan harmonis antara pemerintah
dan rakyat untuk membangun persatuan dan kesatuan serta hidup secara damai.
Berdasarkan uraian dari kesembilan teori kepemimpin di atas, maka penulis
memahami bahwa jenis-jenis teori kepemimpinan tersebut sebagai tolak ukur dan
alat evaluasi untuk mengetahui jenis kepemimpinan mana yang relevan
dengankonteks lembaga pendidikan Islam atau kebutuhan organisasi.
D. Karakteristik Kepemimpinan Yang
Relevan Dengan Lembaga Pendidikan Islam
Pengembangan kapasitas lembaga pendidikan
sangat dipengaruhi oleh pola kepemimpinan yang diterapkan oleh kepala
sekolah/madrasah. Sehingga untuk mewujudkan konsep-konsep yang ideal maka
lembaga pendidikan Islam membutuhkan pemimpin yang yang dapat membawa pengaruh
besar. Pengaruh tersebut bisa berwujud dalam bentuk program kelembagaan,
inovasi, hingga keteladanan dalam kepemimpin. Karena profesionalitas dan
karakteristik kepemimpinan mempunyai hubungan yang signifikan terhadap prestasi
lembaga yang dipimpinnya.[9]
Dalam kaitan ini, karakteristik kepemimpinan merupakan gaya ideal yang
ditunjukkan oleh seorang pemimpin dalam setiap pengambilan keputusan hingga
menyangkut aktualisasi diri baik beruapa bahasa, tindakan dan perilaku.[10]
Maka
persoalan-persoalan yang muncul dalam lembaga pendidikan Islam bisa jadi karena
disebabkan karakteristik kepemimpinannya. Oleh karena itu, karakteristik
merupakan bagian dari kekuatan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin agar
menjadi keunggulan dan nilai lebih dalam menjalankan tugas dan tanggung
jawabnya. Karena suatu lembaga pendidikan dapat dikatakan efektif jika lembaga
tersebut mempunyai kapasitas untuk memaksimalkan tujuan dan fungsi-fungsinya.[11] Sehubungan
dengan ini, proses kepemimpinan memiliki
kaitan dengan etika profesi, sehingga setiap kekuasaan, wewenang, dan kebijakan
harus dilandasi dengan asas-asas keadilan, kebaikan, dan kemanusiaan dalam
menempatkan orang lain bukan sebagai pembantu tapi sebagai mitra kerja.
Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang sangat kooperatif dengan anggotanya,
membantu kelancaran kerjasama hingga mencapai sasaran yang ditetapkan. Memimpin
itu bukan sekedar mengeluarkan kata-kata apalagi menyuruh tapi seharusnya sebagai
praktik yang saling belajar, saling menerima perbedaan, tidak anti terhadap
kritik dan masukan, serta menumbuhkan sikap toleran terhadap anggotanya.
Berangkat dari paradigma di atas, untuk menemukan sifat dan karakter seorang
pemimpin yang relevan dengan lembaga pendidikan Islam. Sebagaimana Ordway Tead
dan George R. Terry tentang teori the traitis theory of leadership (teori sifat
dari kepemimpinan) yang dikutip Kartini Kartono, mengemukakan karakteristik
ideal yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin antara lain:[12]
1.
Energi jasmaniah dan mental (physical and nervous energy) Memandang bahwa
kekuatan-kekuatan mental berupa semangat juang, motivasi kerja, disiplin,
kesabaran, keuletan dan kemampuan yang luar biasa harus dimiliki oleh seorang
pemimpin untuk mengatasi semua permasalahan yang dihadapi.
2.
Kesadaran akan tujuan dan arah (A sense of purpose and deriction). Seorang
pemimpin harus memiliki keyakinan dan tujuan yang akan dikerjakan. Tujuan
tersebut harus didasarkan pada kebenaran, menarik dan memiliki kegunaan
bersama.
3.
Keramahan dan kecintaan (friendliness and affection). Affection berarti kasih saying, cinta,
simpati yang tulus disertai dengan kesediaan berkorban bagi anggotanya. Karena
sifat seperti ini akan menjadi teladan yang baik bagi anggotanya. Serta
keramahan sebagai nilai-nilai dalam pergaulan dalam menumbuhkan rasa saling
memahami satu sama lain.
4.
Integritas (integrity). Seorang pemimpin harus mempunyai prinsip sepenanggungan
dan seperjuangan. Karena pelayanan dan pengorbanan yang terhadap anggotanya
justeru menjadikan anggota kelompoknya semakin solid, dan akan menghormatinya.
5.
Penguasaan tekhnis (technical mastery) Setiap pemimpin harus mempunyai satu
atau beberapa keakhlian tekhnis tertentu. tekhnis yang dimaksud bukan sekedar
pada yang bersifat mekanik atau materil tetapi bagaimana tekhnik
mengkoordinasikan anggotanya, agar tercapai efektivitas kerja dan
produktivitasnya.
6.
Ketegasan dalam mengambil keputusan (decisiveness). Pemimpin yang berhasil itu
dapat mengambil keputusan secara tepat, tegas dan cepat. Kemudian mampu
meyakinkan para anggotanya akan ketepatan dan kebenaran keputusannya, serta
dibarengi dengan rasa tanggung jawab.
7.
Kecerdasan (intelligence). Kecerdasan itu wajib dimiliki oleh setiap pemimpin
karena sebagai kemampuan untuk melihat dan memahami dengan baik, mengerti sebab
dan akibat, menemukan hal-hal yang krusial dan menemukan cara penyelesaiannya.
Karena, pemimpin yang cerdas itu seharusnya mampu mengatasi masalah yang
dihadapi dalam waktu yang efisien dengan cara yang lebih efektif. Tetapi,
kecerdasan intelektual
harus dibarengi dengan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Karena
kompleksitas permasalahan tentu mencakup banyak hal sehingga kecerdasan seorang
pemimpinpun harus mengarah dan merespon sampai pada situasi-situasi yang tidak
terduga.
8.
Keterampilan mengajar (teaching skill), Pemimpin itu seperti seorang guru yang
mampu menuntun, mendidik, mengarahkan, memberikan motivasi dan menggerakkan
anggotanya untuk bekerja. Sehingga mengajar yang dimaksud tidak dimaknai secara
sempit namun secara luas.
9.
Kepercayaan (faith). Keberhasilan kepemimpinan itu pada umumnya selalu didukung
oleh kepercayaan dari anggotanya. Biasanya kepercayaan tersebut menjadi
penilaian khusus dari anggotanya dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab.
Karena ketika kepercayaan mulai menipis maka semangat kerja dan kepercayaan
dari anggotanyapun akan mulai berkurang. Sehingga dibutuhkan nilai-nilai
kepercayaan dalam kepemimpinan.
Sehubungan
dengan ini, karakter dan mental seorang pemimpin harus mampu beradaptasi dengan
berbagai situasi, perubahan dan tantangan baik internal lembaga pendidikan
maupun eksternal. Kemudian faktor lingkungan internal dan eksternal tersebut
perlu diantisipasi, dipantau, dinilai dan disertakan sedemikian rupa dalam
proses pengambilan perumusan kebijakan.[13]
Mengingat, perubahan dan tantangan yang dihadapi oleh lembaga pendidikan Islam
dinamis dan tidak terkendali, sehingga untuk mempertahankan eksistensi
kelembagaan, seorang pemimpin harus terus belajar,
mengevaluasi diri, mengikuti perkembangan yang ada, serta membangun relasi
dengan berbagai lembaga dan organisasi lainnya. Sehingga yang perlu kita
antisipasi adalah Iklim kompetitif (persaingan global) menyebabkan mayoritas
lembaga pendidikan kesulitan dalam mengelola lembaganya, terutama pendidikan
formal berstatus Islam, seperti madrasah.[14]
Misalnya,
bagaimana lembaga pendidikan Islam mampu beradaptasi penggunaan media,
tekhnologi, dan berbagai sarana penunjang keberhasilan pendidikan lainnya. Hal
ini dianggap penting sebagai upaya inovasi, sistem, konsep dan praktik dalam
lembaga pendidikan Islam.[15]
Keberhasilan lembaga pendidikan Islam kaitannya dengan karakteristik
kepemimpinan, maka ada tiga dimensi yang penulis dapat uraikan. Pertama, pada
aspek nalar dan mental pemimpin harus bersifat fluid (cair) artinya dibutuhkan
sikap yang mampu berbaur dengan berbagai situasi sehingga membangun kekuatan,
kebersamaan, dan relasi kerja yang lebih terbuka. Kedua, karakter yang
visioner, sikap yang selalu mengedepankan tujuan kelembagaan dari pada tujuan
pribadi, kemajuan bersama dan perubahan yang lebih baik. Ketiga, karakter yang
resourcefull yakni kemampuan mengerahkan semua sumber daya, kedekatan pemimpin
dengan bawahannya, mampu menjadi sumber informasi serta tegas dan tepat dalam
mengambil suatu keputusan.
Sehubungan
di atas, kepemimpinan seringkali dimaknai sebagai wilayah kekuasaan. Sehingga
kekuasaan tersebut jika tidak dapat difungsikan dengan benar maka akan
melahirkan konsep kekuasaan. Jika merujuk pada pemikiran Pauolo Friere,
menjelaskan bahwa masih banyak diantara pemimpinpemimpin dalam lembaga
pendidikan kita yang masih
menerapkan model kepemimpinan yang menindas.[16]
Nampaknya kritik Friere tersebut masih relevan dengan realitas kepemimpinan
pendidikan Islam kita saat ini, seorang pemimpin yang masih memposisikan diri
sebagai penguasa yang bertindak semaunya, posisi anggotanya bukan sebagai mitra
kerja tetapi sebagai anak bauh. Seharusnya, Kepemimpinan yang baik akan
menekankan kerja sama tim dibandingkan kerja individual.[17]
Maka penulis, memberikan pandangan bahwa arah kepemimpinan dalam lembaga
pendidikan Islam dimanfaatkan sebagai bentuk pengabdian, pengamalan keilmuan,
dan kontribusi terhadap pengembangan dan kemajuan lembaga pendidikan Islam.
E. Penutup
Meskipun
tidak ada batasan khusus mengenai pengertian kepemimpinan, akan tetapi makna
dari kepemimpinan biasanya dirumuskan berdasarkan konsep, metodologi,
interpretasi, hingga kesimpulan berdasarkan situasi yang dibutuhkan. Sehingga
perbedaan mendasar mengenai pengertian kepemimpinan bukanlah sebuah
permasalahan melainkan sebagai kekayaan pengetahuan, informasi dan nilai yang
sesuai dengan kebutuhan. Teori merupakan serangkaian ide, gagasan dan konsep
secara ilmiah untuk memahami dan memastikan suatu persoalan.
Sehubungan
dengan ini, teori-teori kepemimpinan yang relevan dengan praktek kepemimpinan
dalam lembaga pendidikan Islam yaitu; teori otokratis dan kepemimpinan
otokratis, teori psikologis, teori sosiologis, teori suportif, teori laissez
faire, teori kelakuan pribadi, teori sifat orang-orang besar (traits of great
man), teori situasi dan teori humanistik/populistik. Diantara rangkaian teori
tersebut, ada teori yang relevan namun ada juga yang tidak. Keberadaan teori
tersebut hanya sebagai tolak
ukur dan alat evaluasi yang melihat persoalan-persoalan dan praktek
kepemimpinan dalam lembaga pendidikan Islam, sehingga penting untuk dijadikan
dasar keilmuan untuk mengkaji lebih dalam terkait tipe dan gaya kepemimpinan.
Beberapa
karakteristik kepemimpin yang relevan untuk dipraktekkan dalam lembaga
pendidikan Islam yaitu; mempunyai energi jasmaniah dan mental (physical and
nervous energy), memiliki kesadaran akan tujuan dan arah (A sense of purpose
and deriction), keramahan dan kecintaan (friendliness and affection),
integritas (integrity), penguasaan tekhnis (technical mastery), ketegasan dalam
mengambil keputusan (decisiveness), kecerdasan (intelligence), keterampilan
mengajar (teaching skill), kepercayaan (faith). Serta dapat diperkaya dengan
nilai-nilai dan karakteristik kepemimpinan lainnya yang relevan dengan tujuan
dan kebutuhan lembaga pendidikan Islam itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi, Organisasi dan
Administrasi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, (Jakarta: Rajawali Pers, 1990).
Atika dan Imam Machali, Segmentasi dan
Positioning Jasa Pendidikan di MAN Yogyakarta III, Manageria: Jurnal Manajemen
Pendidikan Islam, UIN SUKA Yogyakarta, 2016. Vol. 1, No. 2, hlm. 154.
Efendi, Nur, Islamic Educational
Leadership, (Yogyakarta: Kalimedia, 2017).
Friere, Paulo, Pendidikan Kaum
Tertindas, (Yogyakarta: LP3ES, 2000).
Kartono, Kartini, Pemimpin dan
Kepemimpinan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2001).
Khoiri, Ahmad, Manajemen Strategik dan
Mutu Pendidikan Islam, Manageria: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, UIN SUKA Yogyakarta, 2016. Vol. 1, No.
1, hlm. 79.
Machali, Imam, Kepemimpinan Pendidikan
dan Pembangunan Karakter, (Yogyakarta: Pedagogia, 2012).
Marno dan Triyo Supriyatno, Manajemen
dan Kepemimpinan Pendidikan Islam, (Bandung: Refika Aditama, 2008).
Nawawi, Hadari, Administrasi Pendidikan,
(Jakarta: Haji Masagung, 1988).
Raihani, Kepemimpinan Sekolah
Transformatif, (Yogyakarta: LKiS, 2011).
Rohmat, Kepemimpinan Pendidikan,
(Purwokerto: STAIN Press Purwokerto, 2010).
Rusdiana, Konsep Inovasi Pendidikan,
(Bandung: Pustaka Setia, 2014).
Shulhan, Muwahid, Model Kepemimpinan
Kepala Madrasah Dalam Meningkatkan Kinerja Guru, (Yogyakarta: Teras, 2013).
Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala
Sekolah, Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya, (Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2003).
[1] Imam Machali, Kepemimpinan Pendidikan dan Pembangunan
Karakter, (Yogyakarta: Pedagogia, 2012). Hlm. 4.
[3] Hadari Nawawi, Administrasi Pendidikan, (Jakarta: Haji
Masagung, 1988). Hlm. 81.
[4] Suharsimi Arikunto, Organisasi dan Administrasi Pendidikan
Teknologi dan Kejuruan, (Jakarta: Rajawali Pers, 1990). hlm. 183.
[6] Muwahid Shulhan, Model Kepemimpinan Kepala Madrasah Dalam
Meningkatkan Kinerja Guru, (Yogyakarta: Teras, 2013), hlm. 11.
[7] Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah, Tinjauan
Teoritik dan Permasalahannya, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), hlm. 83.
[8] Kartini Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan, (Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada, 2001), hlm.
71-80.
[9] Marno dan Triyo Supriyatno, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam,
(Bandung: Refika Aditama, 2008), hlm.
177.
[13] Ahmad khoiri, Manajemen Strategik dan Mutu Pendidikan
Islam, Manageria: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, UIN SUKA Yogyakarta,
2016. Vol. 1, No. 1, hlm.
79.
[14] Atika dan Imam Machali, Segmentasi dan Positioning Jasa Pendidikan
di MAN Yogyakarta III, Manageria: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, UIN
SUKA Yogyakarta, 2016. Vol. 1, No. 2, hlm. 154.

0 Response to "TEORI KEPEMIMPINAN DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM"
Post a Comment