HAKIKAT FITRAH MANUSIA DALAM PENDIDIKAN ISLAM DAN TEORI PENGEMBANGANNYA (filsafat Pendidikan Islam)

HAKIKAT FITRAH MANUSIA DALAM PENDIDIKAN ISLAM DAN TEORI PENGEMBANGANNYA
(filsafat Pendidikan Islam)





ABSTRAK
Pada dasarnya, setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Hal ini berarti, manusia dilahirkan dalam keadaan sama-sama lemah meskipun menyimpan potensi besar. Namun  bukan bermaksud manusia ketika dilahirkan, bagaikan kertas putih kosong. Hal ini karena manusia memiliki kemampuan yang berupa kecenderungan-kecenderungan tertentu yang berkaitan dengan daya nalar, mental, maupun psikisnya yang berbeda-beda macam dan tingkatannya. Pemahaman para ahli pendidikan Islam terhadap hakikat fitrah membawa implikasi lahirnya teori fitrah dalam pendidikan yang berlandaskan atau berdasarkan pada Alquran dan hadist. Dalam konteks pendidikan, teori tersebut menjadi pijakan dalam mengembangan fitrah manusia. Dalam hal ini, proses pendidikan menjadi penting untuk ditingkatkan kualitasnya karena ia merupakan salah satu sarana yang dapat menumbuhkankembangkan potensi-potensi yang ada dalam diri manusia sesuai dengan fitrah penciptaannya yang sesuai dengan apa yang dijelaskan dalam Al Qur‟an dan Hadits.

Kata Kunci  : Hakikat, Fitrah, Manusia










PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan dalam arti yang luas adalah meliputi segala perbuatan atau semua usaha dari generasi tua untuk melimpahkan pengetahuannya, pengalamannya, kecakapan serta keterampilannya kepada generasi muda, sebagai usaha untuk menyiapkan mereka agar dapat memenuhi fungsi hidupnya, baik jasmaniyah maupun rohaniyah.[1]
Manusia dalam pendidikan, menempati posisi paling sentral, selain dipandang sebagai subjek, manusia juga dipandang sebagai objek pendidikan itu sendiri. Sebagai subjek manusia memnentukan corak dan arah pendidikan. Pendidikan diadakan untuk manusia, maka wajar kalau manusialah yang merekayasa pendidikan itu untuk kemaslahatan dirinya dan kemanfaatan peradaban.[2]
Pada hakikatnya manusia itu terlahir dalam keadaan fitrah atau suci. Manusia diciptakan oleh Allah dengan bermacam-macam perbedaan, yang disebabkan oleh perbedaan keturunan dari masing-masing orangtua. Manusia merupakan makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain, lingkungan sekitar dan tidak bisa hidup sendiri. Manusia membutuhkan lingkungan sebagai sarsana untuk mengembangkan dirinya. Dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, lingkungan mempunyai peranan yang sangat penting. Manusia mempunyai kebebasan dalam segala hal, namun kebebasan itu harus lah kebebasan yang bertanggung jawab dan tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat. Antara hereditas, lingkungan dan kebebasan merupakan kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Ketiganya mempunyai andil dalam penentuan nasib atau sikap manusia.[3]
Dalam hubungannya dengan proses kependidikan yang berlaku bagi manusia itu, menurut ajaran islam dipandang sebagai suatu perkembangan alamiah manusia, yaitu proses yang harus terjadi terhadap diri manusia.[4]
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa Yang dimaksud dengan hakikat Fitrah Manusia dalam Pendidikan Islam ?
2.      Bagaimana teori pengembangannya ?
C.    Metodologi Penelitian
1.      Jenis Penelitian
Penelitian ini dapat digolongkan ke dalam penelitian perpustakaan (library research), yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara mengadakan studi atau penelaahan secara teliti terhadap buku-buku atau literatur yang berkaitan dengan pokok permasalahan yang akan dibahas.
            Menurut Noeng Muhadjir, studi pustaka setidaknya dapat dibedakan menjadi dua. Pertama, studi pustaka yang memerlukan uji kebermaknaan empiris di lapangan, dan yang kedua studi pustaka yang lebih  memerlukan olahan filosofis dan teoritis dari pada uji empiris.[5] Adapun penelitian ini termasuk pada jenis penelitian yang kedua.
2.      Sumber Data
a.       Sumber Data Primer
Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan, maka yang menjadi sumber primer peneitian ini adalah sumber yang berkaitan dengan filsafat Pendidikan Islam. Penulis menggunakan buku yang berjudul Filsafat Pendidikan Islam menju Pembentukan Karakter Meghadapi arus Global, karya Prof. Dr. H. Maragustam, M.A. (Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta, 2016), Filsafat Pendidikan Islam Karya Prof. H. Muzayyin Arifin, M.Ed., (Jakarta: Bumi Aksara, 2014).
b.      Sumber Data Sekunder
Adapun yang menjadi data sekunder pada penelitian ini adalah buku-buku atau majalah, artikel atau hasil penelitian yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas.
3.      Metode Pengumpulan Data
Sesuai dengan jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian kepustakaan, maka metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi yang dilakukan secara mencari, memilih, menyajikan dan menganalisis data dari literatur atau sumber-sumber yang berkaiytan dengan pembahasan yang diteliti.[6]
4.      Pendekatan Penelitian
Pendekata ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yakni penelitian yang ditujukan untuk mengumpulkan fakta dan menguraikan secara menyeluruh dan teliti dengan persoalan yang akan dibahas.[7]


5.      Metode Analisis
Adapaun ,etode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis isi (content analys).
PEMBAHASAN
A.    Pengertian dan Hakikat Fitrah Manusia
1.      Pengertian Fitrah
Secara etimologi berasal dari kosa kata bahasa Arab yakni fa-tha-ra yang berarti “kejadian”, oleh karena kata fitrahitu berasal dari kata kerja yang berarti menjadikan. Pada pengertian lain interpretasi fitrah secara etimologis berasal dari kata fathara yang sepadan dengan kata khalaqa dan ansya‟a yang artinya mencipta. Biasanya kata fathara, khalaqa dan ansy’a digunakan dalam Al Qur‟an untuk menunjukkan pengertian mencipta, menjadikan sesuatu yang sebelumnya belum ada dan masih merupakan pola dasar yang perlu penyempurnaan.[8] Dalam Kamus al Munjid diterangkan bahwa makna harfiah dari fitrah adalah al Ibtida‟u wa al ikhtira’u, yakni al shifat allati yattashifu biha kullu maujudin fi awwali zamani khalqihi. Makna lain adalah shifatu al insani al thabi’iyah.
Lain daripada itu ada yang bermakna al dinu wa al sunnah. Mengenai kata fitrah menurut istilah (terminologi) dapat dimengerti dalam uraian arti yang luas, sebagai dasar pengertian itu tertera pada surah al-Rum ayat 30, maka dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa pada asal kejadian yang pertama-pertama diciptakan oleh Allah adalah Islam sebagai pedoman atau acuan, di mana berdasarkan acuan inilah manusia diciptakan dalam kondisi terbaik. Oleh karena aneka ragam faktor negatif yang mempengaruhinya, maka posisi manusia dapat “bergeser” dari kondisi fitrah-nya, untuk itulah selalu diperlukan petunjuk, peringatan dan bimbingan dari Allah yang disampaikanNya melalui Rasul-Nya.[9]
Al-Ghazali mempunyai formulasi sendiri dalam memahami fitrah. Menurut Al-Ghazali fitrah adalah suatu sifat dasar manusia yang dibekali sejak lahir dengan memiliki keistimewaan-keistimewaan[10] sebagai berikut:
 1. beriman kepada Allah. Ini dipertegas dalam ayat Al Qur‟an, surat Ar-Ruum ayat 30. Dengan ayat tersebut Al-Ghazali menginterprestasikan bahwa setiap manusia diciptakan atas dasar tauhid (keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa), fitrah berarti beriman kepada Allah. Fitrah ini diciptakan Allah pada diri manusia karena dianggap sesuai dengan tabiat dasar manusia, yang bertendensi kepada agama tauhid. Al-Ghazali mempertegas dalamkitabnya “Mizanul Amal” : “Katakanlah bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, sesungguhnya manusia itu tentu mempercayai adanya Tuhan, hanya saja mereka keliru dalam kenyataan dan dalam sifatnya”.
2. Kemampuan dan kesediaan untuk menerima kebaikan dan keburukan atau dasar kemampuan untuk menerima pendidikan dan pengajaran. Pendapat ini berlandaskan pada hadist : “Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, hanya kedua orang tuanyalah yang menjadikan Yahudi atau Nasrani ataupun Majusi.
3. Dorongan ingin tahu untuk mencari hakikat kebenaran yang merupakan daya untuk berpikir. Setiap manusia diciptakan dengan membawa dorongan rasa keingin tahuannya terhadap sesuatu, namun apakah keingintahuan itu digunakan dengan benar atau tidak adalah tergantung dari kebiasaan, pelatihan dan lingkunganya. Dalam Mizanul Amal Al-Ghazali menuliskan: “Adapun keistimewaan manusia yang karenanya ia diciptakan Allah adalah memiliki akal dan kekuatan menemukan hakekat perkara”.



2.      Hakikat Fitrah Manusia
Muhaimin menyebutkan ada beberapa macam fitrah manusia diantaranya:[11]
a.        Fitrah beragama; Fitrah ini merupakan potensi bawaan yang memberikan kemampuan kepada manusia untuk tunduk, taat melaksanakan  perintah Tuhan sebagai pencipta, penguasa dan pemelihara alam semesta.Jika dipandang dalam agama islam fitrah yang dimaksud yakni fitrah iman
b.         Fitrah iman yang berkembang dengan baik kemudian menjadi hamba yang beriman dan taat pada aturan Allah, bisa ditelusuri melalui ayat-ayat Al Qur‟an dan hadist tentang bagaimana profil pribadi individu yang fitrahnya dengan baik dan faktor apa sebenarnya yang menyebabkan individu bisa berkembang sehingga menjadi pribadi yang kaffah.[12] Esensi fitrah manusia mengakui keesaan Allah dan taat kepada Allah, seperti yang terdapat dalam al QurAan yang  artinya: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anakanak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)". Dari esensi fitrah nampak bahwa fitrah manusia tercakup dalam  Islam dan ikhsan  artinya fitrah manusia sejak lahir bukan hanya menyakini bahwa Allah adalah Maha Esa, tetapi lebih dari  itu kesediaan diri untuk melaksanakan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala larangannya. Bahwa Allah telah membekali pada setiap individu dengan fitrah jasmani, fitrah rohani dan fitrah nafs serta potensi alam untuk manusia. Disamping itu juga diutusnya para rasul dengan membawa kitab suci sebagai pedoman. Pertanyaan yang muncul jika esensi fitrah manusia adalah iman kepada Allah dan tunduk kepadanya. Setiap saat individu memberi mamfaat kepada lingkungan sekitarnya dengan izin Allah. Fitrah yang berkembang digambarkan sebagai pohon  yang baik yaitu pohon yang memberikan buahnya pada saat setiap musim dengan seizin allah  yaitu pohon kurma. Pohon kurma digambarkan oleh Allah sebagai pohon yang baik digambarkan sebagai pribadi orang muslim. 
c.          Fitrah berakal budi Fitrah ini adalah  potensi yang dimiliki manusia untuk selalu berpikir sambil mengingat Allah untuk memahami  persoalan kekuasaan dan keagungan Allah yang terlihat dari keserasian, keseimbangan dan kehebatan di alam semesta.Akal sebagai potensi bawaan, jika difungsikan secara optimal akan mampu mengakses ilmu pengetahuan serta dapat membedakan antara yang baik dan buruk, disamping adanya kesadaran akan hak dan keawajibanmanusia untuk dilaksanakan dan dipatuhi seoptimal mungkin.[13] Akal juga merupakan jalinan antara rasa dan rasio sehingga ia mampu menerima segala sesuatu baik yang bersifat indrawi maupun sesuatu diluar pengalaman empiris. Karena masih merupakan potensi bawaan, maka upaya untuk “mengembangkan” potensi dasar tersebut adalah suatu keharusan. Tanpa adanya upaya untuk membina, mendidik, mengarahkan dan mengembangkan potensi dasar tersebut, maka cita-cita menuju terciptanya insan kamil yang mampu untuk mengemban amanah sebagai khalifah fi al-ardh akan jauh dari kenyataan. 
d.         Fitrah bermoral dan berakhlak Fitrah ini adalah potensi yang dimiliki oleh manusia untuk melaksanakan dengan penuh komitmen nilai-nilai moral dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Terutama dalam berkehidupan sosial dalam masyarakat, nilai-nilai moral sangatlah berpengaruh penting dalam menjalankan interaksi sosial yang terjadi pada masyarakat, jika proses interaksi itu baik dengan manjalankan nilai-nilai moral yang berlaku dan individu dapat melaknsanakannya dengan baik, akan terjadi kehidupan yang damai dan nyaman.
3.      Teori Nativisme, Empirisme dan Kovergensi
a.       Teori Nativisme yang dipelopori oleh Arthur Schopenhauer (1788-1860) mengatakan bahwa perkembangan pribadi hanya ditentukan oleh bawaan (kemampuan dasar), bakat serta faktor endogen yang bersifat kodrati.[14]
b.      Teori empirisme mengatakan bahwa perkembangan dan pembentukan  manusia itu ditentukan oleh faktor-faktor lingkungan, termasuk pendidikan.[15]
c.       Teori Konvergensi
Teori Konvergensi yang dipelopori oleh William Stem ini mwngatakan bahwa perkembangan manusia itu berlangsung atas pengaruh dari faktor-faktor bakat/kemampuan dasar dan faktor alam sekitar.[16]
4.      Aliran Pendidikan Islam dalam Perspektif Islam
a.       Teori Fatalis-Pasif, mempercayai bahwa setiap individu melalui ketetapan Allah adalah baik atau jahat secara asal, baik ketetapan semacam ini terjadi secara semuanya atau sebagian sesuai dengan rencana Tuhan. Faktor-faktor eksternal tidak terlalu mempengaruhi terhadap penentuan nasib seseorang.[17]
b.      Teori Netral-Pasif, mengatakan bahwa anak lahir dalam kadaan suci, utuh dan sempurna, siatu keadaan kosong sebagaimana adanya, tanpa kesadaran iman atau kufur, baik atau jahat. Ini sama dengan teori tabularasa dari John Locke. Manusia terlahir seperti kertas putih tanpa sesuatu goresan apapun.[18]
c.       Teori positif-aktif, yakni bawaan dasar atau sifat manusia sejak lahir adalah baik, sedangkan kejahatan bersifat aksidental.[19]
d.      Teori dualis-aktif, berpandangan bahwa manusia sejak awalya membawa sifat ganda. Di satu sisi cenderung kepada kebaikan dan di sisi lain cenderung kepada kejahatan.[20]
5.      Implikasi Perkembanganya
Konsep  fitrah sebagai konsep perkembangan baru yang berwawasan Islam dalam menopang bidang keilmuan. Dalam hal ini dapat dipahami bahwa fitrah kehidupan manusia adalah ajang perkembangan psycho physic manusia sejak zaman azali sampai menembus kehidupan abadi. Allah sebagai Fathir manusia yang kemudian berposisi „abduhu  dan khalifatuhu, tentu dilengkapi dengan piranti-piranti internal dan ekternal dalam rangka memenuhi tuntutan kepatuhannya kepada sang Fathir dalam mecari ridha-Nya. Sementara kekhalifahannya dapat ia tunaikan dengan penuh amanah dalam rangka menciptakan kehidupan muthmainnah. Piranti internal itulah fitrah, yang di dalamnya memiliki dynamic human bila dirumuskan menjadi good active, bahwa fitrah manusia memiliki kebajikan bawaan aktif. Fitrah ini cenderung mengikuti nidzam Islami yang tidak lain adalah ad-din al-Islam, ad-din al-fithrah atau al-fithrah al-munazzalah, dan ini menjadi format dan arah perkembangan fitrah manusia mulai dari zaman azali sampai zaman abadi. Piranti eksternal yang berfungsi melengkapi fitrahnya ini ada dua macam. Piranti pertama adalah piranti positif eksternal yang melengkapi kebajikan bawaan yang berbentuk  nidzam Islami atau ad-din al-Islam atau ad-din al-fithrah. Selain itu Allah melengkapi dengan piranti yang berbentuk prototype sebagai uswah hasanah yang nyata, sebagai panutan yaitu manusia universal (insan kamil) yang tidak lain adalah para anbiya‟ umumnya dan Muhammad Rasulullah SAW khususnya. Piranti kedua adalah piranti negatif eksternal yang harus dikendalikan. Dengan demikian, agar fitrah manusia selalu bersesuaian dengan ad-din al-Islami, mencapai derajat tertinggi; nafsul muthmainnah yang berpotensi mengendalikan piranti negatif eksternal, maka diperlukan upaya-upaya dalam bentuk jihad. Salah satu wujud jihad itu adalah hadirnya pendidikan Islam yang efektif dan fungsional. Selain itu, kebajikan bawaan aktif dalam fitrah perlu diawali sejak dini dengan didikan orang tua. Untuk mendukung hal ini, kajian-kajian  psycho physic manusia seperti psycho analisis, psikologi kognitif, kajian belajar sosial, etologi, ekologi, eklektis, dan humanistic transpersonal tetap diperlukan dalam kajian pengembangan fitrah manusia sebagai abdi dan khalifah Allah. Sehingga, kajian tentang fitrah manusia menjadi antropologi humanisme yang theosentris dimana tetap mengedepankan keagungan Allah sebagai Fathir namun telaahnya terpusat pada sisi manusia, jelas promovendusnya. Sumber daya manusia yang berkualitas adalah yang mampu membawa manusia kembali kepada fitrahnya sebagai khalifah di muka bumi ini sesuai dengan aturan Allah SWT dan Rasul-Nya. Yaitu manusia yang mempunyai sifat amanah, sifat peduli dengan masyarakat, mempunyai pengetahuan untuk memberi jasa dalam menanggulangi kesengsaraan, serta bersifat amar ma‟ruf nahi munkar.
Untuk menciptakan SDM yang baik diperlukan kesadaran yang tinggi dari semua pihak seperti cendikiawan, pemerintah, dan semua potensi yang memungkinkan untuk dapat mengubah SDM itu. Salah satu anjuran dalam al-Qur‟an adalah menafkahkan sebagian harta mereka terhadap sesama muslim yang membutuhkan demi peningkatan dan pemenuhan biaya pendidikan bagi yang membutuhkan. Selain itu umat Islam juga harus bersatu dan memiliki kepedulian kepada bangsa dan agama, juga harus bekerja keras dan terbuka dalam menghadapi tantangan dari pihak sesama muslim maupun dari luar. Unsur-unsur yang dapat membentuk
SDM Islam yang berkualitas adalah :
 1. Jiwa yang terdiri dari roh, kalbu, dan nafsu yang berorientasi pada pembentukan jiwa manusia yang memakmurkan agamaIslam yang berdasar pada nilai-nilai ilahiyah yang tersirat dan tersurat dalam al-Qur‟an.
2. Akal (nalar) yang menekankan pada sejauh mana manusia itu mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
3. Tubuh yang terdiri dari syaraf, pembuluh darah, tulang belulang, kepala, dan leher, badan (dalam arti lambung, hati, empedu dan lain-lain), tangan dan kaki dengan segala komponennya yang membutuhkan gizi yang cukup serta olah raga yang teratur.
Hal inilah nantinya menjadi pokok dalam proses belajar mengajar serta lingkungan yang mempengaruhi sehingga SDM itu mampu menghasilkan umat yang professional.  Dari ketiga unsur pokok SDM tersebut, ada hal lain yang cukup berpengaruh yaitu kondisi lingkungan keluarga dan masyarakat yang kondusif sehingga SDM yang berkualitas akan muncul dan generasi umat manusia semakin lama semakin berkembang sesuai dengan tuntutan zaman.
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Hal ini berarti, secara fisiknya, semua manusia dilahirkan dalam keadaan samasama lemah, namun bukan berarti ia bagaikan kertas putih atau kosong seperti yang dikatakan John lock atau tak berdaya seperti pandangannya jabariyah. Hal ini karena manusia memiliki potensi yang berupa kecenderungankecenderungan tertentu yang menyangkut daya nalar, mental, maupun psikisnya yang berbedabeda jenis dan tingkatannya. Pada  beberapa ayat Al Qur‟an, Hadits, maupun keterangan para ulama da para mufassir, hampir semuanya memperkuatkan adanya fitrah yang telah dibawa sejak lahir. Hanya saja eksistensi fitrah ini akan lain ketika lahir dan berkembang hingga dewasa.  Oleh karena itu, dibutuhkan pendidikan sebagai salah satu sarana yang dapat menumbuhkankembangkan potensi-potensi yang ada dalam diri manusia sesuai dengan fitrah penciptaannya. Sehingga pada gilirannya, mampu berperan dan dapat mendatangkan manfaat dalam berbagai aspek kehidupan. Jadi, tujuan dari pendidikan itu pada dasarnya adalah ingin menimbulkan atau menyempurnakan perilaku dan membina kebiasaan sehingga siswa terampil menjawab tantangan situasi hidup secara manusiawi. Sementara itu, pemahaman terhadap hakikat fitrah dalam AlQur‟an ternyata membawa implikasi lahirnya teori fitrah dalam pendidikan. Pemahaman  mengenai bawaan dasar fitrah manusia dan bagaimana kemampuannya untuk berkembang dapat dikelompokkan menjadi empat yaitu fatalis-pasif, netral-pasif, positifaktif dan dualis-aktif. Agar fitrah manusia selalu dalam searah dengan ad-din alIslami, dan mencapai tingkatan nafsul muthmainnah, diperlukan upaya-upaya dalam bentuk jihad. Salah satu wujud jihad itu adalah mengusahakan sebuah proses pendidikan Islam yang efektif dan fungsional. Oleh karena itu, proses pendidikan yang menanamkan kebajikan bawaan aktif dalam fitrah, perlu diawali sejak dini. Di sinilah pentingnya pendidikan keluarga oleh orang tua. Sehingga, pada akhirnya, umat  Islam akan menjadi sebaik-baik umat (khoirah ummah). Wallahu a‟lam bi al-shawab. 


























DAFTAR PUSTAKA



[1] Zuhairi, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1995. Hlm. 92

[2]Maragustam, Filsafat Pendidikan Islam menuju Pembentukan Karakter Menghadapi  Arus Global. Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta, 2016. Hlm. 7.
[3] Diyah Puspitasari, Hakikat hereditas, Lingkungan dan Kebebasan Manusia. E-learning

[4] Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2014. Hlm. 55.

[5] Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Rake Sarasin, 1996. Hlm. 159
[6] Arief Furchan dan Agus Maimun, Studi tokoh: Metode Penelitian Mengenai Tokoh. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005. Hlm. 55

[7] Koentjaraningrat, Metode Penelitian Masyarakat, Jakarta: Gramedia, 1991. Hlm. 48.
[8] Salik, Mengembangkan Fitrah Anak Melalui Pendidikan Islam (Studi Atas Pemikiran Hamka). Hlm. 4.

[9] Rif‟at Syauqi Nawawi, Konsep Manusia Menurut Al-Quran Dalam Metodologi Psikologi Islam. Hlm. 67.
[10] Farah and Novianti, Fitrah Dan Perkembangan Jiwa Manusia Dalam Perspektif Al-Ghazali.  Hlm. 194–95,
[11] Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, Upaya Mengaktifkan Pendidikan Agama Islam  Di Sekolah, 18–19.

[12] Siregar, Pengembangan Fitrah Manusia Melalui Konseling Islam. Hlm. 5.
[13] Fadlali, Fitrah Akliyah Dalam Pendidikan Islam. Hlm.  170–71
[14] Maragustam, Filsafat Pendidikan Islam menuju Pembentukan Karakter Menghadapi  Arus Global. Hlm. 101
[15] Ibid.,

[16] Ibid.,

[17] Ibid., hlm. 124.
[18] Ibid., hlm. 126

[19] Ibid., hlm. 127

[20] Ibid., hlm. 129.

0 Response to "HAKIKAT FITRAH MANUSIA DALAM PENDIDIKAN ISLAM DAN TEORI PENGEMBANGANNYA (filsafat Pendidikan Islam)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel