HAKIKAT FITRAH MANUSIA DALAM PENDIDIKAN ISLAM DAN TEORI PENGEMBANGANNYA (filsafat Pendidikan Islam)
HAKIKAT FITRAH MANUSIA DALAM PENDIDIKAN ISLAM DAN TEORI
PENGEMBANGANNYA
(filsafat Pendidikan Islam)
ABSTRAK
Pada dasarnya, setiap manusia
dilahirkan dalam keadaan fitrah. Hal ini berarti, manusia dilahirkan dalam
keadaan sama-sama lemah meskipun menyimpan potensi besar. Namun bukan bermaksud manusia ketika dilahirkan,
bagaikan kertas putih kosong. Hal ini karena manusia memiliki kemampuan yang
berupa kecenderungan-kecenderungan tertentu yang berkaitan dengan daya nalar,
mental, maupun psikisnya yang berbeda-beda macam dan tingkatannya. Pemahaman
para ahli pendidikan Islam terhadap hakikat fitrah membawa implikasi lahirnya
teori fitrah dalam pendidikan yang berlandaskan atau berdasarkan pada Alquran
dan hadist. Dalam konteks pendidikan, teori tersebut menjadi pijakan dalam
mengembangan fitrah manusia. Dalam hal ini, proses pendidikan menjadi penting
untuk ditingkatkan kualitasnya karena ia merupakan salah satu sarana yang dapat
menumbuhkankembangkan potensi-potensi yang ada dalam diri manusia sesuai dengan
fitrah penciptaannya yang sesuai dengan apa yang dijelaskan dalam Al Qur‟an dan
Hadits.
Kata Kunci : Hakikat,
Fitrah, Manusia
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pendidikan dalam arti yang luas adalah meliputi segala
perbuatan atau semua usaha dari generasi tua untuk melimpahkan pengetahuannya,
pengalamannya, kecakapan serta keterampilannya kepada generasi muda, sebagai
usaha untuk menyiapkan mereka agar dapat memenuhi fungsi hidupnya, baik jasmaniyah maupun rohaniyah.[1]
Manusia dalam pendidikan, menempati posisi paling
sentral, selain dipandang sebagai subjek, manusia juga dipandang sebagai objek
pendidikan itu sendiri. Sebagai subjek manusia memnentukan corak dan arah
pendidikan. Pendidikan diadakan untuk manusia, maka wajar kalau manusialah yang
merekayasa pendidikan itu untuk kemaslahatan dirinya dan kemanfaatan peradaban.[2]
Pada hakikatnya manusia itu terlahir dalam keadaan fitrah
atau suci. Manusia diciptakan oleh Allah dengan bermacam-macam perbedaan, yang
disebabkan oleh perbedaan keturunan dari masing-masing orangtua. Manusia
merupakan makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain, lingkungan sekitar
dan tidak bisa hidup sendiri. Manusia membutuhkan lingkungan sebagai sarsana
untuk mengembangkan dirinya. Dalam proses pertumbuhan dan perkembangan,
lingkungan mempunyai peranan yang sangat penting. Manusia mempunyai kebebasan
dalam segala hal, namun kebebasan itu harus lah kebebasan yang bertanggung
jawab dan tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku di dalam
masyarakat. Antara hereditas, lingkungan dan kebebasan merupakan kesatuan yang
tidak bisa dipisahkan. Ketiganya mempunyai andil dalam penentuan nasib atau
sikap manusia.[3]
Dalam hubungannya dengan proses kependidikan yang berlaku
bagi manusia itu, menurut ajaran islam dipandang sebagai suatu perkembangan
alamiah manusia, yaitu proses yang harus terjadi terhadap diri manusia.[4]
B. Rumusan
Masalah
1.
Apa
Yang dimaksud dengan hakikat Fitrah Manusia dalam Pendidikan Islam ?
2.
Bagaimana
teori pengembangannya ?
C. Metodologi
Penelitian
1.
Jenis
Penelitian
Penelitian ini dapat digolongkan ke dalam penelitian
perpustakaan (library research),
yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara mengadakan studi atau penelaahan secara
teliti terhadap buku-buku atau literatur yang berkaitan dengan pokok
permasalahan yang akan dibahas.
Menurut Noeng Muhadjir, studi
pustaka setidaknya dapat dibedakan menjadi dua. Pertama, studi pustaka yang
memerlukan uji kebermaknaan empiris di lapangan, dan yang kedua studi pustaka
yang lebih memerlukan olahan filosofis
dan teoritis dari pada uji empiris.[5]
Adapun penelitian ini termasuk pada jenis penelitian yang kedua.
2.
Sumber
Data
a.
Sumber
Data Primer
Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan, maka
yang menjadi sumber primer peneitian ini adalah sumber yang berkaitan dengan
filsafat Pendidikan Islam. Penulis menggunakan buku yang berjudul Filsafat Pendidikan Islam menju Pembentukan
Karakter Meghadapi arus Global, karya Prof. Dr. H. Maragustam, M.A.
(Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta, 2016), Filsafat
Pendidikan Islam Karya Prof. H. Muzayyin Arifin, M.Ed., (Jakarta: Bumi
Aksara, 2014).
b.
Sumber
Data Sekunder
Adapun yang menjadi data sekunder pada penelitian ini
adalah buku-buku atau majalah, artikel atau hasil penelitian yang berkaitan
dengan permasalahan yang dibahas.
3.
Metode
Pengumpulan Data
Sesuai dengan jenis penelitian yang digunakan yaitu
penelitian kepustakaan, maka metode pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode dokumentasi yang dilakukan secara mencari,
memilih, menyajikan dan menganalisis data dari literatur atau sumber-sumber
yang berkaiytan dengan pembahasan yang diteliti.[6]
4.
Pendekatan
Penelitian
Pendekata ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yakni penelitian yang ditujukan untuk
mengumpulkan fakta dan menguraikan secara menyeluruh dan teliti dengan
persoalan yang akan dibahas.[7]
5.
Metode
Analisis
Adapaun ,etode analisis yang digunakan dalam penelitian
ini adalah metode analisis isi (content
analys).
PEMBAHASAN
A.
Pengertian dan Hakikat Fitrah Manusia
1. Pengertian
Fitrah
Secara etimologi
berasal dari kosa kata bahasa Arab yakni fa-tha-ra yang berarti “kejadian”,
oleh karena kata fitrahitu berasal dari kata kerja yang berarti menjadikan.
Pada pengertian lain interpretasi fitrah secara etimologis berasal dari kata
fathara yang sepadan dengan kata khalaqa dan ansya‟a yang artinya mencipta.
Biasanya kata fathara, khalaqa dan ansy’a digunakan dalam Al Qur‟an untuk
menunjukkan pengertian mencipta, menjadikan sesuatu yang sebelumnya belum ada
dan masih merupakan pola dasar yang perlu penyempurnaan.[8]
Dalam Kamus al Munjid diterangkan bahwa makna harfiah dari fitrah adalah al Ibtida‟u wa al ikhtira’u, yakni al shifat allati yattashifu biha kullu
maujudin fi awwali zamani khalqihi. Makna lain adalah shifatu al insani al thabi’iyah.
Lain daripada itu
ada yang bermakna al dinu wa al sunnah. Mengenai
kata fitrah menurut istilah (terminologi) dapat dimengerti dalam uraian arti
yang luas, sebagai dasar pengertian itu tertera pada surah al-Rum ayat 30, maka
dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa pada asal kejadian yang pertama-pertama
diciptakan oleh Allah adalah Islam sebagai pedoman atau acuan, di mana berdasarkan
acuan inilah manusia diciptakan dalam kondisi terbaik. Oleh karena aneka ragam
faktor negatif yang mempengaruhinya, maka posisi manusia dapat “bergeser” dari
kondisi fitrah-nya, untuk itulah selalu diperlukan petunjuk, peringatan dan
bimbingan dari Allah yang disampaikanNya melalui Rasul-Nya.[9]
Al-Ghazali
mempunyai formulasi sendiri dalam memahami fitrah. Menurut Al-Ghazali fitrah
adalah suatu sifat dasar manusia yang dibekali sejak lahir dengan memiliki
keistimewaan-keistimewaan[10]
sebagai berikut:
1. beriman kepada Allah. Ini dipertegas dalam
ayat Al Qur‟an, surat Ar-Ruum ayat 30. Dengan ayat tersebut Al-Ghazali
menginterprestasikan bahwa setiap manusia diciptakan atas dasar tauhid
(keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa), fitrah berarti beriman kepada Allah.
Fitrah ini diciptakan Allah pada diri manusia karena dianggap sesuai dengan
tabiat dasar manusia, yang bertendensi kepada agama tauhid. Al-Ghazali
mempertegas dalamkitabnya “Mizanul Amal” : “Katakanlah bahwa tiada Tuhan yang
berhak disembah kecuali Allah, sesungguhnya manusia itu tentu mempercayai
adanya Tuhan, hanya saja mereka keliru dalam kenyataan dan dalam sifatnya”.
2. Kemampuan dan
kesediaan untuk menerima kebaikan dan keburukan atau dasar kemampuan untuk
menerima pendidikan dan pengajaran. Pendapat ini berlandaskan pada hadist :
“Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, hanya kedua orang tuanyalah
yang menjadikan Yahudi atau Nasrani ataupun Majusi.
3. Dorongan ingin
tahu untuk mencari hakikat kebenaran yang merupakan daya untuk berpikir. Setiap
manusia diciptakan dengan membawa dorongan rasa keingin tahuannya terhadap
sesuatu, namun apakah keingintahuan itu digunakan dengan benar atau tidak
adalah tergantung dari kebiasaan, pelatihan dan lingkunganya. Dalam Mizanul
Amal Al-Ghazali menuliskan: “Adapun keistimewaan manusia yang karenanya ia
diciptakan Allah adalah memiliki akal dan kekuatan menemukan hakekat perkara”.
2. Hakikat
Fitrah Manusia
Muhaimin
menyebutkan ada beberapa macam fitrah manusia diantaranya:[11]
a.
Fitrah beragama; Fitrah ini merupakan potensi
bawaan yang memberikan kemampuan kepada manusia untuk tunduk, taat
melaksanakan perintah Tuhan sebagai
pencipta, penguasa dan pemelihara alam semesta.Jika dipandang dalam agama islam
fitrah yang dimaksud yakni fitrah iman
b.
Fitrah
iman yang berkembang dengan baik kemudian menjadi hamba yang beriman dan taat
pada aturan Allah, bisa ditelusuri melalui ayat-ayat Al Qur‟an dan hadist
tentang bagaimana profil pribadi individu yang fitrahnya dengan baik dan faktor
apa sebenarnya yang menyebabkan individu bisa berkembang sehingga menjadi
pribadi yang kaffah.[12]
Esensi fitrah manusia mengakui keesaan Allah dan taat kepada Allah, seperti
yang terdapat dalam al QurAan yang
artinya: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anakanak
Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka
(seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab:
"Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang
demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya
Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan
Tuhan)". Dari esensi fitrah nampak bahwa fitrah manusia tercakup
dalam Islam dan ikhsan artinya fitrah manusia sejak lahir bukan
hanya menyakini bahwa Allah adalah Maha Esa, tetapi lebih dari itu kesediaan diri untuk melaksanakan apa
yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala larangannya. Bahwa Allah telah
membekali pada setiap individu dengan fitrah jasmani, fitrah rohani dan fitrah
nafs serta potensi alam untuk manusia. Disamping itu juga diutusnya para rasul
dengan membawa kitab suci sebagai pedoman. Pertanyaan yang muncul jika esensi
fitrah manusia adalah iman kepada Allah dan tunduk kepadanya. Setiap saat
individu memberi mamfaat kepada lingkungan sekitarnya dengan izin Allah. Fitrah
yang berkembang digambarkan sebagai pohon
yang baik yaitu pohon yang memberikan buahnya pada saat setiap musim
dengan seizin allah yaitu pohon kurma.
Pohon kurma digambarkan oleh Allah sebagai pohon yang baik digambarkan sebagai
pribadi orang muslim.
c.
Fitrah
berakal budi Fitrah ini adalah potensi
yang dimiliki manusia untuk selalu berpikir sambil mengingat Allah untuk
memahami persoalan kekuasaan dan
keagungan Allah yang terlihat dari keserasian, keseimbangan dan kehebatan di
alam semesta.Akal sebagai potensi bawaan, jika difungsikan secara optimal akan
mampu mengakses ilmu pengetahuan serta dapat membedakan antara yang baik dan
buruk, disamping adanya kesadaran akan hak dan keawajibanmanusia untuk dilaksanakan
dan dipatuhi seoptimal mungkin.[13]
Akal juga merupakan jalinan antara rasa dan rasio sehingga ia mampu menerima
segala sesuatu baik yang bersifat indrawi maupun sesuatu diluar pengalaman
empiris. Karena masih merupakan potensi bawaan, maka upaya untuk “mengembangkan”
potensi dasar tersebut adalah suatu keharusan. Tanpa adanya upaya untuk
membina, mendidik, mengarahkan dan mengembangkan potensi dasar tersebut, maka
cita-cita menuju terciptanya insan kamil yang mampu untuk mengemban amanah
sebagai khalifah fi al-ardh akan jauh dari kenyataan.
d.
Fitrah
bermoral dan berakhlak Fitrah ini adalah potensi yang dimiliki oleh manusia
untuk melaksanakan dengan penuh komitmen nilai-nilai moral dan akhlak dalam
kehidupan sehari-hari. Terutama dalam berkehidupan sosial dalam masyarakat,
nilai-nilai moral sangatlah berpengaruh penting dalam menjalankan interaksi
sosial yang terjadi pada masyarakat, jika proses interaksi itu baik dengan
manjalankan nilai-nilai moral yang berlaku dan individu dapat melaknsanakannya
dengan baik, akan terjadi kehidupan yang damai dan nyaman.
3. Teori
Nativisme, Empirisme dan Kovergensi
a.
Teori
Nativisme yang dipelopori oleh Arthur Schopenhauer (1788-1860) mengatakan bahwa
perkembangan pribadi hanya ditentukan oleh bawaan (kemampuan dasar), bakat
serta faktor endogen yang bersifat kodrati.[14]
b.
Teori
empirisme mengatakan bahwa perkembangan dan pembentukan manusia itu ditentukan oleh faktor-faktor
lingkungan, termasuk pendidikan.[15]
c.
Teori
Konvergensi
Teori
Konvergensi yang dipelopori oleh William Stem ini mwngatakan bahwa perkembangan
manusia itu berlangsung atas pengaruh dari faktor-faktor bakat/kemampuan dasar
dan faktor alam sekitar.[16]
4. Aliran
Pendidikan Islam dalam Perspektif Islam
a.
Teori
Fatalis-Pasif, mempercayai bahwa setiap individu melalui ketetapan Allah adalah
baik atau jahat secara asal, baik ketetapan semacam ini terjadi secara semuanya
atau sebagian sesuai dengan rencana Tuhan. Faktor-faktor eksternal tidak
terlalu mempengaruhi terhadap penentuan nasib seseorang.[17]
b.
Teori
Netral-Pasif, mengatakan bahwa anak lahir dalam kadaan suci, utuh dan sempurna,
siatu keadaan kosong sebagaimana adanya, tanpa kesadaran iman atau kufur, baik
atau jahat. Ini sama dengan teori tabularasa dari John Locke. Manusia terlahir
seperti kertas putih tanpa sesuatu goresan apapun.[18]
c.
Teori
positif-aktif, yakni bawaan dasar atau sifat manusia sejak lahir adalah baik,
sedangkan kejahatan bersifat aksidental.[19]
d.
Teori
dualis-aktif, berpandangan bahwa manusia sejak awalya membawa sifat ganda. Di
satu sisi cenderung kepada kebaikan dan di sisi lain cenderung kepada
kejahatan.[20]
5. Implikasi
Perkembanganya
Konsep fitrah
sebagai konsep perkembangan baru yang berwawasan Islam dalam menopang bidang
keilmuan. Dalam hal ini dapat dipahami bahwa fitrah kehidupan manusia adalah
ajang perkembangan psycho physic manusia sejak zaman azali sampai menembus
kehidupan abadi. Allah sebagai Fathir manusia yang kemudian berposisi
„abduhu dan khalifatuhu, tentu
dilengkapi dengan piranti-piranti internal dan ekternal dalam rangka memenuhi
tuntutan kepatuhannya kepada sang Fathir dalam mecari ridha-Nya. Sementara
kekhalifahannya dapat ia tunaikan dengan penuh amanah dalam rangka menciptakan
kehidupan muthmainnah. Piranti internal itulah fitrah, yang di dalamnya
memiliki dynamic human bila dirumuskan menjadi good active, bahwa fitrah
manusia memiliki kebajikan bawaan aktif. Fitrah ini cenderung mengikuti nidzam
Islami yang tidak lain adalah ad-din al-Islam, ad-din al-fithrah atau
al-fithrah al-munazzalah, dan ini menjadi format dan arah perkembangan fitrah
manusia mulai dari zaman azali sampai zaman abadi. Piranti eksternal yang
berfungsi melengkapi fitrahnya ini ada dua macam. Piranti pertama adalah
piranti positif eksternal yang melengkapi kebajikan bawaan yang berbentuk nidzam Islami atau ad-din al-Islam atau
ad-din al-fithrah. Selain itu Allah melengkapi dengan piranti yang berbentuk
prototype sebagai uswah hasanah yang nyata, sebagai panutan yaitu manusia
universal (insan kamil) yang tidak lain adalah para anbiya‟ umumnya dan
Muhammad Rasulullah SAW khususnya. Piranti kedua adalah piranti negatif
eksternal yang harus dikendalikan. Dengan demikian, agar fitrah manusia selalu
bersesuaian dengan ad-din al-Islami, mencapai derajat tertinggi; nafsul
muthmainnah yang berpotensi mengendalikan piranti negatif eksternal, maka
diperlukan upaya-upaya dalam bentuk jihad. Salah satu wujud jihad itu adalah
hadirnya pendidikan Islam yang efektif dan fungsional. Selain itu, kebajikan
bawaan aktif dalam fitrah perlu diawali sejak dini dengan didikan orang tua.
Untuk mendukung hal ini, kajian-kajian
psycho physic manusia seperti psycho analisis, psikologi kognitif,
kajian belajar sosial, etologi, ekologi, eklektis, dan humanistic transpersonal
tetap diperlukan dalam kajian pengembangan fitrah manusia sebagai abdi dan khalifah
Allah. Sehingga, kajian tentang fitrah manusia menjadi antropologi humanisme
yang theosentris dimana tetap mengedepankan keagungan Allah sebagai Fathir
namun telaahnya terpusat pada sisi manusia, jelas promovendusnya. Sumber daya
manusia yang berkualitas adalah yang mampu membawa manusia kembali kepada
fitrahnya sebagai khalifah di muka bumi ini sesuai dengan aturan Allah SWT dan
Rasul-Nya. Yaitu manusia yang mempunyai sifat amanah, sifat peduli dengan
masyarakat, mempunyai pengetahuan untuk memberi jasa dalam menanggulangi
kesengsaraan, serta bersifat amar ma‟ruf nahi munkar.
Untuk menciptakan SDM yang baik diperlukan kesadaran yang
tinggi dari semua pihak seperti cendikiawan, pemerintah, dan semua potensi yang
memungkinkan untuk dapat mengubah SDM itu. Salah satu anjuran dalam al-Qur‟an
adalah menafkahkan sebagian harta mereka terhadap sesama muslim yang
membutuhkan demi peningkatan dan pemenuhan biaya pendidikan bagi yang
membutuhkan. Selain itu umat Islam juga harus bersatu dan memiliki kepedulian
kepada bangsa dan agama, juga harus bekerja keras dan terbuka dalam menghadapi
tantangan dari pihak sesama muslim maupun dari luar. Unsur-unsur yang dapat
membentuk
SDM Islam yang berkualitas adalah :
1. Jiwa yang
terdiri dari roh, kalbu, dan nafsu yang berorientasi pada pembentukan jiwa
manusia yang memakmurkan agamaIslam yang berdasar pada nilai-nilai ilahiyah
yang tersirat dan tersurat dalam al-Qur‟an.
2. Akal (nalar) yang menekankan pada sejauh mana manusia
itu mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
3. Tubuh yang terdiri dari syaraf, pembuluh darah, tulang
belulang, kepala, dan leher, badan (dalam arti lambung, hati, empedu dan
lain-lain), tangan dan kaki dengan segala komponennya yang membutuhkan gizi
yang cukup serta olah raga yang teratur.
Hal inilah nantinya menjadi pokok dalam proses belajar
mengajar serta lingkungan yang mempengaruhi sehingga SDM itu mampu menghasilkan
umat yang professional. Dari ketiga
unsur pokok SDM tersebut, ada hal lain yang cukup berpengaruh yaitu kondisi
lingkungan keluarga dan masyarakat yang kondusif sehingga SDM yang berkualitas
akan muncul dan generasi umat manusia semakin lama semakin berkembang sesuai
dengan tuntutan zaman.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Setiap manusia
dilahirkan dalam keadaan fitrah. Hal ini berarti, secara fisiknya, semua
manusia dilahirkan dalam keadaan samasama lemah, namun bukan berarti ia
bagaikan kertas putih atau kosong seperti yang dikatakan John lock atau tak
berdaya seperti pandangannya jabariyah. Hal ini karena manusia memiliki potensi
yang berupa kecenderungankecenderungan tertentu yang menyangkut daya nalar,
mental, maupun psikisnya yang berbedabeda jenis dan tingkatannya. Pada beberapa ayat Al Qur‟an, Hadits, maupun
keterangan para ulama da para mufassir, hampir semuanya memperkuatkan adanya
fitrah yang telah dibawa sejak lahir. Hanya saja eksistensi fitrah ini akan
lain ketika lahir dan berkembang hingga dewasa.
Oleh karena itu, dibutuhkan pendidikan sebagai salah satu sarana yang
dapat menumbuhkankembangkan potensi-potensi yang ada dalam diri manusia sesuai
dengan fitrah penciptaannya. Sehingga pada gilirannya, mampu berperan dan dapat
mendatangkan manfaat dalam berbagai aspek kehidupan. Jadi, tujuan dari
pendidikan itu pada dasarnya adalah ingin menimbulkan atau menyempurnakan
perilaku dan membina kebiasaan sehingga siswa terampil menjawab tantangan
situasi hidup secara manusiawi. Sementara itu, pemahaman terhadap hakikat
fitrah dalam AlQur‟an ternyata membawa implikasi lahirnya teori fitrah dalam
pendidikan. Pemahaman mengenai bawaan dasar
fitrah manusia dan bagaimana kemampuannya untuk berkembang dapat dikelompokkan
menjadi empat yaitu fatalis-pasif, netral-pasif, positifaktif dan dualis-aktif.
Agar fitrah manusia selalu dalam searah dengan ad-din alIslami, dan mencapai
tingkatan nafsul muthmainnah, diperlukan upaya-upaya dalam bentuk jihad. Salah
satu wujud jihad itu adalah mengusahakan sebuah proses pendidikan Islam yang
efektif dan fungsional. Oleh karena itu, proses pendidikan yang menanamkan
kebajikan bawaan aktif dalam fitrah, perlu diawali sejak dini. Di sinilah
pentingnya pendidikan keluarga oleh orang tua. Sehingga, pada akhirnya,
umat Islam akan menjadi sebaik-baik umat
(khoirah ummah). Wallahu a‟lam bi al-shawab.
DAFTAR PUSTAKA
[2]Maragustam,
Filsafat Pendidikan Islam menuju
Pembentukan Karakter Menghadapi Arus
Global. Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta, 2016. Hlm. 7.
[6]
Arief Furchan dan Agus Maimun, Studi
tokoh: Metode Penelitian Mengenai Tokoh. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.
Hlm. 55
[8] Salik, Mengembangkan Fitrah Anak Melalui Pendidikan Islam (Studi Atas
Pemikiran Hamka). Hlm. 4.
[9] Rif‟at Syauqi Nawawi, Konsep Manusia Menurut Al-Quran Dalam
Metodologi Psikologi Islam. Hlm. 67.
[10] Farah and Novianti, Fitrah Dan Perkembangan Jiwa Manusia Dalam
Perspektif Al-Ghazali. Hlm.
194–95,
[11] Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, Upaya Mengaktifkan Pendidikan Agama
Islam Di Sekolah, 18–19.
[14] Maragustam, Filsafat Pendidikan Islam menuju Pembentukan
Karakter Menghadapi Arus Global. Hlm.
101
0 Response to "HAKIKAT FITRAH MANUSIA DALAM PENDIDIKAN ISLAM DAN TEORI PENGEMBANGANNYA (filsafat Pendidikan Islam)"
Post a Comment