KNOWLEDGE MANAGEMENT SEBAGAI UPAYA PENGEMBANGAN LEARNING ORGANITION DI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM
KNOWLEDGE MANAGEMENT SEBAGAI UPAYA PENGEMBANGAN LEARNING ORGANITION DI LEMBAGA
PENDIDIKAN ISLAM
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahi bini’matihi tatimmush
shoolihaat, puji syukur kepada Allah SWT Tuhan Maha Mengetahui yang telah melimpahkan
kemampuan dan kekuatan kepada kami sehingga dapat terselesaikannya makalah ini.
Knowledge management merupakan satu pendekatan yang bertumpu pada
pemahaman bahwa tugas organisasi, dalam hal ini organisasi sekolah, adalah
memahami dengan baik bagaimana dan kapan penciptaan pengetahuan harus didukung,
bagaimana menggunakan akumulasi pengetahuan yang sudah tercipta sehingga
pengetahuan tersebut dapat meningkatkan produktifitas. Objek knowledge management adalah tenaga pendidik dan tenaga
kependidikan di lembaga pendidikan Islam. Objek inilah yang akan dikembangkan
menjadi sistem kumpulan pengetahuan dari unsur sebuah lembaga pendidikan Islam
untuk dapat mengembangkan lembaga pendidikan Islam, sedangkan subjeknya adalah
pengelolaan pendidikan Islam dengan menggunakan knowledge management pada
lembaga
pendidikan tersebut, dengan pemahaman knowledge management ini, embaga
pendidikan Islam akan menjadi lembaga yang unggul dan berdaya saing. Dari makalah ini kami selaku penyusun berterima
kasih kepada Allah SWT khususnya, dan kepada Dr. Subiyantoro, M.Ag. yang telah membimbing kami serta umumnya kepada seluruhnya yang telah
membantu, sehingga dapat tersusunnya makalah ini.
Kami memohon maaf apabila masih banyak terdapat
kesalahan, dalam pengetikan maupun isi pembahasan makalah, maka kami harapkan
kritik dan saran yang membangun dari seluruh pembaca. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan menjadi amal
jariyah kami di akhirat kelak. Aamiin.
Yogyakarta, 23 Oktober 2019
Penyusun
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................... 1
DAFTAR ISI........................................................................................................ 2
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 3
Latar Belakang ..................................................................................................... 3
A.
Rumusan Masalah
....................................................................................... 4
B.
Tujuan
Penulisan ......................................................................................... 5
BAB II PEMBAHASAN .................................................................................... 6
A.
Manajemen
Pendidikan Islam...................................................................... 6
B.
Knowledge
Management Upaya
Pengembangan Learning Organization di Lembaga Pendidikan Islam..................................................................................................................... 7
C.
Knowledge
Management Landasan
Pengembangan Organisasi diSekolah 10
BAB III PENUTUP ............................................................................................ 16
A.
Kesimpulan ................................................................................................. 16
B.
Saran ........................................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 17
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu sector penting dalam
pembangunan di setiap negara. Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003. Untuk
mencapai tujuan pendidikan nasional diperlukan pengelolaan pendidikan yang
bagus, cerdas, dan mampu bersaing dalam pengembangan pendidikan baik pada
sektor pengelolaan maupun hasil pendidikan.[1]
Perkembangan masyarakat dunia pada umumnya dan masyarakat Indonesia pada
khususnya sudah memasuki masyarakat informasi yang merupakan kelanjutan dari
masyarakat modern dengan ciri-cirinya yang bersifat rasional, berorientasi ke
masa depan, terbuka, menghargai waktu, kreatif, mandiri, dan inovatif.
Sedangkan masyarakat informasi ditandai oleh penguasaan terhadap teknologi
informasi, mampu bersaing, serba ingin tahu, imajinatif, mampu mengubah
tantangan menjadi peluang dan menguasai berbagai metode dalam memecahkan
masalah.
Perkembangan zaman ini akan membuat perubahan dalam segala
lini kehidupan yang sangat beragam, sehingga yang sanggup bertahan hanyalah
mereka yang mempunyai pandangan ke masa depan dan mampu mengubah pengetahuan menjadi
kebijakan. Dalam keadaan ini seluruh aspek kehidupan harus berbenah mengikuti tuntutan
zaman, tidak terkecuali pendidikan. Inilah kenyataan yang akan terjadi, dan
manusia mau tidak mau harus menghadapinya. Masa depan yang demikian itu
selanjutnya akan mempengaruhi dunia pendidikan baik dari segi kelembagaan,
materi pendidikan, guru, metode, sarana prasarana dan lain sebagainya. Hal ini
pada gilirannya menjadi tantangan yang harus dijawab oleh dunia pendidikan. Dalam
hal ini pendidikan harus mampu menyiapkan sumber daya manusia yang tidak hanya
sekedar sebagai penerima arus informasi global, tetapi juga harus memberikan bekal
kepada mereka agar dapat mengolah, menyesuaikan, dan mengembangkan segala hal yang
diterima memalui arus informasi itu, yakni manusia yang kreatif dan produktif.
Membangun keunggulan sebuah lembaga pendidikan khususnya
lembaga pendidikan Islam di dalam perkembangan zaman dan iklim persaingan yang
sedemikian tinggi, mengharuskan lembaga pendidikan Islam menemukan strategi
yang lebih sesuai dengan tuntutan perubahan lingkungan persaingan. Strategi
seharusnya dibangun atas dasar pemahaman yang menyeluruh mengenai asset atau
sumber daya apa yang dapat digunakan pendidikan bila ingin unggul. Lembaga pendidikan
Islam yang unggul tidak lagi harus semata-mata bertumbu pada sumber daya finansial,
bangunan, tanah, teknologi, posisi, dan lainya. Akan tetapi harus juga bertumpu
pada aset pengetahuan.
Knowledge management merupakan satu pendekatan yang bertumpu
pada pemahaman bahwa tugas organisasi, dalam hal ini organisasi sekolah, adalah
memahami dengan baik bagaimana dan kapan penciptaan pengetahuan harus didukung,
bagaimana menggunakan akumulasi pengetahuan yang sudah tercipta sehingga
pengetahuan tersebut dapat meningkatkan produktifitas. Objek knowledge management adalah tenaga pendidik dan tenaga
kependidikan di lembaga pendidikan Islam. Objek inilah yang akan dikembangkan
menjadi sistem kumpulan pengetahuan dari unsur sebuah lembaga pendidikan Islam
untuk dapat mengembangkan lembaga pendidikan Islam, sedangkan subjeknya adalah
pengelolaan pendidikan Islam dengan menggunakan knowledge management pada lembaga pendidikan tersebut,
dengan pemahaman knowledge
management ini,
lembaga pendidikan Islam akan menjadi lembaga yang unggul dan berdaya saing.[2]
B.
Rumusan Masalah
Dari pembahasan di atas pemakalah
merumuskan beberapa masalah yang disebutkan sebagai berikut:
1.
Apakah yang dimaksud dengan manajemen pendidikan Islam?
2.
Bagaimanakah knowledge management upaya pengembangan learning
organization di lembaga pendidikan Islam?
3.
Bagaimana knowledge management landasan
pengembangan organisasi di sekolah?
C.
Tujuan Makalah
Adapun
tujuan penulisan yang dimaksud dari pembahasan tentang makalah ini adalah:
1. Memahami manajemen pendidikan Islam.
2. Memahami knowledge management upaya pengembangan learning organization di lembaga
pendidikan Islam.
3. Memahami knowledge management landasan
pengembangan organisasi di sekolah.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Manajemen
Pendidikan Islam
Terdapat banyak fariasi definisi manajemen yang diajukan
oleh para tokoh. Perbedaan ini disebabkan oleh sudut pandang dan latarbelakang
keilmuan yang dimiliki para tokoh. Inti dari berbagai sudut pandang dan variasi
dari pengertian manajemen menurut Imam Machali, manajemen adalah usaha untuk
mengatur organisasi untuk mencapai tujuan yang ditetapkan secara efektif,
efisien, dan produktif. Efektif berarti mampu mencapai tujuan dengan baik,
sedangkan efisien berarti melakukan sesuatu dengan benar.[3]
Manajemen pendidikan adalah gabungan dari dua kata yang
mempunyai satu makna yaitu manajemen dan pendidikan. Manajemen pendidikan
adalah seluruh proses kegiatan bersama dalam bidang pendidikan dengan
mendayagunakan semua sumberdaya yang ada yang dikelola untuk mencapai tujuan
pendidikan. Sumberdaya itu berupa man (manusia=guru, siswa, karyawan), money
(uang=biaya), materials (bahan/alat-alat pembelajaran), methods (teknik/cara),
machines (mesin=fasilitas), market (pasar), dan minuts (waktu) yang biasa
disebut 7 M.[4]
Mujamil Qomar menjelaskan bahwa manajemen pendidikan Islam
adalah suatu proses pengelolaan lembaga pendidikan Islam secara Islami dengan
cara menyiasati sumber-sumber belajar dan hal-hal lain yang terkait untuk mencapai
tujuan pendidikan Islam secara efektif dan efisien.[5]
Sehingga dapat disimpulkan bahwa manajemen pendidikan Islam adalah bentuk kerja
sama untuk melaksanakan fungsi-fungsi perencanaan, pengorganisasian,
personalia, pengarahan kepemimpinan, dan pengawasan terhadap usaha-usaha para
anggota organisasi dan penggunaan sumber daya manusia finansial, fisik dan
lainya dengan menjadikan Islam sebagai landasan dan pemandu dalam praktek
operasionalnya untuk mencapai tujuan organisasi (pendidikan Islam) dalam menanamkan
ajaran atau menumbuhkembangkan nilai-nilai Islam.
B.
Knowledge
Management Upaya
Pengembangan Learning Organization di Lembaga Pendidikan Islam
Pergeseran
lingkungan dan kekuatan persaingan dalam industri pendidikan menyebabkan
timbulnya kesenjangan antara tuntutan lingkungan dan persaingan dengan kekuatan
satuan pendidikan pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan. Situasi ini
memaksa sebagian satuan pendidikan mengurangi atau menghentikan operasinya.
Sejumlah program studi pada sejumlah perguruan tinggi mengalami penurunan
jumlah mahasiswa, bahkan terpaksa ditutup dan atau dicabut izin operasinya. Ini
terjadi pula pada satuan pendidikan dasar, menengah, dan satuan lainnya. Fenomena
sejumlah satuan pendidikan mengalami penurunan jumlah siswa/mahasiswanya atau
mengurangi/menghentikan operasinya tersebut sangat meluas dan merupakan isu
yang penting untuk dikaji.
Arti
pentingnya manajemen pengetahuan yang muncul dari rahim kacamata bisnis pada
hakikatnya dapat dipahami melalui serangkaian pertanyaan antara lain, mengapa
banyak lembaga pendidikan Islam tidak mampu bertahan lama, apa yang menyebabkan
sebuah lembaga pendidikan Islam lebih bersaing dibandingkan dengan lembaga
pendidikan yang lain. Kemampuan lembaga pendidikan Islam dapat bertahan bukan
karena kebetulan akan tetapi lembaga itu pasti mampu menunjukkan kapasitas
beradaptasi yang lebih cepat terhadap perubahan kondisi tuntutan lingkungannya,
keinginan secara terus menerus untuk melakukan inovasi, dan mengambil keputusan
yang tepat untuk menggerakkan lembaga tersebut. Kemampuan tersebut hanya
mungkin terwujud apabila lembaga pendidikan Islam dengan efektif mampu menyerap
dan menggunakan sumber daya pengetahuan anggotanya, memberi ruang yang kondusif
bagi setiap individu dan tim.
Manajemen
pengetahuan pada dasarnya muncul untuk menjawab bagaimana seharusnya mengelola
pengetahuan. Pada masa lalu muncul bahwa pandangan informasi adalah power, namun terbukti bahwa kepemilikan
informasi saja tidaklah cukup, yang lebih utama adalah bagaimana informasi tersebut
di putuskan dan menjadi pertimbangan sehingga menjadi ide, dan ide tersebut
selanjutnya diberi konteks sehingga menjadi pengetahuan.
Knowledge dalam hal ini tidak diterjemahkan,
karena pengertiannya masih diperdebatkan. Knowledge bukan hanya
pengetahuan, menurut Thomas Davenport dan Laurence, knowledge didefinisikan
sebagai berikut: “Knowledge merupakan campuran dari pengalaman, nilai,
informasi kontektual, pandangan pakar dan intuisi mendasar yang memberikan
suatu lingkungan dan kerangka untuk mengevaluasi dan menyatukan pengalaman baru
dengan informasi. Di perusahaan knowledge sering terkait tidak saja pada
dokumen atau tempat penyimpanan barang berharga, tetapi juga pada rutinitas,
proses, praktek dan norma perusahaan.(Dave: 1998).[6]
Ratna Indriyati dalam sebuah tulisan menjelaskan bahwa
kajian tentang knowledge
management (manajemenen
pengetahuan) mulai mengemuka sejak tahun 1990-an yang diprakarsai oleh para
praktisi bisnis.[7]
Salah satu alasan yang mendorong mereka melakukan kajian itu adalah karena
disadari bahwa aspek pengetahuan merupakan modalitas penting yang tidak bisa
diabaikan dalam dunia bisnis. Kedudukan pengetahuan di era informasi ini setara
dengan keberadaan energi pembangkit listrik di era industri. Di era informasi
saat ini paradigma tentang modal mulai berkembang. Dahulu ruang lingkup modal
berkisar pada modal finansial, infrastruktur, dan pada entitasentitas benda
lainnya. Tetapi kini modal intelektual disadari merupakan modal sangat penting
yang dapat mendongkrak nilai tambah suatu perusahaan.
Horwitc dan Armacost dalam bukunya Sangkala mendefinisikan
manajemen pengetahuan adalah pelaksanaan penciptaan, penangkapan,
pentransferan, dan pengaksesan pengetahuan dan informasi yang tepat ketika
dibutuhkan untuk membuat keputusan yang lebih baik, bertindak dengan tepat,
serta memberikan hasil dalam rangka mendukung strategi bisnis.[8]
Pengetahuan Manajemen pengetahuan (knowledge management) ialah suatu rangkaian kegiatan yang
digunakan oleh organisasi atau perusahaan untuk mengidentifikasi, menciptakan,
menjelaskan, dan mendistribusikan pengetahuan untuk digunakan kembali,
diketahui, dan dipelajari di dalam organisasi. Kegiatan ini biasanya terkait
dengan objektif organisasi dan ditujukan untuk mencapai suatu hasil tertentu
seperti pengetahuan bersama, peningkatan kinerja, keunggulan kompetitif, atau
tingkat inovasi yang lebih tinggi.[9]
Definisi di atas maka menurut penulis bahwa manajemen
pengetahuan dapat digunakan untuk mengembangkan organisasi dalam lembaga
pendidikan Islam guna menanggapi perubahan dan tuntutan kebutuhan zaman.
Berdasarkan definisi tersebut, knowledge menjadi sangat penting dengan alasan sebagai berikut: Pertama, knowledge adalah aset institusi, yang menentukan
jenis tenaga kerja, informasi, ketrampilan dan struktur organisasi yang
diperlukan. Kedua,
pengetahuan dan pengalaman perusahaan
merupakan sumber daya yang berkelanjutan (sustainable resources) dari
keuntungan daya saing kompetitif (competitive advantages) dibandingkan dengan produk
andalan dan teknologi tercanggih yang dimiliki. Ketiga, pengetahuan dan pengalaman mampu
menciptakan, mengkomunikasikan dan mengaplikasikan pengetahuan mengenai semua hal
terkait untuk mencapai tujuan bisnis.
C.
Knowledge Management Landasan Pengembangan Organisasi di
Sekolah
Sekolah pada hakikatnya adalah sistem yang hidup. Tanpa
manusia, sekolah itu tidak berarti konkret dan ada. Sebagai sistem yang hidup,
sekolah berada pada proses interaksi yang konstan bersama masyarakat, kelompok,
tenaga kerja, universitas, gereja, dan lembaga lainnya. Sesungguhnya, sekejap
tampak bahwa distrik sekolah yang besar sebagai suatu sistem yang menghindari
kompleksitas. Organisasi pendidikan adalah tempat untuk melakukan aktivitas
pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan, dan
pengorganisasian pendidikan adalah sebuah proses pembentukan tempat atau sistem
dalam rangka melakukan kegiatan kependidikan untuk mencapai tujuan pendidikan
yang diinginkan. Budaya organisasi mempunyai beberapa fungsi, diantaranya
adalah (1) memberikan identitas organisasi kepada anggotanya (2) memudahkan
komitmen kolektif (3) mempromosikan stabilitas sistem sosial, dan (4) membentuk
perilaku dengan manajer merasakan keberadaanya. Dari pemaparan ini dari
pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa knowledge management dapat digunakan untuk meningkatkan
kinerja organisasi, dalam hal ini organisasi dalam lingkup lembaga pendidikan
Islam.[10]
Knowledge Management (KM) sebagai suatu konsep/teori dan
praktek, tidak dapat dipungkiri lagi setelah menjadi isu sentral dan telah
menjadi era baru dalam dunia manajemen, ekonomi global saat ini. Despres dan
Chauval menjelaskan bahwa salah satu indicator melonjaknya perhatian terhadap
Knowledge Management adalah meningkatnya artikel-artikel tentang KM sejak tahun
1988 – 1999.[11]
Secara umum Knowledge pengetahuan meliputi beberapa aspek, diantaranya : Pertama, apa, adalah acuan tentang obyek sentral
yang dikelola dalam KM. Bicara obyek KM maka terdiri dari dua jenis, yaitu
pengetahuan tacit (tacit knowledge) dan pengetahuan eksplisit (explicit
knowledge). Walapun beberapa pakar menamakannya dengan istilah berbeda, seperti
articulated knowledge (model N-Form Organization, Hedlund)
untuk pengetahuan eksplisit atau knowing (model Knowling and Knowledge, Earl
dan model OK Net, Carayannis) untuk pengetahuan (knowledge). Obyek sentral ini,
pada akhirnya akan menjadi asset intelektual, modal intelektual dan menjadi
human capital bagi organisasi (model Edvinsson, model Snowden, model Van
Buren). kedua,
siapa. adalah acuan tentang aktor
pelaksana daripada KM tersebut dalam proses implementasinya. Aktor pelaksana
tersebut adalah agregasi sosial yang meliputi individu (dalam dan luar
organisasi, kelompok/komunitas (dalam dan luar organisasi), dan organisasi itu
sendiri. Ketiga,
bagaimana. adalah acuan tentang
bagaimana proses obyek dan aktor pelaksana KM memperoleh dan mentrasnformasi
pengetahuan. Nonaka menamakannya dengan dinamika interaksi (interaction
dynamic). Dalam semua model membahas bagaimana proses aktifitas atau interaksi yang
sebaiknya terjadi, tapi tidak semua secara eksplisit menjelaskan bagaimana
peran teknologi dalam mendukung proses tersebut. Keempat, dimana. adalah acuan tentang ruang atau
tempat tentang dinamika interaksi atau aktifitas perolehan dan penciptaan
pengetahuan terjadi. Hampir semua model menjelaskan level ruang sosial tempat
terjadinya aktifitas, yaitu level individu, kelompok, organisasi dan lintas
organisasi.
Seperti telah diketahui bahwa orangorang yang bekerja di
dalam sebuah organisasi bukanlah suatu entitas yang homogen. Organisasi pada
dasarnya terdiri dari orang orang yang memiliki latar belakang sosial, budaya,
ekonomi, dan bahkan politik yang berbeda. Termasuk dalam organisasi pengelola
pendidikan Islam, oleh karena itu, seringkali sebuah organisasi yang bermaksud
melakukan perubahan supaya kinerjanya lebih baik ternyata gagal ditengah jalan.
Apabila diteliti lebih jauh, ternyata penyebab kegagalan organisasi tersebut
karena ketidakmampuan mengatasi atau berupaya meminimalkan perbedaan tersebut. Kondisi
demikian kemungkinannya bisa juga terjadi ketika sebuah organisasi ingin menerapkan
manajemen pengetahuan. Untuk melaksanakan dan menerapkan model ini tentu diperlukan
langkah-langkah perubahan yang sistematis. Permasalahan ini juga tidak
melewatkan organisasi lembaga pendidikan Islam. Sehingga untuk mengembangkan
aset pengetahuan tersebut pendidikan Islam dapat menggunakan pendekatan knowledge management. Agar perubahan yang dilakukan di
tubuh lembaga pendidikan Islam berlangsung dengan sukses, maka formula strategi
menjadi satu kebutuhan. Fungsi formulasi strategi dalam konteks ini lebih
menitik beratkan pada upaya memberikan bahasa dan pemahaman serta sudut pandang
yang sama. Dalam pelaksanaannya, manajemen pengetahuan dapat dilihat dari
beberapa dimensi, dari dimensi-dimensi inilah pendidikan Islam dapat menerapkan
manajemen pengetahuan untuk mengembangkan pengorganisasian di lembaga pendidikan
Islam. Diantara dimensi manajemen pengetahuan yang dapat dikembangkan lembaga
pendidikan Islam menurut sangkala adalah, Pertama. konseptual. Agar organisasi (lembaga
pendidikan Islam) mampu mengembangkan suatu konstruksi yang terintegrasi dan
dapat digunakan untuk mendiskusikan pengetahuan di dalam organisasi. Alasannya adalah
baik secara konsep maupun teori, manajemen pengetahuan memerlukan pendekatan yang
menyeluruh. Berbagai konseptual yang dikeluarkan masing-masing anggota dalam lembaga
pendidikan Islam harus dikemas oleh suatu teori yang sesuai dengan kebutuhan
dengan jawaban dari berbagai pertanyaan organisasi yang terkait dengan
penerapan manajeman pengetahuan.
Kedua, Perubahan. Dimensi ini penting mendapatkan
perhatian karena perubahan terkait erat dengan stabilitas. Oleh karena itu, kerangka
kerjanya terkait dengan institusi dan perkembangannya. Sebelum pengetahuan baru
mengubah struktur pengetahuan dan sistem aktivitas di dalam organisasi,
pengetahuan harus terlebih dahulu harus dapat diakses, dipahami, dan dapat
diterima. Kerangka kerja manajemen pengetahuan ditunjukkan untuk mengubah
organisasi sehingga dibutuhkan pula konsep mengenai manajemen perubahan. Hal ini
memerlukan kerja sama dari aktivitas yang berbeda-beda antara yang satu dengan
yang lain.
Ketiga, Pengukuran. Pengukuran menjadi aspek
penting dalam organisasi (lembaga pendidikan Islam) karena merupakan mekanisme pengintegrasi
di dalam organisasi. Masingmasing sistem pengukuran secara implisit menentukan
sudut pandang. Oleh karena itu, desain pengukuran merupakan pernyataan yang paling
fundamental dari sasaran organisasi. Pengukuran juga memungkinkan untuk dilihat
apakah kita telah bergerak ke arah sasaran atau tidak.
Keempat, Struktur organisasi. Struktur organisasi
juga menjadi hal yang penting diperhatikan yang di dalamnya terdapat pembagian
peran dan tanggung jawab yang diperlukan agar efektivitas manajemen pengetahuan
dapat terlaksana. Peran-peran tersebut diantaranya pemilik pengetahuan, penyebar
pengetahuan, pencarian pengetahuan, dan koordinator komunitas.
Kelima, Isi pengetahuan. Apabil pengetahuan
dipandang sebagai produk, pengetahuan dapat diklasifikasikan dan dikategori
dalam berbagai cara. Untuk mengelola produk dari proses pengetahuan, kita
memerlukan pengetahuan yang cocok dan saling mendukung. Isi pengetahuan juga terkait
dengan keterampilan karyawan, dalam hal lembaga pendidikan Islam, tentunya dari
tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Untuk mengelola isi pengetahuan dapat dikembangkan
direktori keahlian, sistem pengelolaan ketrampilan, peta pengetahuan, atau
model-model isi pengetahuan.
Keenam, Alat. Dimensi ini terkait erat dengan
ketersediaan sarana untuk memperoleh pengetahuan. Oleh karena itu, bagaimana metodologi
mengelola pengetahuan, representasi pengetahuan yang akan dikelola serta
insfrastruktur yang dibutuhkan untuk menunjang pengelolaan pengetahuan secara efektif
menjadi sesuatu yang turut menentukan strategi manajemen pengetahuan. Tawaran
lain tentang implementasi KM disampaikan Tiwana, dalam bukunya sangkala. Dia
menawarkan bagaimana strategi menerapkan manajemen pengetahuan dalam organisasi
yang dalam hal ini kita gunakan dalam lembaga pendidikan Islam. Setidaknya ada
sepuluh langkah strategi yang dapat dilakukan untuk mengembangkan knowledge management, yaitu: Analisi infrastruktur yang
ada. Tujuannya untuk menentukan teknologi apa yang saat ini telah dimiliki, dan
teknologi apa yang seharusnya ditambahkan untuk meningkatkan dukungan manajemen
pengetahuan di dalam lembaga pendidikan Islam.
Langkah selanjutnya adalah mengaitkan manajemen pengetahuan
dengan strategi bisnis. Bila penciptaan pengetahuan ingin sukses diarahkan,
perlu disusun langkah yang mengaitkan antara strategi bisnis yang dibangun
lembaga pendidikan Islam dengan strategi pengetahuannya. Langkah selanjutnya adalah
mendesain infrastruktur manajemen pengetahuan. Tahap ini pihak manajemen sudah harus
menentukan sejak awal jenis teknologi dan alat-alat apa saja yang dibutuhkan
untuk sistem manajemen pengetahuan yang akan diterapkan. Langkah selanjutnya
adalah mengaudit aset dan sitem pengetahuan yang ada. Tujuan audit adalah untuk
menilai apa saja pengetahuan yang sudah ada di dalam lembaga pendidikan Islam
saat itu, dan menentukan fokus aktivitas manajemen pengetahuan. Setelah itu
dilaksanakan untuk mendesain tim manajemen pengetahuan. Tim manajemen pengetahuan
digunakan untuk fokus mendesain kebutuhan lembaga pendidikan Islam dan mengembangkannya.
Setelah semua langkah tentang audit dilaksanakan selanjutnya adalah menciptakan
blueprint manajemen pengetahuan dan pengembangan
sistem manajemen pengetahuan Pada tahap ini tim harus bekerja keras sekaligus
menggabungkan sistem manajemen pengetahuan yang sudah bangun tahap enam
sebelumnya yang selanjutnya. Prototipe dan uji coba. Langkah ini merupakan upaya untuk menguji prototipe yang sudah dibuat sebelumnya, dan
memperbaiki sistem yang tidak berjalan sesuai dengan rencana.
Langkah selanjutnya adalah pengelolaan perubahan, kultur,
dan struktur penghargaan. Dalam tahap ini yang harus dicatat dalam kaitannya
dengan upaya menjalankan tahap ini bahwa sukses dan tidaknya manajemen
perubahan tidak hanya tergantung pada teknologi, akan tetapi juga dipengaruhi
kultur dan sistem penghargaan. Langkah terakhir adalah evaluasi kinerja,
mengkur, dan perbaikan sistem manajemen pengetahuan. Penutup langkah ini adalah
dengan rencana implementasi dengan menanamkan dengan pengukuran hasil manajemen
pengetahuan sambil secara simultan mengakui sejak awal masalah utama dari
realitas pengukuran.[12]
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
Berdasarkan hasil pembahasan yangdikemukakan pada pembahasan
di atas tentang knowledge
Management, dapat
kita simpulkan bahwa Knowledge
Management adalah
suatu rangkaian kegiatan yang digunakan oleh organisasi atau perusahaan untuk
mengidentifikasi, menciptakan, menjelaskan, dan mendistribusikan pengetahuan
untuk digunakan kembali, diketahui, dan dipelajari di dalam organisasi.
Kegiatan ini biasanya terkait dengan objektif organisasi dan ditujukan untuk
mencapai suatu hasil tertentu seperti pengetahuan bersama, peningkatan kinerja,
keunggulan kompetitif, atau tingkat inovasi yang lebih tinggi. Knowlegde Management (Manajeman Pengetahuan) sebagai
pendekatan yang bertumpu pada pemahaman bahwa tugas sekolah adalah memahami
dengan baik bagaimana dan kapan penciptaan pengetahuan harus didukung,
bagaimana menggunakan akumulasi pengetahuan yang sudah tercipta sehingga
pengetahuan tersebut dapat meningkatkan produktifitas. Dengan mengumpulkan
pengetahuan yang ada pada lembaga pendidikan Islam, kemudian di formulasikan
dan desain dengan baik, akan menjadikan lembaga pendidikan Islam yangunggul dan
berdaya saing. Menejemen ini
B.
Saran
Makalah
ini diharapkan dapat menjadi rujukan pembahasan dan kajian yang serupa. Karena
di pandang masih banyak salah dalam penyusunan makalah ini maka kami selaku
penulis memohon saran dari pembaca sekalian. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi seluruh pembaca umumnya.
Daftar Pustaka
Abudin Nata, Manajeman Pendidikan, Mengatasi Kelemahan Pendidikan
Islam di Indonesia. Jakarta:
Prenada MediaGroup, 2008, cet. 3.
Ara Hidayat dan Imam Machali, Pengelolaan Pendidikan, Konsep,
Prinsip, dan Aplikasi dalam emngelola sekolah dan madrasah, Yogyakarta: Kaukaba, 2012.
Despres, Charles and Chauval, Daniele, “Knowledge Horizons: The Present
and The Promise of Knowledge Management”, Boston, Oxford, Auckland, Johannesberg, Melbourne, New
Delhi: Butterworth Heinemann, 2000.
Hendro Setiadi, makalah Penerapan Knowledge Management
Pada Perusahaan Reasuransi,
Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia tahun 2011.
Hendyat Soetopo, Perilaku Organisasi, Teori dan Praktik dalam bidang
Pendidikan, Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2010.
Husaini Usman, Manajemen Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2006.
Jalaluddin Rahmat, Islam Menyongsong Peradaban Dunia Ketiga, dalam Ulumul Quran, Vol.2, 1989.
Jusuf Amir Faisal, Reorientasi Pendidikan Islam, Jakarta: Gema Insani Pers, 1995, cet.
1.
M. Fakry, dkk ed, Manajemen Corporate dan Strategi Pemasaran Jasa
Pendidikan, Bandung:
Alfabeta, 2008.
Marno dan Triyo Supriyatno, Manajemen dan Kepemimpinan
Pendidikan Islam. Bandung:
Refika Aditama, 2008.
Mujami Qomar, Manajemen Pendidikan Islam, Strategi Baru Pengelolaan
Lembaga Pendidikan Islam.Jakarta:
Erlangga, 2007.
Nazarudin, Manajemen Pembelajaran, Implementasi Konsep,
Karakteristik dan Metodedologi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum, Yogyakarta: Teras, 2007.
Sangkala, Knowledge Management, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007.
Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan
nasional pasal 1.
[1] Undang-Undang No. 20 Tahun
2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 1.
[3] Ara Hidayat dan Imam Machali, Pengelolaan Pendidikan, Konsep,
Prinsip, dan Aplikasi dalam emngelola sekolah dan madrasah, (Yogyakarta:
Kaukaba, 2012),
[4] Abudin Nata, Manajeman Pendidikan, Mengatasi Kelemahan
Pendidikan Islam di Indonesia. (Jakarta: Prenada MediaGroup, 2008),
[5] Mujami Qomar, Manajemen Pendidikan Islam, Strategi Baru Pengelolaan
Lembaga Pendidikan Islam.Jakarta:
Erlangga, 2007.
[6] Despres, Charles and Chauval, Daniele, “Knowledge
Horizons: The Present and The Promise of Knowledge Management”, (Boston,
Oxford, Auckland, Johannesberg, Melbourne, New Delhi: Butterworth Heinemann,
2000),
[7] Hendro Setiadi, makalah Penerapan Knowledge Management Pada
Perusahaan Reasuransi, (Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan
Indonesia tahun 2011),
[8] Sangkala, Knowledge
Management,,,.
[9] Hendro Setiadi, makalah Penerapan Knowledge Management Pada
Perusahaan Reasuransi, (Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan
Indonesia tahun 2011), .
[10]
Hendyat
Soetopo, Perilaku Organisasi, Teori dan Praktik dalam bidang Pendidikan, (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2010) .
[11] Despres, Charles and Chauval, Daniele, “Knowledge Horizons: The
Present and The Promise of Knowledge Management”,,,.
[12] Ara Hidayat dan Imam Machali, Pengelolaan Pendidikan, Konsep,
Prinsip, dan Aplikasi dalam emngelola sekolah dan madrasah, (Yogyakarta:
Kaukaba, 2012),

0 Response to "KNOWLEDGE MANAGEMENT SEBAGAI UPAYA PENGEMBANGAN LEARNING ORGANITION DI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM"
Post a Comment