TELAAH BUKU “PHILOSOPHY OF EDUCATION” KARYA RICHARD PRING Chapter 2: Educating Persons
![]() |
| philosophy of education, dpapuka |
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Berdasarkan pengalaman sebagai siswa di Sekolah Tata Bahasa Manchester, Richard Pring telah beruntung dalam pengalaman keenamnya untuk bertemu tiga guru yang telah membuka idenya sebagai jalan untuk membebaskannya dengan meningkatkan kekuatan diri sendiri. Ketika Richard datang untuk mengajar, beliau menemukan bahwa sistem sekolah menghargai prestasi dan sebagian besar tidak menghargai emansipasi siswa melalui pengetahuan. Hal tersebut membuat Richard tidak puas dengan sistem yang ada.
Menurut kutipan Stenhouse terdapat 3 alasan. Pertama, semua anak muda harus terlepas dari kelas sosial, keadaan ekonomi, suku, daya intelektual, lokasi geografis dengan meningkatkan kekuatan diri sendiri. Kedua, melalui karya inovatif Stenhouse dalam kurikulum kemanusiaan dan di bawah pengawasan kurikulum sekolah mengilustrasikan dengan sebuah cara nyata untuk meningkatkan pengetahuan dan mempertahankan kebebasan. Ketiga, sebagian orang berpendidikan menentang inovasi ini dikarenakan pendidikan yang membebaskan hanya mungkin untuk sebagian orang yang memiliki tingkat kecerdasan tertentu atau berasal dari latar belakang budaya yang istimewa.
Pendidikan komprehensif harus lebih dari sekedar sekolah umum yang mencakup murid dari berbagai kelas dan kemampuan sosial, untuk mewujudkan hal ini Richard Pring membuat poin-poin sebagai berikut. Pertama, Richard membahas secara umum tentang pendidikan. Kedua, menunjukkan bagaimana pendidikan telah berkembang dalam mengejar kesetaraan dan komunitas melalui sistem yang komprehensif. Ketiga, membahas kembali “kebebasan dalam berpengetahuan”. Keempat, pencapaian keseriusan moral yang terlepas dari kelas atau agama atau kecerdasan terukur, untuk keaslian dalam dunia sosial yang sangat kompleks. Berdasarkan hal tersebut, hubungan antara guru dan siswa dapat dicapai dengan sistem yang komprehensif.
BAB II
PEMBAHASAN
ISI BUKU PHILOSOPHY OF EDUCATION (CHAPTER 2: Educating persons)
- Pendidikan
“Emansipasi” adalah sesuatu yang berguna, karena pendidikan harus dijauhkan dari ketidaktahuan sehingga seseorang tidak mudah ditipu dan dibohongi. Karena itu, siswa dididik untuk memiliki pemahaman, pengetahuan, keterampilan, disposisi dimana orang memahami dunia sekitar (dunia fisik yang harus dipahami melalui sains dan matematika, sosial dan politik dunia dimana kehidupan seseorang terlalu sering dibentuk dengan orang lain, dunia moral cita-cita dan tanggung jawab, dunia estetika dan gaya yang membuat seseorang menemukan kebahagiaan.
Tantangan terpenting dalam mewujudkan cita-cita komprehensif yaitu bagaimana hubungan dapat dibuat? Bagaimana semua anak muda (bukan hanya mereka yang memiliki hak istimewa dengan kecerdasan superior atau latar belakang budaya yang istimewa) menemukan nilai dalam budaya yang hanya sering didapat oleh segelintir orang?
Penekanan yang terlalu banyak pada siswa dalam mata pelajaran akan mempengaruhi akademis. Oleh karena itu, pemilihan sekolah sangat diperlukan untuk beberapa siswa dalam mendapatkan pendidikan yang diinginkan. Cita-cita komprehensif dapat memberikan anak muda kesempatan untuk berpartisipasi dalam dialog untuk menyampaikan keluhan dari masing-masing subjek.
- Kesetaraan dan Evolusi dari Cita-Cita Komprehensif
Kesetaraan dipandang bertentangan dengan kebebasan memilih dan peningkatan kekuatan individu. Namun, harus berhati-hati dalam berpikir tentang apa yang dimaksud dengan kesetaran. Tentu saja itu tidak boleh diidentifikasikan dengan perlakuan yang sama untuk setiap orang.
- Prinsip Negatif Kesetaraan
Prinsipnya dapat diungkapkan dengan kata-kata dari sebuah buku yang berpengaruh:
What we really demand, when we say that all men are equal is that none shall be held to have a claim to better treatment than another, in advance of good grounds being produced (Benn and Peters, 1959)
Berdasarkan pernyataan di atas, setara adalah tidak membedakan perlakuan orang yang satu dengan yang lain, sebelum alasan baik dibuat. Mungkin ada perbedaan perlakuan tetapi tanggung jawab pembuktian ada pada mereka yang bersikeras pada perbedaan. Perkembangan awal sistem yang komprehensif bertujuan untuk menghilangkan perbedaan ketentuan dan perlakuan yang tidak dapat dibenarkan yang muncul dari faktor-faktor yang tidak terkait dengan tujuan pendidikan sekolah, seperti kekayaan atau status sosial. Seruan untuk kesetaraan benar-benar merupakan upaya untuk menghapus diskriminasi yang menolak individu yang layak mendapatkan akses ke pendidikan yang sesuai. Ukuran kecerdasan menjadi kriteria yang tepat untuk membedakan antara siswa.
Diskriminasi dapat memecah belah anak sekarang, karena perubahan pandangan tentang pendidikan dan kecerdasan tidak lagi dapat diterima. Berdasarkan hal tersebut, sekolah komprehensif merupakan respons terhadap jenis seruan khusus terhadap kesetaraan, tidak memperlakukan orang secara berbeda dalam mempengaruhi peluang hidup mereka. Prinsip kesetaraan itu bersifat prosedural.
- Prinsip Persamaan yang Positif
Makna yang lebih positif dari kesetaraan disebut oleh Daunt (1975), pada awal pendidikan yang komprehensif dalam bukunya Comprehensive Values yaitu “Equality of Respect”. Artinya, apapun perbedaan dalam kecerdasan atau bakat atau kelas sosial, setiap pelajar harus diperlakukan setara.
Profesor Halsey dalam pidatonya di Reith tahun 1978, menujukan dirinya pada prinsip sosial persaudaraan yang terabaikan sebagai solusi untuk menumbuhkan konflik sosial. Persaudaraan tidak melibatkan perasaan intim dan cinta kasih untuk orang lain. Sikap yang relevan adalah sikap menghargai berdasarkan pengakuan. Pertama, ketergantungan sebagian orang pada orang lain. Kedua, orang lain sebagai pribadi. Sebuah sekolah yang memecah belah orang secara fisik akan bertentangan dengan cita-cita persaudaraan.
Tiga hal yang harus dicatat oleh masyarakat. Pertama, saling menghormati dan kerja sama. Kedua, bersilaturahmi. Ketiga, meningkatkan pemahaman dan pengalaman bersama. Cita-cita ini disebut oleh Profesor Halsey dalam kuliahnya yang keenam sebagai berikut:
Kita masih harus memberikan pengalaman kewarganegaraan yang sama dimasa kanak-kanak dan usia tua, dalam pekerjaan dan bermain, dan dalam keadaan sehat dan sakit. Singkatnya kita harus mengembangkan budaya bersama untuk menggantikan budaya kelas dan status yang terpecah.
- Pembelajaran
Dikatakan bahwa pengejaran kesetaraan di sekolah telah menyebabkan penurunan standar dalam pekerjaan siswa yang lebih mampu terutama dalam matematika dan sains, tetapi juga dalam literasi dan bahasa modern. Ada banyak perbandingan internasional yang tampaknya menunjukkan bahwa produk-produk dari sistem yang komprehensif tidak berfungsi sebaik rekan-rekan mereka dalam sistem yang lebih selektif di tempat lain. Seseorang mengejar kesetaraan dengan mengorbankan kualitas individu.
Kritik-kritik ini seharusnya tidak dianggap remeh. Tetapi mereka membutuhkan pemeriksaan yang lebih dekat tentang apa yang kita maksud dengan standar dan bagaimana mereka harus didefinisikan. Standar adalah tolok ukur; mereka adalah kriteria di mana seseorang menilai atau mengevaluasi kualitas kegiatan atau proses tertentu. Sebenarnya, ada banyak standar seperti halnya ada kegiatan dan ada banyak kegiatan karena ada niat dan nilai-nilai yang mendorong orang. Ada standar khusus untuk matematika, untuk argumen filosofis, untuk menulis soneta, memberi kuliah, untuk merumuskan proposal penelitian. Selain itu, sama seperti nilai dan tujuan kita berubah, demikian juga standar di mana kita menilai kegiatan tersebut. Ketika para pendidik matematika merefleksikan sifat dan nilai pendidikan dari pendidikan matematika (penyelesaian masalah secara praktis daripada wawasan teoretis) atau sebagai ahli bahasa modern sepakat bahwa pentingnya mempelajari bahasa adalah untuk berkomunikasi dengan penduduk asli daripada membaca literatur mereka, demikian juga standar dimana kami menilai perubahan kinerja matematika atau bahasa.
Pemecahan masalah matematika atau penyelidikan ilmiah atau penyelidikan historis terjadi dalam disiplin pemikiran tertentu yang memiliki struktur logis dengan konsep atau gagasan tersendiri, cara khasnya sendiri dalam menguji kebenaran apa yang dikatakan, cara khasnya sendiri untuk menjelaskan. Struktur logis seperti itu dari apa yang harus dipelajari dapat berkembang dari waktu ke waktu, misalnya perubahan radikal dalam disiplin ilmu sosial dan psikologis ketika teori-teori baru berevolusi dan menggantikan satu sama lain, tetapi inovasi semacam itu cenderung muncul dari dalam masyarakat sarjana dan peneliti, meskipun mengacu pada tujuan sosial yang lebih luas.
Pemahaman terhadap struktur logis dari disiplin ilmu membutuhkan kurikulum yang lebih praktis. Kurikulum meliputi dua hal. Pertama, mengidentifikasi ide-ide, prinsip-prinsip dan konsep-konsep yang tanpanya seseorang tidak dapat lepas dari pengetahuan. Kedua, membuat metode agar mudah dipahami. Kurikulum harus bersifat praktisatau melalui gambar atau sistem simbolik dari studi yang lebih teoritis.
Pusat pengembangan pribadi seseorang melalui pendidikan harus memahami dari kunci gagasan dengan membuat kemungkinan suatu pemahaman dari apa artinya menjadi manusia. Oleh karena itu, Bruner’s course “Man: A course of study” berfokus pada 3 pertanyaan utama.
- Apa yang dimaksud dengan hakekat manusia?
- Bagaimana dia bisa menjadi seperti itu?
- Bagaimana dia bisa menjadi lebih dari itu?
Terdapat 5 gagasan khusus dari menjadi manusia yaitu pengasuhan anak yang berkepanjangan, penguasaan dan penggunaan bahasa, organisasi sosial dan pembuatan mitos. Gagasan ini bisa dieksplorasi pada tingkat pemahaman dan pengalaman pribadi yang berbeda. Menurut Lawrence Stenhouse dalam Dewan Sekolah (1965) Working Paper No.2 terdapat ketakutan yang terjadi pada kaum muda yaitu bertahan dari rasa malas untuk belajar, tidak mampu memahami mata pelajaran tersebut, dan merasa tidak sesuai dari tujuan sistem pendidikan sekolah.
Sekelompok manusia mengungkapkan bahwa kurikulum ialah mengajarkan rasa kemanusiaan kepada murid-murid untujk menghadapi masalah umum atau pribadi. Terdapat rincian usaha-usaha untuk membuat metode pembelajaran bermoral dan ideal, yaitu:
- Melibatkan eksplorasi dari nilai-nilai situasi hidup yang praktis
- Menghilangkan ketergantungan pada otoritas guru.
- Mengadakan sosialisasi untuk meningkatkan pembelajaran moral
- Menghargai perbedaan pendapat.
- Menunjukkan pentingnya dinamika kelompok melalui berbagai pengalaman dari masing individu.
- Menunjukkan peran guru dalam mensosialisasikan kebajikan terhadap peserta didik untuk memahami diri sendiri maupun lingkungan sosial.
- Sebagaimana prinsip moral, perlu adanya integritas antara akademik dengan ilmu sosial.
- Keseriusan Moral
Pendidikan moral bertujuan untuk membantu setiap manusia menjadi manusia yang lebih sempurna dan dapat memahami diri sendiri maupun orang lain. Hubungan ini tidak dapat dipisahkan antara pengembangan pribadi atau dalam keanggotaan lainnya seperti saling menghargai dan menghormati satu sama lain.
Menurut Charles Taylor (1992) mengungkapkan bahwa pendidikan merupakan pertukaran konstan antara guru dan siswa. Hal ini dapat dilihat dari hubungan timbal balik antara keduanya.
- Masyarakat
Cita-cita komprehensif sering dikaitkan dengan sekolah, dikatakan seperti itu karena mereka tidak selektif dengan baik dalam kemampuan di kelas maupun sosial. Harapannya adalah meruntuhkan hambatan sosial dan membuka peluang pendidikan bagi mereka yang pantas diterima. Bagaimanapun juga kekhawatiran tetap ada, karena tujuan-tujuan ini belum dirasa setara sehingga jauh dari peluang yang ada.
Selain itu, kita harus melihat lebih dalam tujuan moral yang ada dibelakangnya dan tujuan pendidikan yang akan diwujudkannya. Ideal kesetaraan menuntut rasa hormatantar sesama manusia atau komunitas. Komunitas seperti itu akan terwujud diberbagai tingkatan ditingkat kelas, dimana kelompok merefleksikan variasi pengalaman anggotanya karena masing-masing didorong untuk mengeksplorasi dan untuk menemukan nilai yang berharga.
Kesulitan yang dihadapi terletak pada saat mengenali satu sama lain dalam suatu komunitas. Pada saat yang bersamaan pendidikan sebagai inisiasi ke dalam aktivitas yang bermanfaat. Tingkat politik juga harus mengakui tanggung jawab bersama untuk memastikan sistem pendidikan yang mencakup semua orang dan menghormati semua orang. Berdasarkan hal tersebut proses pembelajaran yang mendasar dengan mengambil bagian dari kehidupan sosial kelompok yang paling berpengaruh kuat dalam hidup kita.
BAB III
SIMPULAN
Berdasarkan hasil resume buku “Philosophy Of Education” chapter 2 tentang “Educating Persons” dapat disimpulkan sebagai berikut:
- “Emansipasi” adalah sesuatu yang berguna, karena pendidikan harus dijauhkan dari ketidaktahuan sehingga seseorang tidak mudah ditipu dan dibohongi. Karena itu, siswa dididik untuk memiliki pemahaman, pengetahuan, keterampilan, disposisi dimana orang memahami dunia sekitar.
- Kesetaran tidak boleh diidentifikasikan dengan perlakuan yang sama untuk setiap orang.
- Setara adalah tidak membedakan perlakuan orang yang satu dengan yang lain, sebelum alasan baik dibuat. Mungkin ada perbedaan perlakuan tetapi tanggung jawab pembuktian ada pada mereka yang bersikeras pada perbedaan.
- Tiga hal yang harus dicatat oleh masyarakat. Pertama, saling menghormati dan kerja sama. Kedua, bersilaturahmi. Ketiga, meningkatkan pemahaman dan pengalaman bersama.
- Pemecahan masalah matematika atau penyelidikan ilmiah atau penyelidikan historis terjadi dalam disiplin pemikiran tertentu yang memiliki struktur logis dengan konsep atau gagasan tersendiri, cara khasnya sendiri dalam menguji kebenaran apa yang dikatakan, cara khasnya sendiri untuk menjelaskan. Struktur logis seperti itu dari apa yang harus dipelajari dapat berkembang dari waktu ke waktu.
- Kualitas yang dimiliki tiap sekolah bertujuan untuk perkembangan sistem pendidikan disebut dengan “keseriusan moral”.
- Komunitas akan terwujud di berbagai tingkatan, dimana kelompok merefleksikan variasi pengalaman anggotanya karena masing-masing didorong untuk mengeksplorasi dan untuk menemukan nilai yang berharga.

0 Response to "TELAAH BUKU “PHILOSOPHY OF EDUCATION” KARYA RICHARD PRING Chapter 2: Educating Persons"
Post a Comment