ANALISIS FILOSOFIS TENTANG HEREDITAS, LINGKUNGAN, KEBEBASAN MANUSIA DAN HIDAYAH TUHAN DALAM PEMBENTUKAN MANUSIA BERKARAKTER ISLAMI (Filsafat Pendidikan Islam)


ABSTRACT

Penelitian ini dilatarbelakangi hal Analisis Filosofis Tentang Hereditas, Lingkungan, Kebebasan Manusia Dan Hidayah Tuhan Dalam Pembentukan Manusia Berkarakter Islami, Karena ini termasuk dalam hal Pendidikan Islam. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Apa yang dimaksud dengan hereditas, lingkungan, Kebebasan manusia dan inayah/hidayah Tuhan dalam pembentukan kepribadian manusia? Dan Bagaimana hubungan antara hereditas, lingkungan dan kebebasan manusia dan inayah/hidayah Tuhan dalam pembentukan kepribadian manusia dan lain-lain? Dalam penelitian ini, penulis menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research), yaitu dengan menggunakan hal literatur (kepustakaan), baik berupa buku, catatan, maupun laporan hasil penelitian dari penelitian terdahulu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Hereditas adalah pewarisan atau pemindahan biologis, karakteristik individu dari pihak orang tua. Menurut witherinton, hereditas adalah suatu proses penurunan sifat-sifat atau benih dari generasi ke generasi lain, melalui plasma benih, bukan dalam bentuk tingkah laku melainkan struktur tubuh. Lingkungan merupakan salah satu factor pendidikan yang ikut serta menentukan corak pendidikan islam, yang tidak sedikit pengaruhnaya terhadap anak didik. Lingkungan yang dimaksud disini ialah lingkungan yang berupa keadaan sekitar yang mempengaruhi pendidikan anak, Allah memerintahkan pada manusia agar menggunakan akalnya, untuk mempelajari alam semesta dan diri sendiri, kecuali untuk kemanfaatan hidupnya, juga untuk dapat menggunakan nama tuhannya yang telah menciptakan dirinya (beriman kepada Allah). hidayah adalah penjelasan dan petujuk jalan yang akan menyampaikan seseorang kepada tujuan sehingga meraih kemenangan di sisi Allah swt. Hubungan antara individu dan social saling pengaruh. Dalam kehidupan manusia dipengaruhi oleh hereditas, lingkungan dan kehendak bebas atas kuasa tuhan. Berdasarkan hal tersebutlah, Allah swt pada hakikatnya sudah memberikan hal kebebasan bagi manusia untuk memilih dan berusaha, tidak akan selalu bergantung dengan apa menjadi pembawaan (al warisah), karena hal tanpa usaha, maka hereditas ini sama saja tidak akan dapat maksimal dalam perkembangannya.
Kata Kunci : Filosofis, Hereditas, Lingkungan, Manusia, Hidayah, Berkarakter Islami


PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Pendidikan  dalam pengertian yang luas adalah meliputi semua perbuatan atau semua usaha dari generasi  tua untuk mengalihkan (melimpahkan) pengetahuannya, pengalamannya, kecakapan serta ketrampilannya kepada generasi muda, sebagai usaha untuk menyiapkan mereka agar dapat memenuhi fungsi hidupnya, baik jasmaniah maupun rohaniah.[1]
Manusia dalam pendidikan, menempati posisi sentral, selain dipandang sebagai subjek, manusia juaga dipandang sebagai objek pendidikan itu sendiri. Sebagai subjek manusia menentukan corak dan arah pendidikan. Pendidikan diadakan untuk manusia, maka wajar kalau manusialah yang merekayasa pendidikan itu untuk kemaslhatan dirinya dan kemanfaatan peradaban. Manusia punya potensi-potensi dan daya untuk dikembangkan, dipelihara dan diberdayakan, yang seterusnya menjadi makhluk yang berkepribadian dan berwatak. Sedangkan manusia sebagai objek pendidikan, manusia menjadi focus perhatian segala teori dan aktivitas kependidikan. Karena manusia itu dalam proses kehidupannya mengalami pertumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun mental, maka perlu ada bimbingan dan arahan agar sesuai dengan tujuan pendidikan.[2]
Pada dasarnya manusia itu terlahir dalam keadaan fitrah atau suci. Manusia diciptakan Allah dengan bermacam-macam perbedaan, yang disebabkan karena perbedaan hereditas (keturunan) dari masing-masing orang tua. Manusia merupakan makhluk social yang selalu membutuhkan orang lain, lingkungan sekitar dan tidak bisa hidup sendiri. Manusia membutuhkan lingkungan sebagai sarana untuk mengembangkan dirinya. Dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, lingkungan mempunyai peranan yang sangat penting. Manusia mempunyai kebebasan dalam melakukan segala hal, namun kebebasan itu haruslah kebebasan yang bertanggungjawab dan tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat. Antara hereditas, lingkungan dan kebebasan merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Ketiganya mempunyai andil dalam penentuan nasib atau sikap seseorang.[3]
  1. Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan hereditas, lingkungan, Kebebasan manusia dan inayah/hidayah Tuhan dalam pembentukan kepribadian manusia?
2.      Bagaimana hubungan antara hereditas, lingkungan dan kebebasan manusia dan inayah/hidayah Tuhan dalam pembentukan kepribadian manusia dan lain-lain?
  1. Metodelogi
1.      Jenis Penelitian
Dilihat dari jenisnya, penelitian ini dapat digolongkan kedalam penelitian perpustakaan (library research), yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara mengadakan studi atau penalaahan secara teliti terhadap buku-buk atau literature yang berkaitan dengan pokok permaslahan yang dibahas.
Menurut Noeng Mudhajir, studi pustaka setidaknya dapat dibedakan menjadi dua, pertama, studi pustaka yang memerlukan uji kebermaknaan empiris dilapangan dan kedua, studi pustaka yang lebih memerlukan olahan filosofis dan teoritis dari pada uji empiris.[4]Penelitian ini termasuk jenis penelitian yan kedua.
2.      Sumber Data
a.       Sumber data Primer
Karena penelitian ini merupakan penelitian perpustakaan, maka yang menjadi sumber primer penelitian ini adalah Sumber yang berkaitan dengan kita Filsafat Pendidikan Islam, penulis menggunakan Filsafat Pendidikan Islam menuju Pembentukan Karakter Menghadapi arus Global, Karya Prof. Dr. H. Maragustam, M.A. (Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta, 2016), Filsafat Pendidikan Islam 1, karya Drs. H. Abuddin Nata, MA. (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997) dan Filsfat Pendidikan Islam, karya Drs. Zuhairini, Dkk. (Jakarta: Bumi Aksara, 1995).
b.      Sumber Data Sekunder
Adapun yang menjadi sumber sekunder adalah buku-buku atau majalah, artikel atau hasil penelitian yang terkait dengan permasalahan yang dikaji, seperti Filsafat Pendidikan Islam yang terkait.
3.      Metode pengumpulan data
Sesuai dengan jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian perpustakaan, maka metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi yang dilakukan dengan cara mencari, memilih, menyajikan dan menganalisis data dari literature  atau sumber sumber yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti.[5]
Dokumen-dokumen yang dijadikan sebagai rujukan adalah kitas filsafat pendidikan islam untuk memperoleh data tentang hereditas, lingkungan, Kebebasan manusia dan inayah/hidayah Tuhan dalam pembentukan kepribadian manusia

4.      Metode analisis
Adapun  metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis isi (content analysis), dengan poa piker deduktif dan induktif. Analisis isi adalah metode yang mendasarkan diri pada isi (makna) suatu teks. Pola pikir deduktif adalah yang lebih ditekankan pada upaya pencarian kebenaran dengan menerapkan hokum-hukum universal pada hal-hal yang bersifat khusus, sedangkan pola pikir induktif adalah pola pikir yang bertolak dari asumsi, pernyataan atau fakta khusus yang akan bermuara pada simpulan yang bersifat umum (universal).[6]
PEMBAHASAN
A.    Pengertian heriditas, lingkungan, Kebebasan manusia dan inayah/hidayah Tuhan dalam pembentukan kepribadian manusia.
1.      Heriditas
Hereditas adalah pewarisan atau pemindahan biologis, karakteristik individu dari pihak orang tua. Menurut witherinton, hereditas adalah suatu proses penurunan sifat-sifat atau benih dari generasi ke generasi lain, melalui plasma benih, bukan dalam bentuk tingkah laku melainkan struktur tubuh.[7]
Menurut Morris L. Bigge (1982) bahwa sifat dasar/bawaan dasar moral adalah baik, jelek, atau netral sedangkan hubungan manusia dengan lingkungannya bersifat aktif, pasif, dan interaktif. Dari konsep ini berlanjut dengan lahirnya hukum empirisme, nativisme, dan konvergensi.[8]
a.       Teori (hukum) Empirisme
Teori empirisme ini mengatakan bahwa perkembangan dan pembentukan manusia itu ditentukan oleh faktor-faktor lingkungan, termasuk pendidikan. Adapun tokoh pelopor empirisme ialah John Locke (1632-1704) yang dikenal dengan teori “tabularasa” atau empirisme. Menurut teori tabularasa, bahwa tiap individu lahir sebagai kertas putih, dan lingkungan itulah yang memberi corak atau tulisan dalam kertas putih tersebut. Bagi John Locke pengalaman yang berasal dari lingkungan itulah yang menentukan pribadi seesorang.
b.      Teori (hukum) Nativisme
Teori ini dipelopori oleh Athur Schopenhauer (1788-1860) yang mengatakan bahwa perkembangan pribadi hanya ditentukan oleh bawaan (kemampuan dasar), bakat serta faktor-faktor endogen yang bersifat kodrati. Proses pembentukan dan perkembangan pribadi menurut aliran empirisme ditentukan oleh faktor bawaan ini, yang tidak dapat diubah oleh pengaruh alam sekitar atau pendidikan. Menurut Syam, bahwa aliran nativisme bersifat pesimistik, karena menerima kepribadian sebagaimana adanya, tanpa kepercayaan adanya nilai-nilai pendidikan untuk merubah kepribadian.
c.       Teori (hukum) Konvergensi
Teori konvergensi yang dipelopori oleh William Stern (1871-1938) ini, mengatakan bahwa perkembangan manusia itu berlangsung atas peengaruh dari faktor-faktor bakat atau kemampuan dasar (endogen atau bawaan) dan faktor alam sekitar (eksogen atau ajar) termasuk pendidikan dan sosial budaya. Karena dalam kenyataan bahwa kemampuan dasar yang baik saja, tanpa dibina oleh alam lingkungan terutama lingkungan sosial termasuk pendidikan tidak akan dapat mencontek pribadi yang ideal. Sebaliknya, lingkungan yang baik terutama pendidikan, tetapi tidak didukung oleh kemampuan dasar tadi, tidak akan menghasilkan kepribadian yang ideal. Oleh karena itu, perkembangan pribadi sesungguhnya adalah hasil persenyawaan antara faktor endogen dan eksogen.
Heriditas merupakan kecenderungan alami yang cabang-cabangnya untuk meniru sumber mulanya dalam komposisi fisik dan psikologi. Ahli heriditas lainnya menggambarkan sebagai penyalinan cabang-cabang dari sumbernya (Baqir sharif al-qarashi, 2003). Paling tidak ada tiga teori tentang heriditas yakni heriditas partiality, coalition, dan association. Heriditas dengan (1) Pernikahan (partiality) yakni anak yang lahir mewarisi salah satu dari dua sumber aslinya secara keseluruhan atau sebagian besar sifat-sifatnya. Misalnya, anak laki-laki menerima semua sifat fisik serta mental dari ayahnya, bukan dari ibunya. (2) Cara penyatuan (coalition) yakni sifat anak tidak menyalin cabang-cabang dari sumber aslinya. Anaknya tidak menanggung sifat-sifat fisik yang sama dengan kedua orangtua mereka, dan mungkin anak menyalin sifat dari kakeknya, baik dari pihak ibu maupun ayahnya. (3) cara penggabungan (association) yakni anak menyalin salah satu sifat tertentu dari sumber aslinya, seperti dari ayah dan menyalin sifat lain dari sang ibu. Seperti anak yang mungkin menerima kecerdasan dan tinggi badan dari sang ayah, namun wajah dan mata dari sang ibu.[9]
Prinsip-prinsip hereditas seperti ditulis oleh Ki RBS. Fudyartanto (2002) ada empat, yaitu prinsip reproduksi, prinsip konformitas, prinsip variasi, dan prinsip filial.
1)      Prinsip Reproduksi
Heriditas yang diturunkan kepada anak oleh orang tuanya menurut prisip ini adalah berbeda satu dengan yang lain. Antara orang tua dengan keturunannya (anak) mempunyai ciri-ciri yang berbeda. Misalnya, kepandaian anak berbeda dengan kepandaian orang tuanya. Kepandaian yang diperoleh si anak berasal dari belajar bukan dari sel sel benih yang diturunkan oleh edua orang tuanya.
2)            Prinsip konformitas
Berdasarkan prinsip konformitas setiap jenis atau golongan (spesies) akan menghasilkan jenisnya sendiri bukan jenis yang lain. Contohnya jenis manusia tentunya akan menghasilkan dengan jenis manusia, bukan yang lain.  Jika diperhatikan jenis dari keturunan yang dihasilkan, setiap anggota jenis mengikuti pola umum sesuai jenis masing-masing. Sering terjadi persamaan-persamaan antara keturunan dan orangtuanya, namun hal itu tidak mungkin persis. Tegasnya, antara anak dan orangtua (ayah, ibu) bisa saja mempunyai persamaan-persamaan, namun tetap diantara  anak dan orangtua mempunyai perbedaan-perbedaan. Pada prinsip konformitas ditilik dalam satu jenis mempunyai persamaan-persamaan yang besar dan mencolok.
3)      Prinsip variasi
Prinsip ini memberikan landasan berpikir bahwa sel-sel benih (germsel) berisi banyak determinan yang mempunyai mekanisme percampuran atau perpaduan sehingga menghasilkan perbedaan-perbedaan individual. Oleh karena itu, dapat dipahami anak sebagai keturunan dari orang tuanya (ayah, ibu, kakek, atau neneknya). Tetapi, ada pula anak yang tidak menyerupai orangtuanya. Variasi yang terjadi pada anak tersebut umumnya lebih tampak dari orangtua yang terdekat, misalnya dari ayah atau ibunya dibandingkan dengan kakek atau neneknya.
4)      Prinsip regresi filial
Prinsip regresi filial adalah bahwa sifat-sifat dari orangtuanya akan menghasilkan keturunan dengan kecenderungan pada sifat rata-rata pada umumnya[10].
Islam sangat memperhatikan factor al warisah(hereditas) ini dalam pembentukan kepribadian seseorang dan mengarahkan ke hal yang positif. Seperti Allah melebihkan keturunan Nabi Ibrahim dan keturunan Imran diatas bumi ini karena hereditas yang cendrung meniru dari generasi ke generasi(Q.S. Ali Imran(3):34).
Dari berbagai ayat Al Quran dan hadis memberi indikasi kuat bahwa factor hereditas akan diwarisi/ditiru oleh keturunan. Ilmu yang membahas tentang hereditas telah menetapkan, bahwa anak akan mewarisi sifat-sifat kedua orangtuanya, baik moral (al-khalqiyah), kinestetik (aljismiyah) Maupun intelektual (al-aqliyah), sejak masa kelahiranya (Abdullah Nashoh Ulwan,1976). Namun harus diakui pula tidak selamanya factor berjalan secara otomatis. Karena dengan adanya kehendak bebas manusia, akan mampu mengalahkan pengaruh factor al warisah dan lingkungan atas pertolongan Allah. Seperti anak Nabi Nuh, yang bernama Kan’an, ia kafir terhadap risalah bapaknya, sekalipun Nabi Nuh adalah manusia pilihan Allah dan menjadi rasulnya (Q.S. Hud.(11): 43 dan 46).[11]
2.      Lingkungan
Lingkungan merupakan salah satu factor pendidikan yang ikut serta menentukan corak pendidikan islam, yang tidak sedikit pengaruhnaya terhadap anak didik. Lingkungan yang dimaksud disini ialah lingkungan yang berupa keadaan sekitar yang mempengaruhi pendidikan anak.[12]
Al-qur’an tidak mengemukakan penjelasan mengenai lingkungan pendidikan islam tersebut, kecuali lingkungan pendidikan yang dalam praktek sejarah digunakan sebagai tempat berlangsungnya kegiatan pendidikan, antara lain yaitu dirumah, masjid, sanggar kegiatan para sastrawan, madrasah, dan universitas.[13]
Lingkungan atau alam sekitar punya peranan penting dalam pendidikan Islam. Karena lingkungan merupakan elemen yang signifikan dalam pembentukan personalitas serta pencapaian keinginan keinginan individu dalam kerangka umum peradaban. Biasanya inidividu-individu dimasyarakat mengikuti kebiasaan yang ada di sekitarnya dengan sadar atau tidak sadar. Lingkungan itu sebenarnya mencakup segala materiil dan stimuli didalam dan diluar diri individu, baik yang bersifat fisiologis, psikologis, maupun sosio kultural serta tradisi. Dengan demikian, lingkungan dapat diartikan secara fisiologis, secra psikologis, dan secara sosio kultural.
Secara filosofis, lingkungan meliputi segala kondisi dan materi jasmani didalam tubuh seperti gizi, vitamin, air, zat asam, suhu, system syaraf, peredaran darah, pernafasan, pencernaan makanan, kelenjar kelenjar indokirin sel sel pertubuhan, dan kesehatan jasmani. Secara psikologis, lingkungan mencakup segenap stimulasi yang diterima oleh individu mulai sejak zaman konsesi, kelahiran sampai matinya. Secara Sosio-kultural, lingkungan mencakup segenap stimulasi interaksi dan kondisi eksternal dalam hubungannya dengan perlakuan ataupun karya orang lain.[14]
Lingkungan berpengaruh besar dalam pembentukan krakter seorang individu. Selain lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat pun memiliki pengaruh yang sangat besar bagi pengembangan karakter. Walaupun dilingkungan keluarga dan dilingkungan sekolah anak dididik untuk memiliki karakter baik, jika lingkungan masyarakat memiliki karakter buruk yang dominan, maka anak banyak berinteraksi dengan lingkungan masyarakatnya akan terpengaruh menjadi tidak baik. [15]
Untuk melaksanakan pendidikan Islam di dalam lingkungan ini perlu kiranya diperhatikan faktor-faktor yang ada di dalamnya sebagai berikut:[16]



a.       Perbedaan lingkungan keagamaan
      Yang dimaksud dengan lingkungan ini adalah lingkungan alam sekitar di mana anak didik berada, yang mempunyai pengaruh terhadap perasaan dan sikapnya akan keyakinan atau agamanya. Lingkungan ini besar sekali peranannya terhadap keberhasilan atau tidaknya pendidikan agama, karena lingkungan ini memberikan pengaruh yangy positif maupun negatif terhadap perkembangan anak didik. Yang dimaksud dengan pengaruh positif ialah pengaruh lingkungan yang memberi dorongan atau motivasi serta rangsangan kepada anak didik untuk berbuat atau melakukan segala sesuatu yang baik, sedangkan pengaruh yang negatif ialah sebaliknya, yang berarti tidak memberi dorongan terhadap anak didik untuk menuju arah yang baik. Dengan faktor  lingkungan yang demikian itu yakni yang menyangkut pendidikan  agama perlu anak didik diberi pengertian dan pengajaran dasar-dasar keimanan. Kareba Allah telah menciptakan manusia dan seluruh isi alam ini dengan berbagai ragam mulai keyakinan, keagamaan, jenis suku bangsa dan sebagainya..
b.      Latar belakang pengenalan anak tentang keagamaan
Di samping pengaruh perbedaan lingkungan anak dari kehidupan agama, maka timbul suatu masalah yang ingin diketahui anak tentang seluk beluk agama, seperti anak menanyakan tentang siapa Tuhan itu, di mana letak surga dan neraka itu, siapa yang membuat alam ini dan sebagainya.
3.      Kebebasan Manusia
Adapun istilah manusia selalu dikaitkan dengan tema bahasa arab yang antara lain: “insan”, “basyar”, dan “an-naas”. Penyebutan manusia juga seringkali dikaitkan dengan istilah-istilah yang melekat padanya, yaitu manusia sebagai makhluk sosial (homo socius), manusia sebagai mahkluk yang bertuhan, manusia sebagai hewan yang berbicara (hayawan al-naatiq), manusia sebagai makhluk yang memerlukan pendidikan (homo educandum), dan manusia sebagai makhluk yang dapat mendidik (homo educandus). Adapun peran manusia dalam perspektif Pendidikan Islam dinyatakan dengan tanggung jawabnya sebagai khalifah atau pemimpin di muka bumi ini. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an (QS. Al-An’am: 165 dan QS. Al-Baqarah: 30)[17].
Tuhan telah melengkapi manusia dengan potensi-potensi rohaniah yang lebih dari makhluk-makhluk hidup yang lain, terutama potensi akal, maka pada manusia juga dibebani tugas, di samping tugas untuk memanfaatkan alam ini dengan sebaik-baiknya juga tugas untuk memelihara dan melestraikan alam ini dan dilarang untuk merusaknya.[18]
Allah memerintahkan pada manusia agar menggunakan akalnya, untuk mempelajari alam semesta dan diri sendiri, kecuali untuk kemanfaatan hidupnya, juga untuk dapat menggunakan nama tuhannya yang telah menciptakan dirinya (beriman kepada Allah).[19] manusia diberikan kedudukan oleh tuhan sebagai penguasa, pengatur kehidupan dimuka bumi ini.[20] Manusia sebagai makhluk yang dapat dididik dapat dipahami dari firman Allah sebagai berikut: artinya dan tuhan mengajarkan kepada adam nama nama segalanya (Q.S. Al baqarah : 31).[21]
4.      Inayah/Hidayah Allah
Membahas tentang hidayah berarti hal nya membahas perkara yang paling penting dan kebutuhan yang paling besar dalam kehidupan manusia. Betapa tidak, hidayah adalah sebab utama keselamatan dan kebaikan hidup manusia di dunia dan akhirat. Sehingga barangsiapa yang dimudahkan oleh Allah Ta’ala untuk meraihnya, maka sungguh dia telah meraih keberuntungan yang besar dan tidak akan ada seorangpun yang mampu mencelakakannya. Allah Ta’ala berfirman:
“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk (dalam semua kebaikan dunia dan akhirat); dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi (dunia dan akhirat)” (QS al-A’raaf:178).
Kata Hidayah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti petunjuk atau
bimbingan dari Tuhan,3 berasal dari bahasa Arab atau bahasa al-Qur’an yang telah
menjadi bahasa Indonesia. Hidayah berakar dari kata – هدى – يهدي – هديا – هدى – هدية
,هدايةyang berarti memberi petunjuk atau menunjukkan.4 Kata hudan ( )هدىberarti
petunjuk adalah antonim (lawan) dari kata dhalal (ضلال)  berarti kesesatan. Selain
bermakna petunjuk, kata hidayah juga bermakna bimbingan, keterangan dan
kebenaran. Karena itu kata ini sering disinonimkan dengan kata dalalah (petunjuk)
dan irsyad (bimbingan). Secara istilah (terminologi), hidayah adalah penjelasan dan
petujuk jalan yang akan menyampaikan seseorang kepada tujuan sehingga meraih
kemenangan di sisi Allah swt. [22]
Di dalam al-Qur’an sesungguhnya tidak ditemukan kata hidayah ( ) الهداية
tertulis secara eksplisit, tetapi kata-kata yang memiliki akar kata yang sama
ditemukan sebanyak 293 ayat dengan seluruh derivasinya, di antaranya dengan kata
hada (39), ahda (4), tahdi (72), yahdi (22), ihda’(2), hudu (2), hudiya (1), yuhda (1),
ihtada (39), had,(10), al-huda (85), ahda (7), muhtadin (21), dan al-hady (9) kali. Jadi, dapat dipahami bahwa dalam al-Qur’an dan hadis Nabi saw. tidak
ditemukan kata al-hidayah (الهداي)  tertulis secara eksplisit, melainkan dalam bentuk
kata yang memiliki akar kata yang sama (kata derivasinya) dalam jumlah yang cukup
banyak [23]
Pernah ada seseorang yang matanya ditutup , disuruh berjalan. Akhirnya menangis. Mengapa? Karena setiap langkahnya penuh dengan keraguan. Merasakan setiap langkahnya selalu berisiko. Mungkin terpeleset, jatuh dari tangga, kepala terantuk, atau tubuh nya membentur dinding. Orang yang tidak mendapatkan hidayah dari Allah, hidup didunia ini terasa lelah, takut, tegang, wawas, cemas, gelisah dan binggung tidak sedikit orang kaya malah menderita dengan kekayaannya.[24]
B.     Hubungan Hereditas, Lingkungan, dan Kebebasan Manusia.
Manusia dilahirkan diatsa dunia. Ia berada didalam dunia. Akan tetapi beradanya manusia di dalam dunia ini lain artinya dengan air di dalam gelas. Air dalam gelas adalah dua hal yang terpisah. Akan tetapi manusia di dalam dunia menyatu dengan dunia. Manusia merupakan kesatuan dengan dunia. Manusia tak dapat dipisahkan dari alam dunia. Hal ini berarti manusia bukan seperti pribadi yang dari alam sekitarnya, melainkan bersama-sama dengan sekitarnya, baik secara fisik, dan social ini bersifat kausal (sebab akibat).[25]  
Kejadian ini akan tampak jelas sekali kalau kita memperhatikan proses perkembangan dan pertumbuhan manusia itu. Pada saat dilahirkan dari Rahim ibunya, manusia tersebut adalah makhluk yang paling lemah, tak berdaya. Dia tak mungkin hidup terus tanpa bantuan orang lain, orang tuanya dan orang sekitarnya.[26]
Demikian Islam mengakui keberadaan pengaruh heriditas dan alam lingkungan baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial dalam pembentukan kepribadian manusia. Namun kedua faktor yakni endogen (Hereditas) dan Eksogen (alam lingkungan) tersebut tidaklah bejalan secara otomatis. Artinya sekalipun seseorang berada pada lingkungan sekitar baik dan heriditasnya baik, belum tentu ia menjadi baik pula. Sebaliknya, sekalipun seseorang berada pada lingkungan yang jelek dan heriditasnya kurang baik, mungkin saja ia menjadi baik. Karena dengan kehendak bebas manusia dan kemampuannya sesuai dengan batas-batas kemanusiaannya akan dapat mengalahkan kedua faktor tersebut atas pertolongan Allah dan hidayah Allah. Menurut Imam Ibnu Katsir bahwa , hidayah ini dibatasi masalah iman saja Yang dimaksud dengan hidayah adalah sesuatu yang dihujamkan dalam kalbu seseorang yakni Iman.[27]
C.  Kesimpulan
Nilai-nilai (struktur) ide dasar pendidikan islam disini ialah dasar yang menjadi titik tolak dalam membangun isi dan subtansi persoalan persoalan pendidikan islam. Struktur ide dasar itu yang paling penting ialah bagaimana pandangan Islam mengenai hakikat hereditas, Lingkungan, kebebasan manusia dan hiyatullah. Hal ini bertujuan agar manusia dapat mengali nilai-nilai kebenaran dan kemanfaatan yang terkandung didalam diri sendiri dan lingkungan kehidupan yang mereka alami serta untuk mengarahkan manusia kepada pengakuan eksitensial dirinya sebagai hamba Allah, terutama untuk ma’rifatullah yakni tauhid.
Hubungan antara individu dan social saling pengaruh. Dalam kehidupan manusia dipengaruhi oleh hereditas, lingkungan dan kehendak bebas atas kuasa tuhan. Berdasarkan hal tersebutlah, Allah swt pada hakikatnya sudah memberikan hal kebebasan bagi manusia untuk memilih dan berusaha, tidak akan selalu bergantung dengan apa menjadi pembawaan (al warisah), karena hal tanpa usaha, maka hereditas ini sama saja tidak akan dapat maksimal dalam perkembangannya.


DAFTAR PUSTAKA

Furchan. Arief dan Maimun. Agus, Studi Tokoh: Metode Penelitian mengenai tokoh. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.
Gymnastiar. Abdullah, Meraih Bening Hati dengan menajemen Qolbu. Jakarta: Gema Insani, 2002.
Helmawati, Pendidikan Karakter Sehari-hari. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2017.
http://ellykaruniawt.blogspot.com/2013/03/filsafat -pendidikan-Islam.html?m=1, diakses tanggal 11 september 2019, pkl: 06.30
Maragustam, Filsafat Pendidikan Islam Menuju Pembentukkan Karakter Menghadapi Arus Global. Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta,2016.
Muhadjir. Noeng, Metodelogi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Rake Sarasin, 1996.
Nata. Abuddin, Filsafat Pendidikan Islam.  Jakarta: logos wacana ilmu., 1997.
Nata. Abuddin, Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005.
Puspitasari. Diyah, “Hakikat Hereditas,Lingkungan Dan Kebebasan Manusia”, E-Learning.
Rustina N, Konsep Hidayah Dalam Al-Qur’an. Jurnal Fikratuna, Volume 9, Nomor 1 2018.
Zuhairini, Dkk. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi aksara, 1995.
.





[1] Zuhairini, Dkk. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi aksara, 1995. Hlm. 92
[2] Maragustam, Filsafat Pendidikan Islam Menuju Pembentukkan Karakter Menghadapi Arus Global, Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta.,2016, hlm. 7-8
[3] Diyah Puspitasari, “Hakikat Hereditas,Lingkungan Dan Kebebasan Manusia”, E-Learning.
[4] Noeng Muhadjir, Metodelogi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Rake Sarasin, 1996. hlm. 159.
[5] Arief Furchan dan Agus Maimun, Studi Tokoh: Metode Penelitian mengenai tokoh. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005. hlm. 55

[7] http://ellykaruniawt.blogspot.com/2013/03/filsafat -pendidikan-Islam.html?m=1, diakses tanggal 11 september 2019, pkl: 06.30
[8] Maragustam, Filsafat Pendidikan Islam Menuju Pembentukkan Karakter Menghadapi Arus Global, Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta.,2016, hlm. 100-101.

[9] Ibid, hlm.101-102

[10] Maragustam, Filsafat Pendidikan Islam Menuju Pembentukkan Karakter Menghadapi Arus Global Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta.,2016, hlm. 102-104.
[11]  Ibid, hlm 104-106
[12] Zuhairini, Dkk. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi aksara, 1995. hlm 173
[13] Abuddin nata, Filsafat Pendidikan Islam.  Jakarta: logos wacana ilmu., 1997. hlm 111.
[14] Maragustam, Filsafat Pendidikan Islam Menuju Pembentukkan Karakter Menghadapi Arus Global. Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta.,2014, hlm 106.
[15] Helmawati, Pendidikan Karakter Sehari-hari. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2017, hlm 20-21
[16] Zuhairini, Dkk. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi aksara, 1995. hlm 173
[17] Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005, hlm 88-90.
[18] Zuhairini, Dkk. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi aksara, 1995. hlm 85
[19] Ibid. hlm 85-86
[20] Ibid. hlm 87
[21] Ibid. hlm 90
[22] Rustina N, Konsep Hidayah Dalam Al-Qur’an. Jurnal Fikratuna, Volume 9, Nomor 1 2018. Hlm. 84
[23] Ibid. hlm. 86
[24] Abdullah Gymnastiar, Meraih Bening Hati dengan menajemen Qolbu. Jakarta: Gema Insani, 2002 hlm 9-10
[25] Zuhairini, Dkk. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi aksara, 1995. hlm 80
[26] Ibid. hlm 81
[27] Maragustam, Filsafat Pendidikan Islam Menuju Pembentukkan Karakter Menghadapi Arus Globa. Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta.,2014, hlm 109.


0 Response to " ANALISIS FILOSOFIS TENTANG HEREDITAS, LINGKUNGAN, KEBEBASAN MANUSIA DAN HIDAYAH TUHAN DALAM PEMBENTUKAN MANUSIA BERKARAKTER ISLAMI (Filsafat Pendidikan Islam)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel