BIROKRASI, PERILAKU DAN BUDAYA DALAM ORGANISASI PENDIDIKAN ISLAM


BIROKRASI, PERILAKU DAN BUDAYA DALAM ORGANISASI PENDIDIKAN ISLAM


Birokrasi, dpapuka



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Dunia pendidikan yang didalamnya diperlukan sebuah organisasi dalam rangka memperlancar fungsi dan proses pendidikan. Pengalaman orang dalam organisasi akan membentuk dan membentuk kembali diri mereka sehingga pada akhirnya akan membentuk komitmen emosional dan model mental yang berakar amat dalam yang membimbing perilaku setiap orang. Organisasi pendidikan dalam menjalankan fungsinya tidaklah dapat dipisahkan dengan birokrasi. Pada dasarnya, birokrasi ini hakikatnya adalah salah satu perangkat yang fungsinya untuk memudahkan pelayanan publik. Birokrasi digunakan untuk dapat membantu mempermudah dalam memberikan layanan pendidikan yang pasti akan mempengaruhi dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.
Produk birokrasi bukan sekadar menghasilkan perumusan sebuah kebijakan, namun mempengaruhi pola perilaku manusianya serta nilai-nilai budaya organisasinya. Selanjutnya memahami birokrasi dalam lembaga pendidikan Islam bukanlah suatu produk tunggal, melainkan produk politik yang memiliki tujuan tertentu baik dalam memajukan sistem kelembagaannya, ideologinya, maupun secara kolektif.[1] Birokrasi dalam pandangan Max Weber, sebagai bentuk tipe masyarakat rasional yang memungkinkan setiap anggota dalam sebuah lembaga atau kelompok mempunyai tugas, wewenang dan tanggung jawab tertentu, yang dapat memberikan sumbangsih bagi tercapainya tujuan suatu lembaga atau organisasinya.[2]
Perilaku dan budaya dalam organisasi pendidikam juga elemen yang sangat mempengaruhi pencapaian tujuan lembaga pendidikan Islam. Selanjutnya dengan memahami konsepsi di atas maka birokrasi, perilaku dan budaya dalam organisasi pendidikan Islam merupakan elemen yang sangat mempengaruhi pencapaian tujuan pendidikan Islam itu sendiri. Berdasarkan kajian inilah maka penyusun menganggap perlu adanya pembahasan mendalam tentang birokrasi, perilaku dan budaya dalam organisasi pendidikan Islam.
B.       Rumusan Masalah
Dari pembahasan di atas pemakalah merumuskan beberapa masalah yang disebutkan sebagai berikut:
1.      Bagaimana birokrasi dalam organisasi pendidikan Islam?
2.      Bagaimana perilaku dalam organisasi pendidikan Islam?
3.      Bagaimana budaya dalam organisasi pendidikan Islam?
C.      Tujuan Makalah
Adapun tujuan penulisan yang dimaksud dari pembahasan tentang makalah ini adalah:
1.      Memahami birokrasi dalam organisasi pendidikan Islam.
2.      Memahami perilaku dalam organisasi pendidikan Islam.
3.      Memahami budaya dalam organisasi pendidikan Islam.













BAB II
PEMBAHASAN

A.    Birokrasi dalam Organisasi Pendidikan Islam
Birokrasi dalam bahasa Yunani disebut dengan “kratein” yang berarti mengatur. Sedangkan dalam bahasa Prancis, kata birokrasi disinonimkan dengan kata “bureau” artinya kantor.[3] Secara umum, konsep birokrasi banyak diperkenalkan oleh Max Weber, seorang sosiolog Jerman pada awal abad ke-20, konsep ini dimunculkan karena sekitar tahun 1900-an, revolusi industri di Inggris mulai menampakkan pengaruhnya pada perubahan struktur sosial yang mendorong pemerintah terlibat dalam berbagai kegiatan publik. Max Weber menjelaskan sebagaimana yang dikutip oleh Sinambela, bahwa birokrasi merupakan suatu bentuk organisasi yang memiliki hierarki, spesialisasi peranan dan tingkat kompetensi tinggi, yang ditunjukkan oleh para pejabat yang mengisi peranan birokrasi sehingga efektif dan efisien.[4] Charles Murane mengemukakan bahwa birokrasi sebagai bagian dari politik modern yang mempertimbangkan efisiensi dan rasionalitas dalam pekerjaan.[5]
Konsep birokrasi di atas, penulis memahami bahwa Weber lebih menekankan konsep birokrasi sangat relevan dengan konteks masyarakat modern, karena bagaimana menciptakan relasi kerja yang jelas dan lebih terarah, mempertimbangkan efisiensi waktu, dilaksanakan berdasarkan kompetensi dan profesionalitas, serta lebih bersifat legal-rational (jelas dan dapat dipertanggung jawabkan). Birokrasi dalam pelaksanaannya, seharusnya menjadi alat untuk menyalurkan tujuan dan pembagian kerja yang terstruktur, sehingga beban kerja tidak hanya dilimpahkan pada satu orang saja. Weber menjelaskan, beberapa tipe ideal birokrasi (ideal type of bureaucracy), sebagaimana yang dikutip oleh Syakir menjelaskan bahwa: Pertama, birokrasi mencerminkan jenjang kewenangan yang berimplikasi pada wilayah kerja antara atasan dan bawahan. Kedua, birokrasi juga ditandai oleh adanya sistem aturan yang menegaskan hak dan kewajiban setiap pemegang jabatan. Ketiga, birokrasi juga menampilkan sistem prosedur yang bertujuan memberikan kejelasan bagaimana suatu pekerjaan diselesaikan dalam tahap-tahap yang saling berkaitan antara yang satu dengan yang lain. Keempat, birokrasi seharusnya mendorong bagaimana profesionalitas kerja. Kelima, birokrasi juga mensyaratkan berlangsungnya seleksi dan promosi personil atas dasar pertimbangan kompetensi.[6]
Ahmad Ludjito, memberikan pandangan bahwa substansi dari birokrasi lembaga pendidikan Islam, merupakan komponen peraturan yang terdiri atas kebijakan, agenda-agenda pendidikan yang bersifat formal dan non formal, akademik, umum, maupun keagamaan.[7] Selanjutnya berangkat dari paradigma dan konsep birokrasi di atas, penulis memberikan uraian bahwa tujuan birokrasi dalam lembaga pendidikan Islam adalah: Pertama, penyusunan struktur pelaksana dan pembagian tugas kerja. Kedua, merumuskan dan menetapkan agenda-agenda lembaga yang akan dijalankan. Ketiga, pelaksanaan agenda kerja yang mengarah pada program kelembagaan yang telah direncanakan. Keempat, pengembangan program kerja dan program-program kelembagaan lainnya. Kelima, pendampingan pelaksanaan program kerja oleh kepala sekolah atau pemegang wewenang. Kelima, evaluasi sebagai bentuk kontrol dan tindak lanjut dari program kerja yang sudah dilaksanakan.
B.     Perilaku dalam Organisasi Pendidikan Islam
Perilaku organisasi dapat dipahami secara tepat dengan terlebih dahulu harus memahami beberapa konsep mendasar terkait dengan perilaku organisasi, yaitu konsep perilaku dan organisasi.[8] Pandangan lama tentang organisasi mengungkapkan bahwa organisasi merupakan suatu wadah interaksi orang-orang untuk mencapai suatu tujuan. Pandangan terkini organisasi dipandang sebagai suatu hal yang lebih dinamis dari pada suatu wadah. Organisasi dipandang sebagai satuan sistem sosial untuk mencapai tujuan bersama melalui usaha bersama atau kelompok.
Perilaku organisasi sering disingkat sebagai OB (Organisational Behavior) adalah studi mengenai perilaku manusia, mengenai titik temu antara perilaku manusia dan organisasi, serta organisasi itu sendiri.[9] Disamping itu, perilaku organisasi menerapkan pengetahuan yang diperoleh mengenai perorangan, kelompok dan efek dari struktur pada perilaku, agar organisasi bekerja dengan lebih efektif. Perilaku organisasi tidak lepas dari persoalan hubungan antara individu dengan individu yang lainnya (interaksi sosial), hubungan individu dengan organisasinya (lembaga), serta hubungan individu dengan lingkungan sekitarnya. Cepi Triatna memberikan pandangan bahwa ruang lingkup perilaku organisasi meliputi, bagaimana memahami orang-orang dalam satuan sosial, mengelola, dan memprediksi bagaimana mereka dapat bekerja secara efektif.[10] Dalam konteks lembaga pendidikan Islam, perilaku organisasi tersebut dapat dipelajari pada dua aspek yakni: Pertama, manajemen kerja (managing work), yakni sebuah konsep yang dapat mengetahui bagaimana perilaku individu beradaptasi dengan lingkungan kerjanya, bagaimana menjalankan program kerja, serta mengontrol tujuan kerja. Kedua, manajemen orang (managing people), yakni aspek-aspek yang terkait dengan bagaimana faktor komunikasi, kepemimpinan, dan motivasi dari setiap individu dalam menjalankan tugas dan peran kelembagaan.[11] Perilaku organisasi pada dasarnya menunjukkan sikap dan kemampuan dari setiap individu, dan kelompok bagaimana dalam memahami dan menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dalam memajukan organisasinya.
Perilaku dalam organisasi pendidikan Islam, dianggap penting karena dapat mempengaruhi kualitas pekerjaan. Penulis memahami bahwa tindakan konkret yang dapat dilakukan oleh seorang pemimpin (leader) kaitannya dengan pengembangan perilaku organisasi adalah: Pertama, mempelajari dengan baik individu maupun kelompok yang ada dalam organisasi tersebut sebagai langkah awal untuk mendeteksi pola interakasi dan perilaku lebih mendalam dari setiap anggota organisasi. Kedua, membangun pola interaksi yang flexible untuk menumbuhkan keterbukaan dan kolektivitas kerja. Ketiga, kepercayaan pada setiap anggota organisasi bahwa mereka mampu menyelesaikan dengan baik tugas dan tanggung jawab yang telah diberikan. Keempat, loyalitas artinya sikap bertanggung jawab yang ditunjukkan oleh seorang pemimpin menjadi nilai dasar bagi anggota organisasi untuk berperilaku loyal terhadap organisasinya.
Peran lembaga pendidikan Islam, kendali lembaga dalam hal ini peran seorang pemimpin agar menghasilkan perilaku organisasi yang ideal, Stephen P. Robbins sebagaimana yang dikutip Cepi Triatna menggambarkan secara sederhana sebagaimana skema di bawah ini:[12]
Input                             Proses                               Output
Menunjukkan bahwa input manusia dalam organisasi harus dikelola secara proporsional (sesuai kebutuhan dan kapasitas), untuk meminimalisir berbagai fenomena kerja dan perilaku organisasi yang tidak sesuai dengan kapasitas dan kebutuhan kerja, hal ini memungkinkan terjadinya ketidak puasan kinerja dan mempengaruhi proses dan produktivitas organisasi, karena pekerjaan dijalankan oleh yang bukan ahlinya, sehingga faktor tersebut berpengaruh sampai pada output (hasil).
C.      Budaya dalam Organisasi Pendidikan Islam
Budaya berasal dari bahasa Sansekerta budhayah bentuk jamak dari kata budhi artinya akal atau pemikiran, jadi makna budaya merupakan segala sesuatu yang berkaitan dengan akal pikiran, nilai-nilai, sikap dan mental serta hasil karya dan pemikiran manusia.[13] Sedangkan kata organisasi dalam bahasa Inggris disebut organization (kelompok, wahana), sehingga organisasi merupakan sarana/alat bagi orang-orang yang terlibat dalam satu organisasi untuk melakukan berbagai usaha dalam mencapai tujuan tertentu.[14]
Adam Ibrahim Indrawijaya, mengemukakan bahwa budaya organisasi adalah keseluruhan nilai, norma-norma, kepercayaan, serta pandangan yang dianut dan dijunjung tinggi bersama oleh para anggota organisasi, sehingga kebudayaan tersebut memberi arah dan corak kepada cara berfikir dan pandangan kehidupan (way of thinking, way of life).[15] Stoner, menjelaskan sebagaimana yang dikutip oleh Suwarto dan Koeshartono, bahwa budaya organisasi adalah sejumlah pemahaman penting seperti norma, nilai, sikap, dan keyakinan yang dimiliki bersama oleh anggota organisasi.[16]
Batasan mengenai makna budaya organisasi yang ditanamkan dalam suatu sistem organisasi kemudian diyakini oleh setiap anggota sangat mempengaruhi sikap dan perilaku anggota organisasinya yang kemudian berpengaruh pada kinerja organisasi. Bentuk dari pengaruh budaya organisasi pada suatu lembaga bisa kita lihat pada perbedaan dua lembaga, misalnya antara lembaga pendidikan Islam (madrasah) dan lembaga pendidikan umum. Tentu jika berkunjung kedua lembaga tersebut kita akan merasakan atmosfer yang sangat berbeda. Mulai dari pintu masuk gerbang, hingga interaksi sosialnya memberikan gambaran bagaimana simbol dan budaya organisasinya. Nilai dasar budaya organisasi yang ditanamkan dalam suatu lembaga, memberikan perbedaan dan pengaruh yang sangat signifikan baik melalui simbol-simbol, komunikasi, hingga interaksi sosial lainnya.
Pentingnya budaya dalam institusi pendidikan atau sekolah menjadi perhatian pengelola dan pemerhati pendidikan karena budaya sekolah dipandang sebagai hal mendasar dalam kemampuan sekolah untuk membangkitkan dan mempertahankan peningkatan mutu/kualitas sekolah. Selain itu, budaya sekolah juga terkait dengan budaya kelas-kelas yang ada di sekolah tersebut. Pengembangan budaya sekolah akan melahirkan kemampuan organisasi untuk sukses dalam melakukan suatu perubahan atau merespons suatu perubahan. Budaya organisasi disekolah dapat menjadikan para pengelola sekolah aktif, kreatif, intelek, adaptif, mampu mengorganisasi diri, dan terus mencari makna dari setiap kegiatan yang dilakukan.
Adapun budaya organisasi yang perlu dikembangkan bagi kemajuan lembaga pendidikan Islam adalah sebagai berikut:
1.     Membangun Tim Kerja di lembaga pendidikan Islam
Tim kerja dapat menangani pemecahan masalah dan pembuatan keputusan di lembaga pendidikan Islam dan pada Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan. Keberadaan Tim Kerja adalah untuk membangun hubungan lebih kuat di antara yang terlibat dalam aktivitas manajemen sekolah. Pembentukan tim kerja ini pada akhirnya dapat menguntungkan para pelajar, sebab semakin lebih banyak orang yang menggunakan perspektif lebih luas untuk menolong mensukseskan program unggulan sekolah yang diharpkan bersama.
Menurut Lewis, Jr [17]bahwa mengubah perilaku (motivasi) harus dilaksanakan melalui medium tim kerja dari pada melalui usaha individu. Hal ini menjadi tanggung jawab kepala lembaga pendidikan Islam dan pengawas untuk mempengaruhi perilaku anggota melalui usaha tim kerja yang aktif”. Untuk itu, tim kerja merupakan bahagian penting dalam menangani perubahan yang diinginkan di sekolah. Selain proses pemberdayaan personil, sekaligus membentuk budaya sekolah yang baik bagi peningkatan kualitas sekolah sesuai harapan masyarakat. Pembentukan tim kerja dalam pendekatan kepemimpinan di sekolah adalah dalam rangka mengembangkan kemampuan personil dan rasa tanggung jawab dalam sekolah. Menurut Overton, hal yang perlu dipertimbangkan dalam kepemimpinan tim kerja, yaitu: (1) keadilan, (2) ketenangan, (3) sikap positif, (4) mau mendengarkan, (5) kesabaran, (6) pengetahuan”. Sebuah tim kerja di sekolah harus memiliki berbagai keterampilan yang memungkinkan saling mengisi dan melengkapi untuk mewujudkan program unggulan yang diinginkan sebagai realisasi dari mengejar kualitas.[18]
Keberadaan tim yang diinginkan adalah tim yang kuat dengan keterampilan berbeda antara anggota tim, tujuan yang ingin dicapai terbagi kepada semua anggota, serta memiliki komitmen dalam memperjuangkan tujuan melalui komunikasi yang antara sesama anggota tim dalam suatu kepemimpinan. Tim kerja memiliki beberapa pengaruh positif. Pertama; semakin banyak orang terlibat dalam pengambilan keputusan, akan semakin baik dalam melakukan keputusan tersebut. Kedua; anggota tim secara terus menerus belajar dari orang lain dalam timnya yang memiliki gagasan cemerlang dan segar. Ketiga; lebih banyak dan baik informasi serta tindakan yang berasal dari kelompok orang dengan keragaman sumberdaya dan keterampilan. Keempat; adalah baik kesempatan bahwa kesalahan-kesalahan dapat diatasi dan diperbaiki. Kelima; risiko yang ada ditangani secara bersama karena dari kekuatan bersama kelompok. Sesuatu yang dirasa akan terjadi, bahwa organisasi dapat lebih berharap semua pelaku mungkin dalam organisasi yang sama, karena ada kegembiraan dan pengertian, Keenam: tim merupakan cara yang sangat efektif dalam meningkatkan produktivitas dan moral.
2.     Melaksanakan fungsi-fungsi manajemen secara konsisten.
Organisasi yang baik, akan melakukan kegiatan manajemen yang diawali dari perencanaan dan diakhiri dengan evaluasi yang dilakukan secara konsisten dan tuntas. Kegiatan yang berulang mengakibatkan menjadi budaya bagi organisasi lembaga madrasah/pesantren itu sendiri. Kebanyakan kegiatan ini dilakukan secara ketat diawal perjalanan lembaga pendidikan dan kendur ditengah bahkan diakhir. Dengan masuknya kegiatan ini menjadi budaya organisasi lembaga madrasah/pesantren, diharapkan regenerasi pimpinan, pendidik dan tenaga kependidikan akan meneruskan tradisi ini.
3.      Melaksanakan peraturan dan tata tertib lembaga pendidikan Islam dengan rasa tanggung jawab.
Peraturan yang ditegakkan untuk semua lapisan bagi pimpinan, pendidik, tenaga kependidikan serta siswa/santri, perlu menjadi budaya bagi lembaga. Namun penegakan disiplin harus dilaksanakan secara arif dan bijaksana, karena penegakan disiplin terhadap peraturan yang dilakukan secara kaku dapat menjadi bumerang bagi lembaga itu sendiri. Intinya penegakan disiplin diadakan untuk teraturnya kegiatan pendidikan yang dilakukan. Menurut penelitian Lislie J. Fyans, Jr dan Martin L. Maehr dalam Asri Laksmi Riani bahwa ada lima dimensi budaya organisasi di sekolah/madrasah/pesantren yang perlu dikembangkan yaitu: (1) Tantangan Akademik, (2) Prestasi komparatif, (3) Penghargaan terhadap prestasi, (4) Komunitas sekolah/madrasah/pesantren, (5) Persepsi tentang tujuan sekolah/madrasah/pesantren.[19] Bila beberapa komponen di atas dilakukan secara konsisten maka budaya organisasi di madrasah/pesantren cenderung menjadi kuat. Budaya organisasi bertindak sebagai perekat sosial yang mengikat sesama anggota organisasi bersama-sama dalam satu visi dan tujuan yang sama.








BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
1.      Birokrasi dalam organisasi pendidikan Islam adalah: Pertama, penyusunan struktur pelaksana dan pembagian tugas kerja. Kedua, merumuskan dan menetapkan agenda-agenda lembaga yang akan dijalankan. Ketiga, pelaksanaan agenda kerja yang mengarah pada program kelembagaan yang telah direncanakan. Keempat, pengembangan program kerja dan program-program kelembagaan lainnya. Kelima, pendampingan pelaksanaan program kerja oleh kepala sekolah atau pemegang wewenang. Kelima, evaluasi sebagai bentuk kontrol dan tindak lanjut dari program kerja yang sudah dilaksanakan.
2.      Perilaku dalam organisasi pendidikan Islam adalah: Pertama, mempelajari dengan baik individu maupun kelompok yang ada dalam organisasi tersebut sebagai langkah awal untuk mendeteksi pola interakasi dan perilaku lebih mendalam dari setiap anggota organisasi. Kedua, membangun pola interaksi yang flexible untuk menumbuhkan keterbukaan dan kolektivitas kerja. Ketiga, kepercayaan pada setiap anggota organisasi bahwa mereka mampu menyelesaikan dengan baik tugas dan tanggung jawab yang telah diberikan. Keempat, loyalitas artinya sikap bertanggung jawab yang ditunjukkan oleh seorang pemimpin menjadi nilai dasar bagi anggota organisasi untuk berperilaku loyal terhadap organisasinya.
3.      Budaya dalam organisasi pendidikan Islam merupakan budaya dalam institusi pendidikan atau sekolah menjadi perhatian pengelola dan pemerhati pendidikan karena budaya sekolah dipandang sebagai hal mendasar dalam kemampuan sekolah untuk membangkitkan dan mempertahankan peningkatan mutu/kualitas sekolah. Selain itu, budaya sekolah juga terkait dengan budaya kelas-kelas yang ada di sekolah tersebut. Pengembangan budaya sekolah akan melahirkan kemampuan organisasi untuk sukses dalam melakukan suatu perubahan atau merespons suatu perubahan. Budaya organisasi disekolah dapat menjadikan para pengelola sekolah aktif, kreatif, intelek, adaptif, mampu mengorganisasi diri, dan terus mencari makna dari setiap kegiatan yang dilakukan.Metode-Metode Penelitian Pendekatan Psikologis dalam Studi Islam yaitu Menurut Hanna Djumhana Bastaman, metode ilmiah yang lazim dipergunakan dalam psikologi (kuantitatif dan kualitatif) dengan teknik-tekniknya seperti wawancara, tes, eksperimen, survei bisa berlaku dalam psikologi Islam, namun ada dua hal yang perlu diperhatikan: Pertama, kesetaraan porsi dan fungsi antara metode kualitatif dan kuantitatif, karena ada gejala dan perilaku manusia serta peristiwa khusus yang dialami secara pribadi, seperti pengalaman keagamaan. Untuk itu metode fenomenologi dapat dipergunakan. Kedua, selain menggunakan metode ilmiah, psikologi Islam mengakui adanya pengetahuan yang didapat melalui ilham dan intuisi dengan melalui ibadah khusyuk seperti tafakkur, shalat Istikharah, shalat tahajjud dan doa
B.     Saran
Makalah ini diharapkan dapat menjadi rujukan pembahasan dan kajian yang serupa. Karena di pandang masih banyak salah dalam penyusunan makalah ini maka kami selaku penulis memohon saran dari pembaca sekalian. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca umumnya.










Daftar Pustaka
Basid, Abdul. Transformasi Birokrasi Pelayanan Publik, dalam Dyah Mutiarin. Manajemen Birokrasi dan Kebijaka. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014.
Indrawijaya, Adam Ibrahim. Teori Perilaku dan Budaya Organisasi. Bandung: Refika Aditama, 2010.
Moorhead. Gregory dan Ricky W. Griffin. Perilaku Organisasi Manajemen Sumber Daya Manusia. Tangerang: Salemba Empat, 2010.
Murane, Charles. Bureaucracy and Modernity. University of Texas at Austin, 2006.
Lewis, James Jr. Scool Management By Objectives. New York: Parker Publishing Company, Inc. 1974.
Ludjito, Ahmad. Pendidikan Agama Sebagai Subsistem dan Implementasinya dalam Pendidikan Nasional. dalam Chabib Thoha dan Abdul Mu’ti. PBM PAI di Sekolah: Eksistensi dan Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998.
Overton, Rodney. Leadership Made Simple.Singapura: Wharton Books, Pte.Ltd.. 2002.
Riani, Asri Laksmi.  Budaya Organisasi. Graha Ilmu: Yogyakarta, 2011.
Sinambela, L.P. Reformasi Pelayanan Publik. Jakarta: Bumi Aksara, 2015.
Syakir. Reformasi Birokrasi. dalam Dyah Mutiarin. Manajemen Birokrasi dan Kebijakan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014.
Suwarto, F.X dan D. Koeshartono, Budaya Organisasi: Kajian Konsep dan Implementasi. Yogyakarta: Universitas Atmajaya, 2009.
Triatna, Cepi. Perilaku Organisasi Dalam Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2015.
Ulfi, Hakam. Model Kepemimpinan Birokrasi. dalam Dyah Mutiarin. Manajemen Birokrasi dan Kebijakan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014. 




[1] Hakam Ulfi, Model Kepemimpinan Birokrasi, dalam Dyah Mutiarin, Manajemen Birokrasi dan Kebijakan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014), 137. 
[2] Adam Ibrahim Indrawijaya, Teori Perilaku dan Budaya Organisasi, (Bandung: Refika Aditama, 2010), 153. 
[3] Abdul Basid, Transformasi Birokrasi Pelayanan Publik, dalam Dyah Mutiarin, Manajemen Birokrasi dan Kebijakan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014), 107. 
[4]  L.P Sinambela, Reformasi Pelayanan Publik, (Jakarta: Bumi Aksara), 115. 
[5]  Charles Murane, Bureaucracy and Modernity, (University of Texas at Austin, 2006). 138. 
[6] Syakir, Reformasi Birokrasi, dalam Dyah Mutiarin, Manajemen Birokrasi dan Kebijakan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014), 150. 
[7] Ahmad Ludjito, Pendidikan Agama Sebagai Subsistem dan Implementasinya dalam Pendidikan Nasional, dalam Chabib Thoha dan Abdul Mu’ti, PBM PAI di Sekolah: Eksistensi dan Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), 4. 
[8] Cepi Triatna, Perilaku Organisasi Dalam Pendidikan, ( Bandung: Remaja Rosdakarya, 2015), 2.
[9] Gregory Moorhead dan Ricky W. Griffin, Perilaku Organisasi Manajemen Sumber Daya Manusia, (Tangerang: Salemba Empat, 2010), 3.
[10] Cepi Triatna, Perilaku Organisasi dalam Pendidikan,,,. 2.
[11] Ibid,,,. 2.
[12]  Ibid,,,. 8.
[13]  Adam Ibrahim Indrawijaya, Teori Perilaku dan Budaya Organisasi,,,. 195.
[14]  Ibid,,,. 9.
[15]  Ibid,,,. 198.
[16] F.X Suwarto dan D. Koeshartono, Budaya Organisasi: Kajian Konsep dan Implementasi, (Yogyakarta: Universitas Atmajaya, 2009), 2.
[17] James Lewis, Jr. Scool Management By Objectives.(New York: Parker Publishing Company, Inc. 1974),  177.
[18] Rodney Overton..Leadership Made Simple.(Singapura: Wharton Books, Pte.Ltd.. 2002), 90.
[19] Asri Laksmi Riani, Budaya Organisasi ( Graha Ilmu: Yogyakarta, 2011 ), 124

0 Response to "BIROKRASI, PERILAKU DAN BUDAYA DALAM ORGANISASI PENDIDIKAN ISLAM"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel