Teori Belajar Konstruktivisme dan Pengembangannya (Tokoh & Pemikiran)
Teori Belajar
Konstruktivisme dan Pengembangannya (Tokoh & Pemikiran)
Latar Belakang
Manusia
memang terus berkembang dan memiliki rasa ingin tahu yang kuat. Hal ini lahyang
mendorong manusia untuk terus belajar. Oleh NASUTION belajar diartikan
sebagaimenambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan. Definisi lain mengenai
belajardikemukakan oleh ERNEST H. HILGARD yaitu Belajar adalah dapat melakukan
sesuatuyang dilakukan sebelum ia belajar atau bila kelakuannya berubah sehingga
lain caranyamenghadapi sesuatu situasi daripada sebelum itu.
Dari
pandangan-pandangan belajar dari beberapa ahli tersebut, munculah teori
belajar.Teori belajar merupakan upaya untuk mendeskripsikan bagaimana manusia
belajar,sehingga membantu kita semua memahami proses yang kompleks dari
belajar. Ada beberapa teori belajar, yaitu Behaviorisme, Kognitivisme, dan
Konstruktivisme. Olehkarena itu, makalah ini membahas salah satu teori belajar,
yaitu teori belajarkonstruktivisme dan pengembangannya.
Pembahasan
A.
Pengertian
Teori Konstruktivisme
Konstruktivisme
merupakan suatu epistemologi tentang perolehan pengetahuan (knowledge acquisition) yang lebih
memfokuskan pada pembentukan pengetahuan daripada penyampaian dan penyimpanan
pengetahuan. Dalam pandangan konstruktivisme, peserta didik berperan sebagai
pembentuk (construct) dan
pentransformasi pengetahuan. Adapun yang dimaksud dengan pembentukan
pengetahuan (construct knowledge)
dalam pandangan konstruktivisme meliputi tiga hal, yaitu sebagai berikut:
1.
Exogenous Constructivism
Exogenous
constructivism memiliki ciri yang sama dengan filsafat realisme, yaitu sesuatu
dimulai dengan adanya realitas eksternal yang direkonstruksi menjadi
pengetahuan. Oleh karena itu, struktur mental seseorang akan berkembang untuk
merefleksikan keadaan dunia luar (realitas). Proses pembentukan pengetahuan
dalam aliran psikologi kognitif menekankan pada cara pandang pembentukan
pengetahuan (constructivism), yang
dengannya skema dan alur (schemata and
networks) pengetahuan didasarkan atas realitas eksternal yang dialami.
2.
Endogenous Constructivism
Endogenous
constructivism disebut juga konstruktivisme kognitif
yang memfokuskan pada proses internal individu dalam membentuk suatu
pengetahuan. Perspektif ini merupakan derivasi dari teori Jean Piaget (1896-
1980) yang menekankan pada kemampuan individu membangun pengetahuan yang
distimulus oleh konflik kognitif internal sebagai cara untuk mengatasi
disekuilibirium mental. Intinya adalah bahwa anak atau orang dewasa harus mampu
bernegosiasi dengan pengalaman dan fenomena yang berbeda dengan skema
pengetahuan yang mereka miliki. Dalam dunia pendidikan, para peserta didik
harus mampu menciptakan pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan struktur
kognitif yang sudah mereka miliki dengan cara merevisi dan mengkreasi
pengetahuan baru selain dari pengetahuan yang sudah ada pada struktur kognitif
mereka.
3.
Dialectical Constructivism
Dialectical
constructivism disebut juga konstruktivisme
sosial yang memiliki pandangan bahwa sumber konstruksi pengetahuan merupakan
bagian dari interaksi sosial yang meliputi berbagi informasi (sharing), melakukan pembandingan (comparing), dan melakukan debat (debating) antara peserta didik dan guru.
Melalui proses interaksi yang intensif, lingkungan sosial pembelajaran akan
terbentuk dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membentuk
pengetahuannya secara mandiri. Perspektif ini merupakan pemikiran dari Vygotsky
(1978) dalam teori belajar sosiokultural. Teori belajar tersebut
menitikberatkan pada adanya bimbingan dari seorang guru yang dianggap mampu
melatih peserta didik untuk memperoleh keterampilan dan pemahaman yang kompleks
serta kompetensi yang mandiri. Pandangan konstruktivisme sosial murni
berpendapat bahwa pembelajaran dapat berlangsung melalui interaksi sosial
dengan melibatkan unsur budaya dan bahasa.
Ada empat karakteristik
pembelajaran dalam teori konstruktivisme yaitu:
a. Adanya
pembelajaran yang dibentuk oleh para peserta didik secara mandiri.
b. Adanya
hubungan antara pemahaman baru yang dimiliki para peserta didik dengan
pemahaman lama yang mereka miliki.
c. Adanya
aturan yang jelas tentang interaksi sosial;
d. Adanya
kebutuhan terhadap pembelajaran otentik untuk mewujudkan pembelajaran yang
bermakna (meaningful learning).
Konstruktivisme
adalah satu pandangan bahwa peserta didik membina sendiri pengetahuan (individual perception) atau konsep
secara aktif berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang ada (prior experience). Dalam proses ini,
peserta didik akan menyesuaikan pengetahuan yang diterima dengan pengetahuan
yang ada untuk membina pengetahuan baru. Pembelajaran secara konstruktivisme
berlaku di mana peserta didik membina pengetahuan dengan menguji ide dan
pendekatan berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang ada, kemudian
mengimplikasikannya pada satu situasi baru dan mengintegrasikan pengetahuan
baru yang diperoleh dengan binaan intelektual yang akan diwujudkan. Dalam dunia
pendidikan, konstruktivisme menunjukkan pada teori perolehan pengetahuan dan
belajar. Teori-teori tersebut menyatakan bahwa pengetahuan itu dibentuk bukan
diterima dari dari dunia luar an sich. Misalnya, pengetahuan tidak berada di
dalam buku akan tetapi lebih pada pengetahuan yang diproses melalui kegiatan
membaca. Sehubungan dengan itu, ada beberapa ciri atau prinsip belajar yang
dijelaskan sebagai berikut:
a. Belajar
berarti mencari makna. Makna diciptakan oleh peserta didik dari apa yang mereka
lihat, dengar, rasa, dan alami
b. Konstruksi
makna adalah proses yang terus menerus.
c. Belajar
bukanlah kegiatan mengumpulkan fakta, tetapi merupakan pengembangan pemikiran
dengan membuat pengertian yang baru. Belajar bukanlah hasil perkembangan tetapi
perkembangan itu sendiri.
d. Hasil
belajar dipengaruhi oleh pengalaman subjek belajar dengan dunia fisik
lingkungannya.
e. Hasil
belajar seseorang tergantung pada apa yang telah diketahui si subjek belajar,
tujuan, motivasi yang memengaruhi proses interaksi dengan bahan yang sedang
dipelajari.
Menurut kaum konstruktivis, belajar
merupakan proses aktif siswa mengkonstruksi pengetahuan. Proses tersebut
dicirikan oleh beberapa hal sebagai berikut:
a.
Belajar berarti
membentuk makna. Makna diciptakan siswa dari apa yang mereka lihat, dengar,
rasakan, dan alami. Konstruksi makna ini dipengaruhi oleh pengertian yang telah
ia punyai.
b.
Konstruksi makna
merupakan suatu proses yang berlangsung seumur hidup.
c.
Belajar bukan kegiatan
mengumpulkan fakta, melainkan lebih berorientasi pada pengembanGan berfikir dan
pemikiran dengan cara membentuk pengertian yang baru. Belajar bukanlah hasil
dari perkembangan, melainkan perkembangan-suatu perkembangan yang menuntun
penemuan dan pengaturan kembali pemikiran seseorang.
d.
Proses belajar yang
sebenarnya terjadi pada waktu skemata seseorang dalam keraguan yang merangsang
pemikiran lebih lanjut. Situasi disequilibrium merupakan
situasi yang baik dalam belajar.
e.
Hasil belajar
dipengaruhi oleh pengalaman belajar dengan dunia fisik dan lingkungan siswa.
f.
Hasil belajar siswa
tergantung pada apa yang sudah diketahuinya.
2. Tokoh-tokoh Teori Belajar
Konstruktivisme
a.
Driver dan Bell
Driver dan Bell
mengajukan karakteristik teori belajar teori belajar konstruktivistik sebagai
berkut:
1)
Siswa dapat dipandang
sebagai sesuatu yang pasif, tetapi memiliki tujuan;
2)
Belajar
mempertimbangkan seoptimal mungkin proses keterlibatan siswa;
3)
Pengetahuan bukan
sesuatu yang datang dari luar melainkan dikonstruksi secara personal;
4)
Pembelajaran
bukanlah transmisi pengetahuan melainkan melibatkan pengaturan situasi kelas;
5)
Kurikulum bukanlah
sekedar dipelajari, melainkan seperangkat pembelajarn, materi, dan sumber.
b.
J. J. Piaget
Berikut ini adalah
tiga hal pokok Piaget dalam kaitanya dengan tahap perkembangan intelektual atau
tahap perkembangan konstruktivisme kognitif atau bisa juga disebut tahap
perkembangan mental, yaitu sebagai berikut:
1)
Perkembangan
intelektual terjadi melalui tahap-tahap beruntun yang selalu terjadi dengan
urutan yang sama. Setiap manusia akan mengalami urutan-urutan tersebut dan
dengan urutan yang sama;
2)
Tahap-tahap tersebut
didefinisikan sebagai suatu cluster dari operasi mental
(pengaturan, pengekalan, pengelompokkan, pembuatan Hipotesis dan penarikan
kesimpulan yang menunjukkan adanya tingkah laku intelektual;
3)
Gerak melalui
tahap-tahap tersebut dilengkapi oleh keseimbangan (equilibrium), proses
pengembangan yang menguraikan interaksi antara pengalaman (asimilasi) dan
sruktur kognitif yang timbul (akomodasi).
Selanjutnya, Piaget
yang dikenal sebagai konstruktivis, menegaskan bahwa pengetahuan tersebut
dibangun dalam pikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi. Menurut
Ruseffendi, asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran. Sedangkan
akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru
sehingga informasi tersebut mempunyai tempat. Pengertian tentang akomodasi yang
lain seperti yang dikemukakan oleh Suparno adalah proses mental yang meliputi
pembentukkan skema baru yang cocok dengan rangsangan baru atau memodifikasi
skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu.
c.
Vigotsky
Berbeda dengan
konstruktivisme kognitif yang dikemukakan oleh Piaget, konstruktivisme sosial
yang dikembangkan oleh Vigotsky memiliki pengertian bahwa belajar bagi anak
dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik. Penemuan
atau discovery dalam belajar lebih mudah dalam konteks sosial
budaya seseorang. Dalam penjelasan lain, Tanjung mengatakan bahwa inti
kognitivis Vigotsky adalah interaksi aspek internal dan eksternal yang perkenaanya
pada lingkungan sosial dalam belajar.
d.
Tasker
Tasker mengemukakan tiga penekanan dalam teori belajar konstruktivisme
sebagai berikut:
1)
Peran aktif siswa
dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna.
2)
Pentingnya membuat
kaitan antar gagasan dalam pengonstruksian secara bermakna.
3)
mengaitkan antara
gagasan dan informasi baru yang diterima.
e.
Wheatley
Wheatley mendukung
pendapat diatas dengan mengajukan dua prinsip utama dalam pembelajaran dengan
teori belajar konstruktivisme, yaitu sebagai berikut:
1)
Pengetahuan tidak
dapat diperoleh secara pasif tetapi secara aktif oleh struktur koqnitif siswa;
2)
Fungsi kognisi
bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian melalui pengalaman nyata yang
dimiliki anak.
Kedua pengertian
diatas menekankan bagaimana pentingnya keterlibatan anak secara aktif dalam
proses pengaitan penguasaan sejumlah gagasan dan pengkonstruksian ilmu
pengetahuan melalui lingkungan. Bahkan secara spesifik, Hudoyo mengatakan bahwa
seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari pada
apa yang telah diketahui orang lain. Oleh karena itu untuk mempelajari suatu
materi yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan memengaruhi
terjadinya proses belajar tersebut.
f.
Hanbury
Hanbury mengemukakan
sejumlah aspek dalam kaitanya dengan pembelajaran, yaitu sebagai berikut:
1)
Siswa mengkonstruksi
pengetahuan dengan cara mengkonstruksi ide yang mereka miliki;
2)
Pembelajaran menjadi
lebih bermakna karena siswa mengerti;
3)
Strategi siswa lebih
bernilai;
4)
Siswa mempunyai
kesempatan untuk berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dan ilmu pengetahuan
dengan sesamanya.
Berdasarkan beberapa
pandangan di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang mengacu kepada
teori belajar konstruktivisme lebih memfokuskan pada kesukaan siswa dalam
mengorganisasikan pengalaman Mereka bukan kepatuhan siswa dalam refleksi atau
aapa yang telah diperhatikan dan dilakaukan oleh guru. Dengan kata lain, siswa
lebih diutamakan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui
asimilasi dan akomodasi.
DAFTAR
PUSTAKA
Honebein,
P. Seven Goals For The Design of Constructivist Learning Environment dalam B.
Wilson, Constructivist Learning Environments. New Jersey: Educational
Technology Publication, 1996.
James M.
Appliefield, et.al. Constructivism in Theory and Practice: Toward a Better
Understanding. The High School Journal, 2001.
Lowenthal,
Patrick dan Rodney Muth, Constructivism. dalam E. F. Provenzo, Jr. (Ed.),
Encyclopedia of the Social and Cultural Foundations of Education. Thousand Oak,
CA: Sage, 2008.
Tobroni, M. 2015. Belajar dan Pembelajaran Teori dan
Praktik. Yogyakarta: Arruz Media.
0 Response to "Teori Belajar Konstruktivisme dan Pengembangannya (Tokoh & Pemikiran)"
Post a Comment