ANALISIS FILOSUFIS PEMIKIRAN IBNU MISKAWAIHI (RELIGIUS-RASIONAL) TENTANG PENDIDIKAN DAN RELEVANSINYA DENGAN DUNIA MODERN
ANALISIS FILOSUFIS PEMIKIRAN IBNU
MISKAWAIHI (RELIGIUS-RASIONAL) TENTANG PENDIDIKAN DAN RELEVANSINYA DENGAN DUNIA
MODERN
A.
Pendahuluan
Muhammad SAW diutus di
muka bumi membawa misi pokok untuk menyempurnakan akhlak mulia di tengah-tengah
masyarakat. Misi Nabi ini bukan misi yang sederhana, tetapi misi yang besar dan
agung yang ternyata untuk merealisasikannya membutuhkan waktu yang cukup lama,
yakni lebih dari 22 tahun. Nabi melakukannya mulai dengan pembenahan aqidah
masyarakat Arab, kurang lebih 13 tahun, lalu Nabi mengajak untuk menerapkan
syariah setelah aqidahnya mantap. Dengan kedua sarana inilah (aqidah dan
syariah), Nabi dapat merealisasikan akhlak yang mulia di kalangan umat Islam
pada waktu itu.
Dapat disimpulkan bahwa
datangnya Islam membawa misi yang sangat penting yaitu memperbaiki dan
menyempurnakan akhlak manusia. Akhlaqul karimah yang diajarkan
dalam Islam merupakan orientasi yang harus dipegang oleh setiap muslim.
Seseorang yang hendak memperoleh kebahagiaan sejati (al-sa’adah al-haqiqiyah),
hendaknya menjadikan akhlak sebagai landasannya dalam bertindak dan
berperilaku. Di era modern seperti sekarang ini, sedikitnya terdapat tiga
fungsi akhlak dalam kehidupan manusia. Pertama, ia dapat
dijadikan sebagai panduan dalam memilih apa yang boleh diubah, dan apa pula
yang harus dipertahankan. Kedua, dapat dijadikan sebagai obat
penawar dalam menghadapi berbagai ideologi kontemporer (seperti materialisme,
hedonisme, radikalisme, individualisme, konsumerisme dan lain-lain). Ketiga, dapat
pula dijadikan sebagai benteng dalam menghadapi perilaku menyimpang akibat
pengaruh negatif globalisasi.[1]
Pendidikan merupakan
bagian terpenting dalam kehidupan manusia yang sekaligus membedakan manusia
dengan makhluk lainnya, karena manusia diberikan sebuah anugerah terbesar
berupa akal pikiran, sehingga proses belajar mengajar merupakanusaha
manusia dalam masyarakat yang berbudaya, dan dengan akal pikiran yang ia miliki
akan mengetahui segala hakikat permasalahan dan sekaligus dapat membedakan mana
yang baik dan buruk.
Tujuan dari pendidikan
di Indonesia (baik pendidikan umum ataupun pendidikan Islam) dalam Pasal 3
UUSPN No.20 Tahun 2003, yaitu berfungsi untukmengambangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang
bertanggung jawab.[2]
Ditinjau dari aspek
sejarahnya, pendidikan Islam secara formal merupakan sistem pendidikan tertua
di dunia, hal ini dikarenakan semenjak Islam masuk ke Indonesia, belum adanya
lembaga-lembaga pendidikan-pendidikan formal. Lembaga pendidikan di Indonesia
secara formal diperkenalkan pertama kali oleh umat Islam melalui Meunasah dan
Rongkong di Aceh, Surau di Sumatera Barat dan Pesantren di Jawa. Melihat usia
dan pengalaman yang cukup panjang ini seyogyanya dapat menjadikan pendidikan
Islam di Indonesia semakin handal dan mapan. Namun, hingga dewasa ini
lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia terkesan menjadi “lembaga
pendidikan kelas dua” setelah lembaga pendidikan umum. Hal ini disebabkan belum
ditemukannya konsep-konsep sistem pendidikan yang adaptif dan akomodatif dengan
zamannya. Oleh karena itu, kajian-kajian komprehensif terhadap al-Qur’an,
sunnah Nabi, tuntutan kehidupan dan pemikiran para filosof serta pakar
pendidikan harus senantiasa dilakukan.[3]
Diskursus tentang
pengembangan sistem pendidikan Islam yang diprakarsai para pakar pendidikan
Islam serta para pengambil kebijakan selama ini telah memperkaya khazanah
keilmuan dan bisa memberikan kontribusi pemikiran dalam pengembangan pendidikan
Islam di Indonesia. Namun dalam realisasinya, kebijakan pemerintah dalam rangka
meningkatkan kualitas pendidikan belum mampu memberikan hasil yang memuaskan,
khususnya dalam membentuk moral bangsa. Meskipun bangsa Indonesia terdiri dari
mayoritas Islam, pelaksanaan pendidikan agama Islam tampaknya belum menyentuh
pada jiwa kaum muslim. Maka diperlukannya reformulasi dari pendidikan
Islam, dimana pendidikan tersebut bukan hanya menjadikan seseorang menjadi
pintar secara akademik, namun juga berakhlak secara kepribadian. Mengingat
sekarang ini di Tanah Air kita sedang marak sekali perbincangan mengenai
pendidikan karakter (akhlak) hal ini tentu karena dirasakan sekali di
masyarakat betapa kemerosotan bangsa ini dalam bidang karakter. Bahkan
sebetulnya pada saat Soekarno menjadi presiden beliau sering mengungkapkan
perkataan “Nation and Character Building”, ketika itu beliau telah
melihat bahwa salah satu yang amat penting dibangun pada masyarakat Indonesia
adalah karakternya.[4]
Pembinaaan akhlak dan
budi pekerti, bukanlah masalah yang baru muncul saat ini. Dalam sejarah
perkembangan pemikiran Islam, ditemukan beberapa tokoh yang menyibukan diri
dalam bidang ini kepada Al-Kindi, Al-Farabi, Ikhwan al-Safa, Ibn Sina,
Al-Ghazali, Ibn Miskawaih dan lain-lain. Dan
dari sekian banyak tokoh tersebut,Ibn Miskawaih adalah tokoh yang betul-betul
berjasa dalam mengembangkan wacana etika Islami (akhlak al-karimah).Oleh
karena itu, dalam makalah ini akan dibahas mengenai pemikiran pendidikan Ibn
Miskawaih yang menurut penulis masih relevan untuk diterapkan dalam Sistem
Pendidikan Islam mutakhir di Indonesia, mengingat bahwa masalah pendidikan
sekarang yang baru berhasil mencetak generasi pintar namun belum berhasil
mencetak generasi yang bermoral.
B.
Pembahasan
1. Biografi Ibnu Maskawaih
Nama lengkap Ibnu Maskawaih ialah Abu Ali
Al-Khazin Ahmad bin Ya’qub bin Miskawaih.Dikenal digelari Al-Khazin karena
sebagai “guru ketiga” setelah Aristoteles dan Al-Farabi. Sebutan namanya yang
lebih masyhur adalah Miskawaih, Ibnu Miskawaih atau Ibnu Maskawaih. Lahir di
kota Ray (Iran) pada 320 H (932 M) dan wafat di Asfahan 9 Safar 421 H (16
Februari 1030 M). Ibnu Maskawaih adalah filosof muslim yang memusatkan
perhatiannya pada etika Islam. Beliau dikenal sebagai “Bapak Etika Muslim” dan
“Bapak Psikologi Pendidikan Muslim”. Walaupun sebenarnya ia juga seorang
sejarawan, tabib, ilmuwan, dan sastrawan. Setelah menjelajah berbagai ilmu
pengetahuan, akhirnya ia memusatkan perhatiannya pada kajian sejarah dan etika.[5]
2. Riwayat Pendidikan Ibnu Miskawaih
Ibnu Miskawaih belajar sejarah
terutama Tarikh al Thabari kepada Abu Bakr Ibnu Kamil al-
Qadhi (350H/960M). Miskawaih juga banyak belajar ilmu-ilmu filsafat dari Ibnu
al-Khammar dan memperkenalkan karya-karya Aristoteles. Selain itu Miskawaih
menyerap ilmu kimia dari Abu al-Thayyib al Razi, seorang ahli kimia. Disiplin
ilmunya meliputi kedokteran, bahasa, sejarah, dan filsafat. Akan tetapi, dia
populer sebagai seorang filosof akhlak daripada filosof ketuhanan. Bisa jadi,
hal ini dipicu oleh kekacauan masyarakat pada masanya.
Dilihat dari tahun lahir dan wafatnya, Ibnu
Maskawaih hidup pada masa pemerintahan Bani Abbas yang berada di bawah pengaruh
Bani Buwaih. Puncak prestasi atau zaman keemasan kekuasaan Bani Buwaih adalah
pada masa ’Adhud Ad Daulah yang berkuasa dari tahun 367 hingga 372 H. Pada masa
inilah Ibn Maskawaih memperoleh kepercayaan untuk menjadi bendaharawan dan pada
masa ini jugalah Ibn Maskawaih muncul sebagai seorang filosof, tabib, ilmuwan
dan pujangga.
Tetapi di samping itu, ada hal yang tidak
menyenangkan hatinya, yaitu kemerosotan moral yang melanda masyarakat. Oleh
karena itulah agaknya ia lalu tertarik untuk menitik beratkan perhatiannya pada
bidang etika Islam. Setelah kematian Mu’izz, beliau telah dilantik menjadi
Ketua Perpustakaan. Ini telah membuka peluang kepada Ibnu Maskawaih untuk
menambah ilmu pengetahuan karena beliau berpeluang untuk membaca berbagai buku
yang ditulis oleh para ilmuan Islam dan Yunani. Beliau kemudian dilantik menjadi
Ketua Pemegang Amanah Khazanah yang bertanggungjawab menjaga perpustakaan Malik
Adhdud Daulah.
Sehubungan dengan itu, hasil ketekunan dan
kerajinan beliau dalam mencari ilmu pengetahuan akhirnya memberi hasil yang
bernilai kepadanya. Ibnu Maskawaih telah berhasil membina dan membuktikan
ketokohannya sebagai ilmuan yang mempunyai pengetahuan yang luas dalam berbagai
bidang.
Riwayat detail mengenai riwayat pendidikan Ibn
Maskawaih tidak diketahui dengan jelas. Maskawaih tidak menulis otobiografinya,
dan para penulis riwayatnya pun tidak memberikan informasi yang jelas mengenai
latar belakang pendidikannya. Namun dalam beberapa literatur di dapat ketemukan
oleh penulis adalah sebagai berikut : Ia belajar sejarah, terutama Tarikh At
Thabary, kepada Abu Bakar Ahmad bin Kamil al Qaghi (350 H/960 M). Ibn Al
Khammar, mufassir kenamaan karya-karya Aristoteles, adalah gurunya dalam
ilmu-ilmu filsafat. Maskawaih mengkaji alkimia bersama abu At Thayyib ar Razi,
seorang ahli kimia.[6]
3. Karya-Karya Ibnu
Maskawaih
Pada masa Ibn Miskawaih, filsafat dan sains
warisan Yunani tumbuh subur sehingga wajar jika karya-karya Ibn Maskawaih
dipengaruhi oleh para filsuf Yunani Klasik. Misalnya karya yang menyangkut filsafat
manusia, jiwa dan etika. Ibn Maskawaih banyak merujuk pada karya-karya Galen,
Phytagoras, Scocrates, terutama Plato dan Aristoteles. Ibnu Miskawaih merupakan
seorang yang produktif menulis dilihat dari karya-karyanya sebagai berikut:[7]
Karya Ibnu Miskawaih yang telah
dicetak
|
||
No.
|
Nama Kitab
|
Keterangan
|
1
|
Tahdzib al- Akhlaq wa Tathhir al-
A’raq
|
Membahas tentang kesempurnaan
etika
|
2
|
Tartib al- Sa’adat
|
Membahas tentang etika dan politik
terutama mengenai pemeritahan Bani Abbas dan Bani Buwaih
|
3
|
Al-Fauz al-Asghar fi Ushul al-
Diyanat
|
Membahas tentang metafisika, yaitu
ketuahanan jiwa dan kenabian
|
4
|
Risalah fi al- Ladzdat wa al-
A’lam
|
Membahas tentang masalah yang
berhubungan dengan perasaan yang dapat membahagiakan dan menyengsarakan jiwa
manusia.
|
5
|
Tajarib al- Umam
|
Membahas tentang pengalaman
bangsa-bangsa mengenai sejarah, diantara isinya sejarah tentang banjir besar,
yang ditulis tahun 369H/979M
|
6
|
Risalah al-Ajwibah wa al-As’ilah
fi an-Nafs al-‘Aql
|
Membahas tentang Etika dan aturan
hidup
|
7
|
Jawidzan Khirad
|
Membahas tentang masalah yang
berhubungan dengan pemerintah dan hukum terutama menyangkut empat negara,
yaitu Persia, Arab, India, dan Roma.
|
Karya Ibnu Miskawaih Berupa Manuskrip
|
||
1
|
Risalah fi Thabi’iyyah
|
Membahas tentang ilmu yang
berhubungan dengan alam semesta.
|
2
|
Risalah fi al-Jauhar al-Nafs
|
Membahas tentang masalah yang
berhubungan dengan imu jiwa.
|
3
|
Al- Jawab fi al- Masail al-Tsalats
|
Membahas tentang jawaban
tiga masalah
|
4
|
Thaharat al-Nafs
|
Membahas tentang etika dan
peraturan hidup
|
Karya Ibnu Miskawaih yang
dinyatakan Hilang
|
||
1
|
Al-Mushtofa
|
Berisi tentang syair-syair
pilihan
|
2
|
Uns al-Farid
|
Berisi tentang antologi cerpen,
koleksi anekdot, syair, peribahasa, dan kata-kata hikmah
|
3
|
Al-Adawiyah al-Mufridah
|
Membahas tentang kimia dan
obat-obatan
|
4
|
Tarkib al-Bijah min al-Ath’imah
|
Membahas tentang kaidah dan seni
memasak
|
5
|
Al-Fauz al-Akbar
|
Membahas tentang etika dan
peraturan hidup
|
6
|
Al-Jami’
|
Membahas tentang ketabiban
|
7
|
Al-Siyar
|
Membahas tentang tingkah laku dan
kehidupan
|
8
|
Kitab al-‘Asyribah
|
Tentang minuman
|
4. Pemikiran Ibn Miskawaih tentang pendidikan
a.
Akhlak
menurut Ibn Miskawaih
Pemikiran Ibn Miskawaih dalam bidang akhlak
termasuk salah satu yang mendasari konsepnya dalam bidang pendidikan. Konsep
akhlak yang ditawarkannya berdasar pada doktrin jalan tengah. Ibn Miskawaih
secara umum memberi pengertian pertengahan (jalan tengah) tersebut antara lain
dengan keseimbangan atau posisi tengah antara dua ekstrim. Ibn Miskawaih
cenderung berpendapat bahwa keutamaan akhlak secara umum diartikan sebagai
posisi tengah antara ekstrim kelebihan dan ekstrim kekurangan masing-masing
jiwa manusia. Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa jiwa manusia ada tiga
yaitu jiwa nafsu (al-bahimmiyah), jiwa berani (al-Ghadabiyyah)
dan jiwa berpikir (an-nathiqah).
Menurut Ibn Miskawaih posisi tengah jiwa nafsu (al-bahimmiyah)
adalah al-iffah yaitu menjaga diri dari perbuatan dosa dan
maksiat seperti berzina. Selanjutnya posisi tengah jiwa berani adalah
pewira atau keberanian yang diperhitungkan dengan
matang untung dan ruginya. Sedangkan posisi tengah dari jiwa
pemikiran adalah kebijaksanaan. Adapun perpaduan dari ketiga posisi tengah
tersebut adalah keadilan atau keseimbangan.
Ketiga keutamaan akhlak tersebut merupakan
pokok atau induk akhlak yang mulia. Akhlak-akhlak mulia lainnya seperti
jujur, ikhlas, kasih sayang, hemat, dan sebagainya merupakan cabang dari ketiga
induk ahklak tersebut.
Dalam menguraikan sikap tengah dalam bentuk
akhlak tersebut, Ibnu Miskawaih tidak membawa satu ayat pun dari al-Qur’an dan
tidak pula membawa dalil dari hadits akan tetapi spirit doktrin ajaran tengah
ini sejalan dengan ajaran islam. Hal ini karena banyak dijumpai ayat-ayat
al-Qur’an yang memberi isyarat untuk itu, seperti tidak boleh boros tetapi juga
tidak boleh kikir melainkan harus bersifat diantara kikir dan boros. Sebagai
makhluk sosial, manusia selalu dalam gerak dinamis mengikuti gerak zaman.
Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan, ekonomi dan lainnya
merupakan pemicu bagi gerak zaman. Ukuran akhlak tengah selalu mengalami
perubahan menurut perubahan ekstrim kekurangan dan ekstrim kelebihan. Ukuran
tingkat kesederhanaan di bidang materi misalnya, pada masyarakat desa dan kota
tidak dapat disamakan.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa
doktrin jalan tengah ternyata tidak hanya memiliki nuansa dinamis tetapi juga
flexibel. Oleh karena itu, doktrin tersebut dapat terus menerus berlaku sesuai
dengan tantangan zamannya tanpa menghilangkan pokok keutamaan akhlak.[9]
b.
Dasar
Pendidikan
Ada beberapa komponen pendidikan Islam yakni
tujuan, metode, pendidik dan peserta didik yang merupakan satu kesatuan utuh
yang disebut sebagai sistem pendikan Islam[10].
Adapun komponen pendidikan yang dikemukakan Ibn Miskawaih ialah; Dasar
pendidikan, Tujuan Pendidikan, pendidik dan peserta didik, fungsi pendidikan,
materi pendidikan dan metode serta media pendidikan.
Dasar merupakan landasan bagi
berdirinya sesuatu dan ia berfungsi sebagai pemberi arah terhadap tujuan yang
akan dicapai. Menurut Ibn Miskawaih ada 2 yaitu;
1)
Syariat
sebagai dasar pendidikan. Ibn Miskawaih tidak menjelaskan secara pasti apa yang
menjadi dasar pendidikan. Akan tetapi, ia menyatakan bahwa syariat agama
merupakan faktor penentu bagi lurusnya karakter manusia. Dengan syariat,
manusia terbiasa untuk melakukan perbuatan terpuji, menjadikan jiwa mereka
siap menerima al-hikmah dan fadilah. Karena rujukan
syariat agamaadalah Al-Quran dan As-Sunnah, dua hal terakhir menjadi sumber
yang paling asasi.
2)
Pengetahuan psikologi
sebagai dasar pendidikan. Ibn Miskawaih pada awal
tulisannya dalam Tahzib menegaskan adanya hubungan
antara pendidikan dan pengetahuan tentangjiwa. Untuk memiliki
karakter yang baik manusia harus melalui perekayasaan (sina'ah) dan
pengarahan pendidikan secara sistematis (ala tartib ta 'limy)
Pembentukan karakter baik tersebut dapat tercapai jika kita memahami makna
jiwa, mulai penciptaan, tujuan, kekuatan atau daya, dan malakah-nya.
Jiwayang dibina dengan tepat akan menjadikan manusia
tersebutmencapai kesempunaan. Pembinaan jiwa tersebut dapat dilakukan
melalui pendidikan.
c.
Tujuan
Pendidikan
Corak pemikiran pendidikan
Ibn Miskawaih lebih bertendensi etis dan moral. Hal ini terlihat dalam
merumuskan pendapatnya tentang tujuan pendidikan sebagai berikut;
1.
Tercapainya
akhlak mulia
Ibn Miskawaih mengisyaratkan
bahwa tujuan pendidikan adalah terbentuknya pribadi yang berakhlak
mulia, yang disebutnya isabah al-khuluq asy-syarif, yaitu
pribadi yang mulia secara substansial dan essensial,
bukan kemuliaan yang temporal dan aksidental, seperti pribadi yang
materialistis dan otokratis.
Hal ini sejalan dengan
pandangannya bahwa kemuliaan dan keistimewaan manusia terletak pada jiwa
rasionalnya. Menurutnya, manusia yang paling mulia adalah manusia yang
paling besar kadar rasionalnya dan terkendali olehnya. Olehkarena itu,
pembentukan individu yang berakhlak mulia terletak pada caramenjadikan
jiwa rasional yang unggul dan bisa dapat menetralisasikan
jiwa-jiwa lainnya.
2.
Kebaikan,
kebahagiaan, dan kesempurnaan
Pada hakikatnya, tujuan
pendidikan itu identik dengan tujuan hidup manusia. Tercapainya
tujuan merupakan langkah bagi tercapainya tujuan hidup
manusia yang terakhir, yaitu kebaikan, kebahagiaan, dan kesempurnaan.
Ibn Miskawaih membagi
kedudukan manusia dalam hubungannya dengan Allah SWT, pada:
a)
kedudukan
orang yang yakin, yaitu tingkat filsuf dan ulama;
b)
kedudukan
orang yang baik, yaitu orang yang mengamalkan pengetahuannya;
c)
kedudukan
orang yang beruntung. yakni orang-orang yang saleh;
d)
kedudukan
orang yang menang, yaitu tingkatan orang yang tulus.
Untuk mencapai semua
tingkatan di atas, harus dimiliki empat kualitas, yaitu: (1) kemampuan dan
semangat yang kuat, (2) ilmu-ilmu yang hakiki dan pengetahuan yang
esensial-substansial, (3) malu akan kebodohan dan kekurangwaspadaan, dan (4)
tekun melakukan kebajikan.[11]
d.
Pendidik
dan Peserta didik
Ibn Miskawaih mengelompokkan
pendidik kepada orangtua, guru atau filsuf, pemuka masyarakat, dan raja atau
penguasa. Ibn Miskawaih menjelaskan bahwa kewajiban orangtua mendidik anak-anak
mereka supaya menaati syariat dan seluruh sopan santun dengan berbagai cara.
Menurut Ibn Miskawaih, guru
atau filsuf adalah penyebab eksistensi intelektual manusia karena pendidikan
yang mereka berikan dan ilmu yang mereka kembangkan. Tugas pemuka masyarakat,
yaitu pertama, meluruskan dan memandu manusia dengan ilmu-ilmu rasional
dengan melatih daya-daya analisis potensinya. Kedua, memandu
manusia dengan keterampilan praktis sesuai dengan kemampuannya.
Pengertian peserta didik
bagi Ibn Miskawaih cukup luas, yaitu semua orang yang memperoleh atau
memberikan bimbingan, bantuan, dan latihan dari orang lain, baik berupa ilmu
pengetahuan maupun keterampilan guna mengembangkan diri. Menurutnya, manusia
memiliki watak yang berbeda. Ada yang memiliki sifat baik sejak awal dan ada
juga yang tidak memiliki sifat tersebut. Akan tetapi, pembawaan sifat tersebut
dapat berubah, jika ia memiliki kesungguhan untuk menemukan kebenaran yang
hakiki. Jika perbedaan watak ini diabaikan, setiap orang akan tumbuh sesuai
dengan watak individun yang tabi'i, di sinilah letak pentingnya pendidikan agama.
Ibn Miskawaih mengemukakan bahwa respons individudalam
menerima pendidikan ada yang harus dengan paksaan. Ada pula manusia yang
responnya sangat mudah dan cepat karena ia mempunyai watak yang baik, potensi
unggul.
Mengenai tahapan perkembangan
kejiwaan manusia, menurut Ibn Miskawaih, berkembang dari tingkat sederhana pada
tingkat yang tinggi. Awalnya, daya yang muncul berhubungan dengan makanan,
untuk bertahan hidup lalu berkembang
daya yang bersifat syahwiyah, yang membuatnya cendrung pada
kesenangan. Kemudian, berkembang daya imajinasi melalui pancaindra, selanjutnya
muncul daya gadhabiyah. Ia mencoba mengatasi apa-apa yang merusak
diri dan mencari yang bermanfaat dari dirinya. Setelah itu, muncul secara
berangsur daya atau kekuatan natiqah yang ditandai dengan rasa
malu. Pada tahap ini, manusia akan merasakan mana yang baik dan mana yang
buruk. Pada saat ini jiwa sudah siap menerima pendidikan. Ibn Miskawaih juga
berpendapat bahwa pendidikan dapat diperolah melalui latihan dan pembiasaan
pada anak. Hal ini karena jiwa anak pada awalnya masih sederhana. Jika ia
mendapat gambar tertentu, ia akan tumbuh bersama dengan gambar tersebut, dan
terbiasa dengannya.
Hubungan pendidik dengan subjek haruslah
didasarkan pada cinta, kasih sayang, persahabatan, keadilan, kebaikan, dan
fadilah. Hal ini karena menurut ibn Miskawaih manusia adalah makhluk sosial
yang harus membagi cinta dan kasih sayang, bersahabat, menegakkan keadilan
dankebaikan serta berupaya memperoleh keutamaan. Untuk itu, dalam pendidikan
diperlukan komunikasi dua arah (interaksi) dan multiarah (transaksi).
e. Fungsi
pendidikan
Menurut Ibnu Miskawaih, fungsi pendidikan
adalah:
1)
Menanamkan akhlak
mulia
Bagi Ibn Miskawaih, pembentukan akhlak mulia sebagai tujuan
pendidikan, sekaligus sebagai fungsi pendidikan. Nilai-nilai akhlak mulia yang
perlu ditanamkan dan dibiasakan itu pada aspek spiritual seperti jujur, tabah,
sabar, dan lain-lain. Juga pada aspek jasmani seperti adab berpakaian,
berbicara, dan lain-lain.
2)
Memanusiakan manusia
Ibn Miskawaih menyatakan bahwa tugas pendidikan adalah
menundukkan manusia sesuai dengan substansinya sebagai makhluk yang termulia.
Selain itu, pendidikan bertugas mengangkat manusia dari tingkat terendah pada
tingkat tinggi.
3)
Sosialisasi individu
Ibn Miskawaih menyatakan bahwa kebajikan dan malakah manusia
sangat banyak jumlahnya, dan seorang individu tidak dapat mencapainya
sendirian. Sejumlah individu harus bersatu untuk mencapai kebahagiaan bersama
sehingga satu sama lainrya saling menyempumakan. Masing-masing individu
menjadikan dirinya seperti satu tubuh yang saling menunjang.
Manusia, menurut Ibn Miskawaih, tidak dapat mandiri dalam
menyempumakan esensi dan substansinya sebagai insan tanpa berintegrasi dengan
individu lainnya. Oleh karena itu, diperlukan segala bentuk hubungan sosial
lainnya, di antaranya melalui interaksi pendidik-subjek didik dalam proses
pendidikan.
f. Materi
pendidikan
Ibn Miskawaih tidak menjelaskan dengan tegas
materi apa yang harus diajarkan kepada peserta didik. Akan tetapi, dapat
dipahami bahwa ia menekankan materi pendidikan itu haruslah bermanfaat bagi
terciptanya akhlak mulia dan menjadikan manusia sesuai dengan substansi serta
esensinya.
Mengenai urutan yang harus diajarkan pada
peserta didik, yang pertama sekali adalah kewajiban-kewajiban syariat, sehingga
peserta didik terbiasa. Kemudian,materi yang berhubungan dengan akhlak
sehinggaakhlak dan kualitas terpuji merasuk dalam dirinya, dan terbiasa dengan
perkataan yang benar dan argumentasi yang tepat.Kemudian,meningkat setahap demi
setahap pada materi ilmu lainnya sehingga subjek didik mencapai tingkat
kesempurnaan.
g.
Metode
dan media pendidikan
1)
Metode alami (tab'iy)
Sebagaimana diuraikan terdahulu, bagi lbn Miskawaih, setiap
individu mempunyai perbedaan dengan individu lainnya, termasuk tahapan
perkembangannya. Oleh karena itu, pelaksanaan pendidikan budi pekerti harus
berjenjang, setahap demi setahap sehingga sampai pada kesempurnaan. Dengan
demikian, ide pokok dari metode alami ini adalah dalam pelaksanaan kerja dan
proses mendidik itu hendaknya didasarkan atas pertumbuhan dan perkembangan
manusia lahir batin,jasmaniah dan rohaniah. Setiap tahapan pertumbuhan dan
perkembangan manusia membutuhkan pemenuhan psiko-fisiologis, dan cara mendidik
hendaknya memerhatikan kebutuhan-kebutuhan ini sehingga sesuai tuntutan tahapan
pertumbuhan dan perkembangan setiap pribadi.
2)
Nasihat dan tuntunan
sebagai metode pendidikan
Ibn Miskawaih menyatakan, supaya anak menaati syariat dan
berbuat baik, diperlukan nasihat dan tuntunan. Subjek didik tidak terarah pada
tujuan pendidikan yang diharapkan jika mereka tidak diberi nasihat dan
pengajaran lainnya. Dalam Al-Quran, apa yang dikemukakan Ibn Miskawaih banyak
ditemukan, seperti dalam surat Luqmän: 13-19. Ini menunjukkan betapa pentingnya
nasihat dalam interaksi pendidik dengan subjek didik.
3)
Ancaman, hardikan,
pukulan, dan hukuman sebagai metode pendidikan.
Ibn Miskawaih mengindikasikan banyak sekali yang dapat
dilakukan, seperti tertera di atas dan dilaksanakan secara akurat sesuai dengan
tuntutan yang diperlukan. Artinya, jika subjek didik tidak melaksanakan tata
nilai yang telah diajarkan, mereka diberi sanksi berbagai cara sehingga mereka
kembali pada tatanan nilai yang ada. Akan tetapi, pemberian sanksi harus
bertahap dalam pelaksanaannya, yaitu ancaman, hardikan, kemudian pukulan
(bersifat jasmani), dan hukuman (baik bersifat jasmani maupun rohani).
Akan tetapi, penulis mengaris bawahi mengenai
metode pendidikan dari Ibn Maskawaih terkait ancaman, hardikan, pukulan, dan
hukuman karena terdapat bias antara upaya menanaman disiplin dengan melakukan
kekerasan terhadap anak. Menurut penulis ada bebarapa cara atau metode dalam
pendidikan diantaranya melalui contoh tingkah laku atau teladan baik dari
keluarga maupun sekolah (guru), menentukan kesepakatan atau perjanjian di dalam
keluarga, menawarkan kepada anak imbalan atau tingkah laku anak yang baik,
menentukan batasan yang jelas dalam hal menggunakan konsekuensi, konsekuensi
berbeda dengan hukuman. Hukuman dapat menyakiti anak, tidak hanya fisik tetapi
juga psikis sedangkan konsekuensi mengajari anak bahwa segala sesuatu ada
resikonya dan tidak lupa merepakan sistem demokrasi dalam keluarga bahwa anak
juga memiliki pendapat yang perlu didengarkan. Apabila ditarik dalam dunia
pendidikan bahwa ancaman, hukuman diberikan berdasarkan perspektif dunia
pendidikan itu sendiri.
4)
Sanjungan dan pujian
sebagai metode pendidikan
Ibn Miskawaih menandaskan, jika peserta didik melaksanakan
syariat dan berperilaku baik, dia perlu dipuji. Selanjutnya, Ibn Miskawaih
menyatakan,jika ia didapati melakukan perbuatan yang melanggar syariat dan budi
pekerti mulia, anak didik jangan langsung dicerca, apalagi di depan orang
banyak.
5)
Mendidik berdasarkan
asas-asas pendidikan
Bila pemikiran Ibn Miskawaih dalam Tahzib mengenai
asas-asas pendidikan diteliti, akan ditemukan berbagai konsep yang dapat
dirangkum padaa: asas bertahap, perbedaan, kesiapan, gestalt,
keteladanan, kebebasan, akivitas, keadilan, cinta, dan persahabatan serta
pembiasaan dan pergaulan.
a.
Asas
kesiapan, Ibn Miskawaih menyatakan bahwa manusia mempunyai bermacam-macam
kesiapan untuk memperoleh bermacam-macam tingkatan. Dengan modal kesiapan ini, manusia
mempunyai harapan untuk meningkatkan kualitas dirinya. Hanya saja, hal ini
tidak sama untuk semua individu.
b.
Asas
Gestalt adalah mendahulukan pengetahuan yang umum kemudian merincinya.
c.
Asas
keteladanan adalah pemberian contoh yang baik bagi peserta didik. Asas
kebiasaan bagi Ibn Miskawaih sangat penting dan menjadi perhatiannya.
Dikatakannya, subjek didik boleh bebas memilih, apakah menjadi makhluk mulia
atau menjadi makhluk hina seperti binatang, atau menjadi manusia sederajat
malaikat, bahkan menyatu dengan Tuhan. Itu semua terserah pada manusia sebagai
subjek dari pendidikan.
d.
Asas
pembiasaan adalah upaya praktik dalam pembinaan dan pembentukan subjek didik.
Ibnu Miskawaih berulang-ulang menyatakan untuk membiasakan perbuatan baik dan
taat kepada orangtua, guru, dan pendidik biasakanlah untuk tidak berbohong,
sering berjalan , bergerak, rekreasi, olahraga, dan seterusnya.
Demikianlah, beberapa asas pendidikan dari
pemikiran Ibn Miskawaih. Pemikiran tersebut didasari oleh hakikat jati diri
subjek didik sehingga sangat penting untuk dipahami dan diterapkan dalam usaha
pendidikan.[12]
5. Relevansi Pemikiran Pendidikan Ibnu Miskawaih di
Era Modern
Pendidikan akhlak oleh Ibn Miskawaih memiliki urgensi
nilai yang cukup signifikan dalam membentuk kepribadian bangsa. Sebagaimana
kita ketahui bahwa semua krisis yang terjadi dewasa ini baik ekonomi, politik
dan sosial budaya itu disebabkan karena akhlak tidak lagi menjadi kerangka atau
bingkai kehidupan. Perilaku korupsi, kolusi, perjudian, perzinahan, narkoba,
dan kekerasan yang terjadi selama ini disebabkan hancurnya pendidikan moral dan
akhlak. Sebagaimana juga dikatakan oleh Syauqi Baiq dalam kata-kata hikmahnya:
“Sesungguhnya mati dan hidup bangsa itu sangat bergantung pada akhlaknya, jika
baik, maka akan kuat bangsa itu, dan jika rusak maka hancurlah bangsa itu”.[13]
Selain daripada hal di atas, globalisasi pun
menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam
dewasa ini. Globalisasi telah menyebarkan arus informasi yang begitu
banyak dan beragam. Dan arus informasi tersebut tidak hanya berupa pengetahuan
tetapi juga berbagai nilai, dan nilai-nilai yang sepintas lalu terasa baru dan
asing. Apakah nilai-nilai itu bersifat positif atau negatif tergantung pada
nilai-nilai budaya dan tradisi yang telah berlaku didalam masyarakat. Dan yang
lebih penting lagi pengaruh globalisasi adalah pengaruh nilai-nilai seperti
materialisme, konsumerisme, hedonisme, penggunaan kekerasan, dan narkoba yang
dapat merusak moral masyarakat.
Menghadapi Globalisasi itu, seyogyanya kita
sebagai umat Islam tidak menyikapinya dengan sikap apriori (menolak) apa saja
yang berasal dari efek globalisasi dengan dalih semua itu berasal dari Barat
yang bersifat negatif. Ingat tidak ada hal negatif yang sepenuhnya negatif, dan
juga tidak ada hal positif yang sepenuhnya positif. Oleh, karena itu kita
haruslah bersikap selektif dan memfilter nilai-nilai dan menanamkan nilai-nilai
(akhlak) pada peserta didik agar dapat mempersiapkan mereka dalam menghadapi
tantangan globalisasi yang mereka hadapi dan alami.
Dalam rangka penanaman nilai-nilai (akhlak)
tersebut pendidikan menjadi kunci utama, tentu saja penanaman nilai-nilai
tersebut tidak akan dapat diwujudkan bila ia hanya mengandalkan pendidikan
formal semata, setiap sektor pendidikan lain baik formal, informal maupun non
formal harus difungsikan secara integral. Di samping itu, pendidikan harus diarahkan
secara seimbang antara aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Pendidikan
mempunyai peran penting dalam sosialisasi nilai-nilai (akhlak) kepada peserta
didik, maka diperlukan sistem pendidikan yang bermutu dan sesuai dengan
perkembangan zaman.
Membangun manusia seutuhnya merupakan tujuan
ideal dari pendidikan di Indonesia. Untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya
tersebut, diawali dengan melihat manusia itu memiliki dua aspek, yaitu aspek
fisik dan aspek psikis (jiwa). Didalam aspek psikis inilah duduknya pendidikan
karakter. Lahirnya sebuah sikap dan perilaku itu dimotori penggeraknya dalam
jiwa seseorang. Karena itulah membangun jiwa seutuhnya haruslah berawal dari
pembangunan jiwa manusia. Dan dalam hal ini, Ibn Miskawaih menekankan
pendidikan moral (moral education) bagi pembangunan manusia.
Karena sejatinya pembangunan manusia adalah pembangunan jiwa dengan
keutamaan (ahsan taqwîm) harus berbanding lurus dengan
kenikmatan jasmani, harta dan kekuasaan. Kehidupan manusia bukanlah kehidupan
zuhud dan penolakan, melainkan kompromi dan penyesuaian antara tuntutan jasad
dan ruh (jasmani dan rohani). Orang bijak bukanlah orang yang meninggalkan
kenikmatan dunia sepenuhnya akan tetapi menghubungkannya dengan kenikmatan
spiritual dengan etika sebagai kontrolnya. Hal ini cukup relevan jika kita
jadikan acuan di era masa kini, agar kita tidak hanya mementingkan kehidupan
duniawi saja ataupun sebaiknya, melainkan kita harus mengkombinasikan keduanya
dan mengaturnya sedemikian rupa agar segala yang kita kerjakan di dunia ini
semata-mata hanyalah untuk kehidupan akhirat kelak yang sifatnya lebih kekal.
Nilai-nilai pendidikan seperti itu harus mulai
ditanamkan sejak usia dini. Karena hal itu tidak bersifat alami dalam diri
manusia tapi harus diusahakan jadi merupakan suatu kewajiban untuk mengajarkan
dasar-dasar pengetahuan dan etika pergaulan dalam proses pembelajaran dan
pendidikan. Mengacu dari tridomain pendidikan (domain kognitif, domain afektif,
dan domain psikomotorik), tatanan nilai yang tertuang dalam pembukaan UUD’45
khususnya yang tertuang dalam UU No.2/1989 dan UU No. 20/2003 lebih banyak
didominasi oleh domain afektif atau cenderung kepada pembentukan sikap. Hal ini
menunjukkan bahwa tatanan nilai (keperibadian yang luhur) berfungsi sebagai
pengayom domain lainnya. Artinya, kecerdasan dan keterampilan harus berasaskan
nilai-nilai luhur yang dianut bangsa. Di antara sekian banyak nilai-nilai luhur
tersebut yaitu beriman, berakhlakul karimah, dan berama shaleh utamanya yang
bersumber pada nilai-nilai ajaran agama (Islam) adalah bagian dari nilai luhur
itu.[14]
Dari dua metode yang ditawarkan oleh Ibn
Miskawaih yaitu melalui pembiasaan dan pelatihan secara kontinyu serta
peneladanan dan peniruan dari orang yang ada di sekitarnya. Dapat dilihat perlu
adanya upaya dari para pendidik baik orang tua maupun guru-guru yang patut
dijadikan panutan bagi peserta didiknya. Karena peran yang mulai itulah agama
menempatkan orang tua sebagai manusia yang harus di taati setelah Allah SWT dan
rasulnya. Selain orang tua yang memiliki peran yang sangat urgen, guru juga
tidak kalah penting peranannya sebagai wakil dari orang tuanya. Apalagi saat
ini tidak sedikit orang tua yang sibuk dengan aktifitasnya di luar rumah
sehingga anak-anaknya lebih banyak menghabiskan waktunya dengan guru dan
teman-temannya di sekolah. Dari situ guru di tuntut untuk profesional
dibidangnya selain itu juga ia harus memiliki kasih sayang sebagaimana yang
dimiliki oleh para orang tua. Oleh sebab itu, seorang guru diharapkan tidak
hanya melakukan transfer of knowledge tetapi harus melakukan
transformasi keilmuan dan kependidikan bagi anak didiknya. Apapun sistem
ataupun pendidikan etika yang diajarkannya, menurut Ibn Miskawaih guru
merupakan centre of learning yang menentukan berhasil tidaknya
proses pendidikan. Namun eksistensinya tidak bertumpu pada ilmu yang
dimilikinya, melainkan pada perilakunya yang baik dan strategi ataupun
metodologi yang digunakannya dalam pendidikan.
Dari pembiasaan dan pelatihan diharapkan
membentuk manusia karakter, ada tujuh stategi dalam membentuk karakter yakni
habituasi (pembiasaan) dan pembudayaan yang baik, mempelajari hal-hal yang
baik, moral feeling dan loving (merasakan dan mencintai yang
baik), moral acting (tindakan yang baik), moral model(keteladanan)
dari lingkungan sekitar, dan tobat (kembali) kepada Allah SWT setelah melakukan
kesalahan.[15]
C.
Kesimpulan
Pendidikan akhlak oleh Ibn Miskawaih memiliki
urgensi nilai yang cukup signifikan dalam membentuk kepribadian bangsa ke
depan. Sebagaimana kita ketahui bahwa semua krisis yang terjadi dewasa ini baik
ekonomi, politik dan sosial budaya itu disebabkan karena akhlak tidak lagi
menjadi kerangka atau bingkai kehidupan. Perilaku korupsi, kolusi, perjudian,
perzinahan, narkoba, dan kekerasan yang terjadi selama ini disebabkan hancurnya
pendidikan moral dan akhlak.
Selain daripada hal di atas, globalisasi pun
menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam
dewasa ini. Globalisasi telah menyebarkan arus informasi yang begitu
banyak dan beragam. Dan arus informasi tersebut tidak hanya berupa pengetahuan
tetapi juga berbagai nilai, dan nilai-nilai yang sepintas lalu terasa baru dan
asing. Apakah nilai-nilai itu bersifat positif atau negatif tergantung pada
nilai-nilai budaya dan tradisi yang telah berlaku didalam masyarakat. Dan yang
lebih penting lagi pengaruh globalisasi adalah pengaruh nilai-nilai seperti
materialisme, konsumerisme, hedonisme, penggunaan kekerasan, dan narkoba yang
dapat merusak moral masyarakat. Menghadapi Globalisasi itu, seyogyanya kita
sebagai umat Islam tidak menyikapinya dengan sikap apriori (menolak) apa saja
yang berasal dari efek globalisasi dengan dalih semua itu berasal dari Barat
yang bersifat negatif. Ingat tidak ada hal negatif yang sepenuhnya negatif, dan
juga tidak ada hal positif yang sepenuhnya positif. Oleh, karena itu kita
haruslah bersikap selektif dan memfilter nilai-nilai dan menanamkan nilai-nilai
(akhlak) pada peserta didik agar dapat mempersiapkan mereka dalam menghadapi
tantangan globalisasi yang mereka hadapi dan alami.
Dalam rangka penanaman nilai-nilai (akhlak)
tersebut pendidikan menjadi kunci utama, tentu saja penanaman nilai-nilai
tersebut tidak akan dapat diwujudkan bila ia hanya mengandalkan pendidikan
formal semata, setiap sektor pendidikan lain baik formal, informal maupun non
formal harus difungsikan secara integral. Di samping itu, pendidikan harus
diarahkan secara seimbang antara aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
Pendidikan mempunyai peran penting dalam sosialisasi nilai-nilai (akhlak)
kepada peserta didik, maka diperlukan sistem pendidikan yang bermutu dan sesuai
dengan perkembangan zaman. Membangun manusia seutuhnya merupakan tujuan
ideal dari pendidikan di Indonesia. Untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya
tersebut, diawali dengan melihat manusia itu memiliki dua aspek, yaitu aspek
fisik dan aspek psikis (jiwa). Didalam aspek psikis inilah duduknya pendidikan
karakter. Lahirnya sebuah sikap dan perilaku itu dimotori penggeraknya dalam
jiwa seseorang. Karena itulah membangun jiwa seutuhnya haruslah berawal dari
pembangunan jiwa manusia. Dan dalam hal ini, Ibn Miskawaih menekankan
pendidikan moral (moral education) bagi pembangunan manusia.
Karena sejatinya pembangunan manusia adalah pembangunan jiwa dengan
keutamaan (ahsan taqwîm) harus berbanding lurus dengan
kenikmatan jasmani, harta dan kekuasaan. Kehidupan manusia bukanlah kehidupan
zuhud dan penolakan, melainkan kompromi dan penyesuaian antara tuntutan jasad
dan ruh (jasmani dan rohani). Orang bijak bukanlah orang yang meninggalkan
kenikmatan dunia sepenuhnya akan tetapi menghubungkannya dengan kenikmatan
spiritual dengan etika sebagai kontrolnya.
Hal ini cukup relevan jika kita jadikan acuan di
era masa kini, agar kita tidak hanya mementingkan kehidupan duniawi saja
ataupun sebaiknya, melainkan kita harus mengkombinasikan keduanya dan
mengaturnya sedemikian rupa agar segala yang kita kerjakan di dunia ini
semata-mata hanyalah untuk kehidupan akhirat kelak yang sifatnya lebih kekal.
DAFTAR PUSTAKA
Azhar Basyir, Ahmad., 1983,Miskawaih: Riwayat
Hidup dan Pemikiran Filsafatnya, Yogyakarta: Nur Cahaya.
Madjidi, Busyairi.,1997,Konsep Kependidikan
Para Filosof Muslim, Yogyakarta: Al-Amin Press.
Mahmud., 2011, Pemikiran Pendidikan Islam, Bandung:
Pustaka Setia.
Maragustam., 2010, Filsafat Pendidikan
Islam Menuju Pembentukan Karakter Mengahadapi Arus Global, Yogyakarta:
Kurnia Kalam Semesta.
___________., 2010, Mencetak Pembelajar
Menjadi Insan Paripurna (Falsafah Pendidikan Islam), Yogyakarta: Nuha
Litera.
Magin Suseno, Franz., 1987, Etika
Dasar: Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral, Yogyakarta: Kanasius.
Rahmaniyah, Istigfarotur., 2010, Pendidikan
Etika Konsep Jiwa dan Etika Perspektif Ibnu Miskawaih dalam Kontribusinya di
bidang Pendidikan, Malang: UIN-Maliki Press.
Sahlan, Asmaun., 2009, Mewujudkan
Budaya Religius di Sekolah : Upaya Mengembangkan PAI dari Teori ke Aksi, Uin
Maliki Press, Malang.
Suharto, Toto., 2013, Filsafat Pendidikan Islam, Yogyakarta:
Ar-Ruzz Media.
Zurqoni dan Mukhibat., 2014, Menggali
Islam Membumikan Pendidikan Upaya Membuka Wawasan Keislaman & Pemberdayakan
Pendidikan Islam, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
MAKALAH PRAREVISI
[1] Franz Magin Suseno, Etika Dasar:
Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral, Yogyakarta: Kanasius, 1987, hlm.
15.
[2] Asmaun Sahlan, Mewujudkan Budaya
Religius di Sekolah : Upaya Mengembangkan PAI dari Teori ke Aksi, 2009,
Uin Maliki Press, Malang, hlm. 1
[3]Nor Muslim Az, Himmah Vol. IV No. 9 : Pemikiran
Pendidikan Ibnu Misakwaih dan al-Qabisi, Relevansinya dengan Pendidikan
Kontemporer, 2003, STAIN Palangkaraya, Palangkaraya, hlm. 21.
[4]Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam
dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia, 2012, Kencana, Jakarta, hlm.
185.
[5]Ahmad Azhar Basyir, Miskawaih: Riwayat
Hidup dan Pemikiran Filsafatnya, Yogyakarta: Nur Cahaya, 1983, hlm. 3.
[6]Busyairi madjidi, Konsep Kependidikan
Para Filosof Muslim, Yogyakarta: Al Amin Press, 1997, hlm. 25.
[7]Busyairi madjidi, Konsep Kependidikan
Para Filosof Muslim, Yogyakarta: Al Amin Press, 1997, hlm. 27.
[9]Istighfarotur
Rahmaniyah, Pendidikan etika Konsep Jiwa dan Etika Perspektif Ibnu
Miskawaih dalam Kontribusinya di bidang Pendidikan, Malang: UIN-Malik,
2010, hlm.15.
[10]Maragustam, Mencetak Pembelajar Menjadi
Insan Paripurna (Falsafah Pendidikan Islam), Yogyakarta: Nuha Litera.
[11]Ahmad
Azhar Basyir, Miskawaih: Riwayat Hidup dan Pemikiran Filsafatnya,
Yogyakarta: Nur Cahaya, 1983, hlm. 20.
[12]Ahmad
Azhar Basyir, Miskawaih: Riwayat Hidup dan Pemikiran Filsafatnya,
Yogyakarta: Nur Cahaya, 1983, hlm. 280.
[14]Asmaun Sahlan, Mewujudkan Budaya
Religius di Sekolah : Upaya Mengembangkan PAI dari Teori ke Aksi, 2009,
Uin Maliki Press, Malang, hlm. 3.
[15]Maragustam, Filsafat
Pendidikan Islam Menuju Pembentukan Karakter Mengahadapi Arus Global,Yogyakarta:
Kurnia Kalam Semesta, 2010, hal.265
0 Response to "ANALISIS FILOSUFIS PEMIKIRAN IBNU MISKAWAIHI (RELIGIUS-RASIONAL) TENTANG PENDIDIKAN DAN RELEVANSINYA DENGAN DUNIA MODERN"
Post a Comment