Sejarah Filsafat Pendidikan Islam di indonesia


BAB I
PENDAHULUAN

Banyak yang tidak mengira, bahwa masalah utama kita sebagai manusia sebenarnya adalah soal falsafat. Segala sesuatu yang ada di dunia ini berhubungan dengan falsafat, alam, manusia, hingga segala aktifitas yang dilakukan oleh manusia sangat berkaitan dan berhubungan dengan falsafat, dan hanya segelintir orang yang menyadari hal itu. Falsafat adalah hal yang sangat pelik dan rumit untuk dipelajari dan dipahami bagi sebagian orang dan mungkin hanya sedikit orang yang dapat mengerti makna falsafat yang sebenarnya, apa falsafat itu? Dimana awal mula muncul dan tumbuhnya falsafat? Kapan lahirnya falsafat? Siapa yang pertama kali memperkenalkan falsafat? Dan bagaimana perkembangan falsafat dari awal kemunculannya sampai sekarang hingga masa depan? Ini semua adalah pertanyaan-pertanyaan yang ada didalam falsafat.


Jika kita membatasi hanya dalam falsafat Islam, apa yang dimaksud falsafat Islam? Apakah falsafat yang lahir di daratan Arab atau falsafat yang lahir di tengah-tengah lingkungan Islam? Dalam Ensiklopedi tematis Islam mendefinisikan falsafat dengan beberapa definisi:Pertama, falsafat (al-Falsafah) adalah pengetahuan tentang segala yang ada. Kedua, falsafat adalah pengetahuan tentang yang Ilahiah dan yang insaniah. Ketiga, falsafat mencari perlindungan dalam kematian, maksudnya, cinta pada kematian. Keempat, falsafat adalah (upaya) menjadi seperti-Tuhan dalam kadar kemampuan manusia. Kelima, falsafat adalah seni (shinâ’ah) tentang seni-seni dan ilmu (‘ilm) tentang ilmu-ilmu. Dan keenam, falsafat adalah prasyarat bagi hikmah.[1] Al- Fârâbî mengatakan bahwa falsafat itu ialah ilmu pengetahuan tentang alam yang maujud dan bertujuan menyelidiki hakekat yang sebenarnya.[2]



BAB II
PEMBAHASAN

1.      MELIHAT KEMBALI SEJARAH FALSAFAT ISLAM
Jika kita membahas sejarah falsafat Islam, tentu terlebih dahulu kita akan membahas asal mula lahirnya nama falsafat secara histori. Kata falsafah berasal dari bahasa Arab yaitu falasifah. Sedangkan dari Yunani disebut philosopir dan dari Inggris disebut philosophy, sedangkan dari Indonesia sendiri mengambil kata filsafat dari tiga Negara. Fil diambil dari kata philosopir dari Yunani,, safa dari bahasa Arab dan huruf “t” diambil dari bahasa Persia, sehingga tersusunlah kata filsafat.
Sedangkan penyebutan untuk orang-orang yang berfilsafat juga berbeda-beda dari tiap Negara. Indonesia menyebut failasuf, dari Arab menyebut falasifah dan dari Jerman menyebut filosof.
Sejarah tertua daripada perkembangan falsafat ini kita dapati di Timur, di India, Cina, Persia dan di Mesir, bahkan di Arab dan di bagian dunia lainnya. Meskipun demikian, kemajuan falsafat Yunani dalam masanya tidak dapat kita hilangkan begitu saja. Pikiran-pikiran yang tumbuh dalam masa Yunani telah mempengaruhi falsafat Arab atau falsafat Islam, melalui pemikiran Aristoteles, Plato dan Platonisme-Baru, yang semuanya merupakan guru-guru yang sangat giat mempelajari persoalan-persoalan mengenai hakekat alam dan manusia. Pikiran-pikiran ini kemudian ini merupakan juga persoalan umum dalam falsafat aliran baru, seperti yang digerakan oleh Bacon, Descartes, Spinoza dan Kant. Kita lihat juga banyak buah-buah pikiran ahli falsafat barat ini yang memengaruhi pendirian Al Fârâbî, Ibn Sînâ, Al Ghazâlî dan Ibnu Rusyd.[3]
Dengan demikian, pertumbuhan falsafat Islam sudah tentu dipengaruhi oleh falsafat barat yang sumbernya berawal dari Yunani. Sumber-sumber yang berasal dari Yunani itu kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Suryani, dari bahasa Suryani kemudian diterjemahkan lagi dalam bahasa Arab. Tidak berhenti sampai disitu, tulisan-tulisan dan buku-buku yang berbahasa Arab itu kemudian diterjemahkan oleh para Jacobites dan Nestorian ke dalam bahasa Latin, namun hasil terjemahan ini dinilai kurang sistematis dan mulai disistematiskan oleh para failasuf Islam seperti Al Kindi, Ibn Sînâ dan Ibnu Rusyd, dan ini menjadi sumber utama para failasuf Islam dalam memahami pemikiran-pemikiran tokoh barat semisal Aristoteles dan Plato.
Selain peran dari Yunani dan Suryani, ternyata Persia dan India pun memberikan pengaruh yang tidak sedikit. Salah satu sumbangan Persia yang sampai saat ini kita kenal adalah crita 1001 malam yang kita kenal sebagai karya terbesar Islam. Sedangkan India memberikan sumbangan dalam tradisi matematika Islam yang sudah cukup dikenal. Ini diakui oleh setiap orang ketika berbicara tentang angka Arab –Angka dari 1 hingga 9 dan 0, yang berlaku dalam sistem desimal, yang kemudian diperkenalkan ke dunia sains oleh seorang ahli matematika dan astronomi terkemuka asal Persia, Muhammad Ibn Mûsâ Al-Khawârizmî (w. 233 H/847 M).
Namun pada perkembangannya, orang Islam ingin membuktikan bahwa sebelum datangnya sumber falsafat dari Yunani, Islam sebetulnya sudah memiliki sumber falsafat yaitu Kalam Allah atau al-Qur’ân. Orang Islam ingin membuktikan bahwa doktrin pertama pemikiran falsafat Islam adalah dari al-Qur’ân dan hadits. Sumber lainnya adalah ajaran Nabi Muhammad saw, yang banyak diikuti banyak orang, dan jelas bahwa setiap ajaran nabi bersumber dari al-Qur’ân. Bukti lainnya adalah bahwa orang Islam sebelum berfalsafat mereka terlebih dahulu memeluk agama Islam, dan sebelum adanya falsafat, orang Islam sudah memiliki berbagai ilmu rasional yang mendorong untuk berfikir dan berfalsafat seperti ilmu kalam, eksak dan tasawuf.

2.      PERKEMBANGAN FALSAFAT ISLAM DI INDONESIA
Perkembangan kajian falsafat Islam di Indonesia tidak akan lepas dari peran dan perkembangan lembaga pendidikan di Indonesia. Dalam Sejarah Institut Agama Islam Negeri dari tahun 1976 sampai tahun 1980, tercatat 14 nama Institut Agama Islam Negeri di Indonesia. Bahkan sumber lain mengatakan bahwa jumlah IAIN yang tersebar di seluruh Indonesia tersebut sudah ada sejak tahun 1973.[4] Beberapa diantaranya sudah mulai mengkaji falsafat Islam. Salah satu IAIN yang sangat fokus dalam membahas kajian ini adalah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.[5] Baik IAIN Syarif Hidayatullah atau IAIN manapun di Indonesia merupakan barometer dalam kajian falsafat Islam dan kajian Islam lainnya. Karena hanya IAIN berspesialisasi dalam kajian Islam. Oleh sebab itu, IAIN menjadi lembaga paling otoritatif dalam mendiskusikan kajian-kajian Islam pada umumnya, apalagi falsafat Islam.[6] Dengan demikian, mungkin pembahasan falsafat Islam akan lebih banyak dibahas dalam lingkup IAIN Syarif Hidayatullah atau yang sekarang sudah menjadi Universitas Islam Negri (UIN).
Kajian Falsafat Islam IAIN tahun 80’an
Jurusan dan mata kuliah falsafat Islam benar-benar merupakan hal yang baru di IAIN pada tahun 1980. Meskipun sejak tahun 1970’an falsafat Islam telah diajarkan di Fakultas Ushuluddin, melalui buku-buku Guru Besar Harun Nasution (GBHN), namun materinya tidak diajarkan secara mendalam, karena buku-buku tersebut sebenarnya hanya merupakan pengantar awal pengenalan terhadap kajian-kajian Islam. Maka selain falsafat Islam diberikan juga disana: sejarah Islam, kalâm, tasauf, falsafat agama dan seluruh disiplin ilmu Islam lainnya. Hanya atas prakarsa GBHN, pada tahun 1982 didirikan jurusan baru bernama Aqidah Falsafat.[7] Namun banyak sekali tantangan yang dihadapi GBHN dalam pembentukan jurusan AF ini seperti dari sisi tenaga pengajar, silabus, materi dan satuan acara perkuliahan. Ternyata mata kuliah dan bahan-bahan yang bersentuhan dengan falsafat Islam pun belum sekomperhensif seperti sekarang. Namun tidak hanya di IAIN Syarif Hidayatullah saja. Ternyata, problema inipun dirasakan juga oleh semua IAIN di Indonsia. Problema lainnya adalah seperti masalah tenga pengajar yang masih kurang, baik dalam jumlah maupun kualitasnya, proses belajar mengajar, kurikulum dan pendanaan.[8] Masalah lainnya adalah paradigma mahasiswa yang masih hawatir tentang masa depannya bila mereka belajar di jurusan ini, dan itu menjadi masalah yang mungkin sampai saat ini masih dirasakan oleh sebagian banyak mahasiswa.
Seperti sudah dijelaskan bahwa salah satu permasalahan yang dihadapi pada saat itu selain bahan sumber referensi yang masih terbatas juga masalah tenaga pengajar yang masih belum memadai, mengingat pada waktu itu dosen falsafat Islam diambil dari lulusan Perbandingan Agama. Dan ketika tiga tahun berselang dan melahirkan sarjana-sarjana baru yang kemudian menggantikan dosen-dosen tersebut pun sebenarnya masih kurang memenuhi kebutuhan. Kurangnya para ahli di bidang tersebut sangat mempengaruhi proses belajar, ditambah lagi mahasiswa yang lebih banyak menguasai materi-materi falsafat barat, sangat disayangkan sebetulnya, mengingat Institut Agama Islam namun yang lebih banyak di pelajari dan diperdalam malahan bersumber dari barat.
Rujukan Pustaka Falsafat Islam
Jika silabus dan SAP mengalami kemunduran, justru perkembangan diperlihatkan dari sisi buku rujukan di Indonesia.
Selain buku-buku GBHN, kitab falsafat Islam pertama kali terbit tahun 1961, berjudul Filsafat Islam, yang dikarang oleh Oemar Amin Hoesin. Tetapi buku ini hanya menyentuh sedikit saja asas-asas falsafat dan kurang masyhur juga tidak monumental. Pada tahun 1962, terbit buku Disekitar Filsafat Scholastik Islam, oleh Hasbullah Bakry dan menjadi buku pegangan di sekolah Pendidikan Hakim dalam Negeri di Yogyakarta. Ia juga merupakan dosen falsafat di Fakultas Tarbiyah IAIN Ciputat. Delapan tahun kemudian terbit buku karangan Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, namun juga tidak terlalu populer. Referensi yang paling monumental adalah karangan dari GBHN seperti buku Falsafat dan Mistisisme dalam Islam dan Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Sepuluh tahun kemudian, muncul karya falsafat Islam yang disunting oleh Nurcholis Madjid (Cak Nur), Khazanah Intelektual Islam. Tahun 1985 muncul terjemahan falsafat Islam karangan Ahmed Fouad El-Ehwany, Filsafat Islam. Adapun terjemahan M.M Sharif berjudul, Para Filosof Muslim.Padahal buku aslinya berjudul,  A History of Muslim Philosophy, terdisi dari dua jilid yang terbit pada tahun 1963 dan 1966.
Karya W. Montgomery Watt, Pemikiran Teologi dan Filsafat Islam, terjemahan dari Islamic Philosophy and Theology: an Extended Survey. Karya Majid Fakhry, Sejarah Filsafat Islam, dari versi asli A History of Islamic Philosophy, yang terbit pertama kali pada tahun 1970.  Buku Ibrahim Madkour, Filsafat Islam: Metode dan Penerapan, terjemahan dari Arab: Fî al-Falsafah al-Islâmiyyah: Manhaj wa Tatbîquhu. Terjemahan lain adalah C.A Qadir, Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam, dengan judul asli Philosophy and Science in the Islamic World.Tahun 1993 terbit buku Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasauf, ditulis oleh Abuddin Nata. Tahun 1999 Hasyimsyah Nasution mengeluarkan karya Filsafat Islam.
Pada tahun 2001 muncul karangan Oliver Leaman, Pengantar Filsafat Islam dengan judul asli A Brief Introduction to Islamic Philosophy. Ditahun yang sama karya Majid Fakhry diterjemahkan dengan judul Filsafat Islam: Sebuah Peta Kronologis. Tahun 2003 Abdul Aziz Dahlan mengeluarkan buku Pemikiran Falsafi dalam Islam. 2004 diterbitkan Wacana baru Filsafat Islam, Sirajuddin Zar dengan bukunya Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya, ditahun ini pula terbit terjemahan karya Ali Mahdi Khan, Dasar-dasar Filsafat Islam dengan judul asli The Element of Islamic Philosopy.
Tahun 2005 terbit buku karya Haidar Bagir, Buku Saku Filsafat Islam, Mulyadhi Kartanegara juga menerbitkan Gerbang kearifan: Sebuah Pengantar Filsafat Islam dan tiga tahun kemudian melahirkan buku Filsafat Islam, Etika dan Tasauf. Tahun 2010 Dedy Supriadi mengeluarkan karangannya, Pengantar Filsafat Islam (lanjutan).
Pada tahun 2012 didirikan ICAS (Islamic College for Advanced Studies), kemudian mendirikan Sadra Internasional Institute, buku-buku dari Iran diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, seperti buku karya Mohsen Gharawiyan, Pengantar Memahami Buku Daras Filsafat Islam. Adapun penulis lain semisal Muhammad Taqî Misbâh Yazdî[9].
Dengan demikian, maslah kepustakaan sedikit demi sedikit sudah menemui titik terangnya. Selain itu juga pada tahun 2013 sudah dibuka program S2 untuk jurusan Falsafat, namun untuk S3 masih belum ada titik terang mengingat harus berjalannya terlebih dahulu program S2 tersebut
  1. MASA DEPAN FALSAFAT
Jika kita membahas masa depan falsafat Islam, bahkan seorang profesor dari manapun tidak akan bisa menjawabnya. Masa depan adalah perkara yang metafisik, gaib, yang semua orang pun tidak pernah akan mengetahui. Semuanya adalah rahasia sang Pencipta. Bagi kita, manusia biasa hanya mampu memperkirakan atau hanya dapat memberikan spekulatif perihal masa depan falsafat Islam yang tentunya ditinjau dari sejarah juga dari perkembangan zaman sampai saat ini. Dari situ baru akan ditarik kesimpulan perkiraan yang akan terjadi dengan falsafat Islam.
Kita mulai pembahasan dengan pengembangan lembaga pendidikan dalam era global. Menurut Richard Crawford, salah seorang futurolog kenamaan, abad yang baru berusia dua tahun ini disebut sebagai era of human capital, yakni suatu masa yang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat pesat. Oleh karena itu, kecenderungan di masa depan akan ditandai oleh ledakan pengetahuan dan ledakan informasi. Arus informasi yang akan kita hadapi sangat besar dan juga pengetahuan baru yang akan diciptakan oleh para ilmuwan. Sebagai konsekuensi logisnya adalah bahwa keberadaan sumber daya manusia di Indonesia yang unggul dan memadai di masa yang akan datang menduduki posisi yang sangat penting dan strategis.[10] Bagaiman persiapan IAIN dimasa depan yang akan sangat kompetitif, global dan sering kali penuh nuansa krisis keguncangan. IAIN harus meninjau kembali paradigma pemikiran Islam yang dikmbangkan didalamnya. Sebab IAIN sebagai lembaga pendidikan tinggi yang merupakan pusat pengkajian dan pemikiran Islam yang paling advance di negeri kita. Pemikiran Islam itu sendiri merupakan penggrak sekaligus pengontrol perubahan dan inovasi setiap gerak langkah kesejarahan Islam. Pemikiran Islam secara formal meliputi: Teologi/Ilmu Kalam, Tasawuf, Falsafat Islam, dan Perkembangan Modern di Dunia Islam.[11]
Untuk melihat kontribusi IAIN yang mengembangkan pemikiran Islam dalam dunia yang semakin global di masa yang akan datang, kiranya perlu ditinjau dari sudut bagaimana pergaulan global dijalankan dan bagaimana dampak negatif pergaulan global itu bagi perkembangan masyarakat. Di celah itulah kita kemudian melihat bagaimana kontribusi IAIN yang mengembangkan pemikiran Islam. Ciri-ciri pergaulan global adalah sebagai berikut: Pertama, Terjadi pergeseran dari konflik ideologi dan politik mengarah pada persaingan perdagangan, investasi dan informasi. Kedua, hubungan antarnegara/ bangsa secara struktural berubah dari sifat ketergantungan ke arah saling tergantung. Ketiga,persaingan antarnegara diwarnai perang teknologi tinggi. Keempat, terciptanya budaya dunia yang cenderung mekanistik, efisien, tidak menghargai nilai dan norma. Dan kelima,batas-batas geografi hampir kehilangan arti operasionalnya.
Kesemuanya itu menimbulkan berbagai dampak negatif seperti: Pemiskinan nilai spiritual, manusia dari makhluk yang spiritual menjadi material, terjadi sekularisasi pada agama, Tuhan hanya sebatas ucapan dan dalam pikiran tidak ada dalam perilaku, individualistik dan terjadi frustasi eksistensial.
Dari semua ini, para Pemikir Muslim modern berusaha memajukan Islam dengan melakukan pemikiran terhadap Islam yang mengedepankan beberapa tema seperti: gagasan untuk kembali kepada sumber al-Qur’an dan Hadits, gagasan tentang islamisasi Ilmu Pengetahuan dan Prebumisasi Islam.
Kontribusi pemikiran Islam bagi pembangunan dapat kita lihat sebagai berikut: Pertama, pemikiran Islam yang menjadikan teologi sebagai salah satu kajian yang ini juga dibahas dalam falsafat. Kedua, tawarannya menyangkut pentingnya pemahaman agama yang lebih rasional. Ketiga, pemikiran Islam menawarkan dengan antusias sekali kesadaran pluralistik secara tulus. Keempat, pemikiran Islam menekankan dengan kuat sekali dinamika manusia. Kelima, pemikiran Islam menekankan dengan kuat sekali penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan itu semua dapat kita lakukan dengan mempelajari berbagai ilmu pemikiran Islam yang salah satunya adalah falsafat Islam.[12]
BAB III
KESIMPULAN

Sekarang, harusnya sudah tidak ada lagi orang yang ragu mempelajari falsafat, apalagi memperdalam falsafat Islam. Falsafat memberikan kita kesempatan untuk berfikir dan membaca situasi serta menilai secara bebas dan mendalam. Tapi berfikir bebas bukan berarti tanpa bobot yang bagus, melainkan berfikir bebas, radikal namun sistematis. Pada tantangan zaman sekarang ini ataupun dimasa yang akan datang, falsafat harusnya bisa menjadi titik terang dan jawaban bagi setiap tantangan dan pertanyaan yang ada. Bagaimana tidak, pemikiran atau berfilsafat akan menghasilkan kesadaran akan pemahaman Islam secara lebih intelektual, rasional dan kontkstual sehingga kita dapat melihat berbagai masalah dari berbagai sudut pandang dan dapat menyelesaikan dengan mudah. Pemikiran Islam juga menjanjikan lapangan kerja yang lebih luas dari sekedar pegawai negeri. Jika orang sudah mengetahui berbagai aspek yang terdapat dalam falsafat Islam, sudah barang tentu UIN akan dipenuhi oleh calon-calon pemikir dunia. Hanya karena mereka masih belum memahami betul apa sebenarnya falsafat, apa itu berfalsafat dan apa itu proses berfikir. Mereka mampu berfikir namun hanya dalam batasan-batasan tertentu. Beruntunglah bagi yang sudah dibukakan pintu pengetahuan tentang hakkat segala yang ada.
DAFTAR PUSTAKA
Aceh, Abubakar, Sejarah Filsafat Islam. Jakarta: Ramadhani, Sala, 1982.
Hossein, Seyyed Nasr dan Oliver Leaman (ed.), Ensiklopdi Tematis Filsafat Islam: Buku Pertama, terj. Tim Penerjemah Mizan, Bandung:Mizan,2003.
Harahap, Syahrin (ed), Perguruan Tinggi Islam di Era Globalisasi. Yogyakarta: IAIN Sumatera Utara bekerjasama dengan Tiara Wacana Yogya, 1998.
Putra, Haidar Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Kencana, 2007.
Sejarah Institut Agama Islam tahun 1976 sampai 1980 , Proyek Pembinaan Prasarana dan Sarana Perguruan Tinggi Agama/IAIN di Jakarta, Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Departemen Agama RI. Jakarta: 1986.
Suwendi,Sejarah dan Pemikiran Pendidikan Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004.
Tahqiq, Nanang, Kajian dan Pustaka Falsafat Islam di Indonesia dalam Ilmu Ushuluddin, Jurnal Himpunan Peminat Ilmu-ilmu Ushuluddin. Ciputat: HIPIUS, 2013.

[1] Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (ed.), Ensiklopdi Tematis Filsafat Islam: Buku Pertama, terj. Tim Penerjemah Mizan (Bandung:Mizan,2003) hlm, 30
[2] Abubakar Aceh, Sejarah Filsafat Islam ( Jakarta: Ramadhani, Sala, 1982)  hlm. 9
[3] Ibid. hlm, 11-13
[4]Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia(jakarta: Kencana, 2007) hlm.129
[5] Sejarah Institut Agama Islam tahun 1976 sampai 1980 , Proyek Pembinaan Prasarana dan Sarana Perguruan Tinggi Agama/IAIN di Jakarta, Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Departemen Agama RI (Jakarta: 1986)
[6] Nanang Tahqiq, Kajian dan Pustaka Falsafat Islam di Indonesia dalam Ilmu Ushuluddin, Jurnal Himpunan Peminat Ilmu-ilmu Ushuluddin (Ciputat: HIPIUS, 2013), vol. 1, no. 6, hlm. 509
[7] Ibid, hlm. 512
[8] Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia(jakarta: Kencana, 2007) hlm.131-134
[9] Nanang Tahqiq, Kajian dan Pustaka Falsafat Islam di Indonesia dalam Ilmu Ushuluddin, Jurnal Himpunan Peminat Ilmu-ilmu Ushuluddin (Ciputat: HIPIUS, 2013), vol. 1, no. 6, hlm. 515-525
[10] Suwendi,Sejarah dan Pemikiran Pendidikan Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004
[11] Syahrin Harahap (ed), Perguruan Tinggi Islam di Era Globalisasi (Yogyakarta: IAIN Sumatera Utara bekerjasama dengan Tiara Wacana Yogya, 1998) hlm.127
[12] Syahrin Harahap (ed), Perguruan Tinggi Islam di Era Globalisasi (Yogyakarta: IAIN Sumatera Utara bekerjasama dengan Tiara Wacana Yogya, 1998) hlm. 135-141


0 Response to "Sejarah Filsafat Pendidikan Islam di indonesia"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel