Sejarah Filsafat Pendidikan Islam di indonesia
BAB I
PENDAHULUAN
Banyak yang tidak
mengira, bahwa masalah utama kita sebagai manusia sebenarnya adalah soal
falsafat. Segala sesuatu yang ada di dunia ini berhubungan dengan falsafat,
alam, manusia, hingga segala aktifitas yang dilakukan oleh manusia sangat
berkaitan dan berhubungan dengan falsafat, dan hanya segelintir orang yang
menyadari hal itu. Falsafat adalah hal yang sangat pelik dan rumit untuk
dipelajari dan dipahami bagi sebagian orang dan mungkin hanya sedikit orang
yang dapat mengerti makna falsafat yang sebenarnya, apa falsafat itu? Dimana
awal mula muncul dan tumbuhnya falsafat? Kapan lahirnya falsafat? Siapa yang
pertama kali memperkenalkan falsafat? Dan bagaimana perkembangan falsafat dari
awal kemunculannya sampai sekarang hingga masa depan? Ini semua adalah
pertanyaan-pertanyaan yang ada didalam falsafat.
Jika kita membatasi
hanya dalam falsafat Islam, apa yang dimaksud falsafat Islam? Apakah falsafat
yang lahir di daratan Arab atau falsafat yang lahir di tengah-tengah lingkungan
Islam? Dalam Ensiklopedi tematis Islam mendefinisikan
falsafat dengan beberapa definisi:Pertama, falsafat (al-Falsafah) adalah pengetahuan tentang segala
yang ada. Kedua, falsafat adalah pengetahuan
tentang yang Ilahiah dan yang insaniah. Ketiga, falsafat
mencari perlindungan dalam kematian, maksudnya, cinta pada kematian. Keempat, falsafat adalah (upaya) menjadi
seperti-Tuhan dalam kadar kemampuan manusia. Kelima, falsafat
adalah seni (shinâ’ah) tentang seni-seni dan ilmu (‘ilm) tentang ilmu-ilmu. Dan keenam, falsafat adalah prasyarat bagi hikmah.[1] Al- Fârâbî mengatakan bahwa falsafat itu ialah
ilmu pengetahuan tentang alam yang maujud dan bertujuan menyelidiki hakekat
yang sebenarnya.[2]
BAB II
PEMBAHASAN
1.
MELIHAT KEMBALI SEJARAH FALSAFAT ISLAM
Jika kita membahas
sejarah falsafat Islam, tentu terlebih dahulu kita akan membahas asal mula
lahirnya nama falsafat secara histori. Kata falsafah berasal dari bahasa Arab
yaitu falasifah. Sedangkan dari Yunani disebut philosopir dan dari Inggris disebut philosophy, sedangkan dari Indonesia sendiri mengambil
kata filsafat dari tiga Negara. Fil diambil dari kata philosopir dari Yunani,, safa dari bahasa Arab dan huruf “t” diambil dari bahasa Persia, sehingga
tersusunlah kata filsafat.
Sedangkan penyebutan
untuk orang-orang yang berfilsafat juga berbeda-beda dari tiap Negara.
Indonesia menyebut failasuf, dari
Arab menyebut falasifah dan dari Jerman
menyebut filosof.
Sejarah tertua
daripada perkembangan falsafat ini kita dapati di Timur, di India, Cina, Persia
dan di Mesir, bahkan di Arab dan di bagian dunia lainnya. Meskipun demikian,
kemajuan falsafat Yunani dalam masanya tidak dapat kita hilangkan begitu saja.
Pikiran-pikiran yang tumbuh dalam masa Yunani telah mempengaruhi falsafat Arab
atau falsafat Islam, melalui pemikiran Aristoteles, Plato dan Platonisme-Baru,
yang semuanya merupakan guru-guru yang sangat giat mempelajari
persoalan-persoalan mengenai hakekat alam dan manusia. Pikiran-pikiran ini kemudian
ini merupakan juga persoalan umum dalam falsafat aliran baru, seperti yang
digerakan oleh Bacon, Descartes, Spinoza dan Kant. Kita lihat juga banyak
buah-buah pikiran ahli falsafat barat ini yang memengaruhi pendirian Al Fârâbî,
Ibn Sînâ, Al Ghazâlî dan Ibnu Rusyd.[3]
Dengan demikian,
pertumbuhan falsafat Islam sudah tentu dipengaruhi oleh falsafat barat yang
sumbernya berawal dari Yunani. Sumber-sumber yang berasal dari Yunani itu
kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Suryani, dari bahasa Suryani kemudian
diterjemahkan lagi dalam bahasa Arab. Tidak berhenti sampai disitu,
tulisan-tulisan dan buku-buku yang berbahasa Arab itu kemudian diterjemahkan
oleh para Jacobites dan Nestorian ke dalam bahasa Latin, namun hasil terjemahan
ini dinilai kurang sistematis dan mulai disistematiskan oleh para failasuf
Islam seperti Al Kindi, Ibn Sînâ dan Ibnu Rusyd, dan ini menjadi sumber utama para
failasuf Islam dalam memahami pemikiran-pemikiran tokoh barat semisal
Aristoteles dan Plato.
Selain peran dari
Yunani dan Suryani, ternyata Persia dan India pun memberikan pengaruh yang
tidak sedikit. Salah satu sumbangan Persia yang sampai saat ini kita kenal
adalah crita 1001 malam yang kita kenal sebagai karya terbesar Islam. Sedangkan
India memberikan sumbangan dalam tradisi matematika Islam yang sudah cukup
dikenal. Ini diakui oleh setiap orang ketika berbicara tentang angka Arab
–Angka dari 1 hingga 9 dan 0, yang berlaku dalam sistem desimal, yang kemudian
diperkenalkan ke dunia sains oleh seorang ahli matematika dan astronomi
terkemuka asal Persia, Muhammad Ibn Mûsâ Al-Khawârizmî (w. 233 H/847 M).
Namun pada
perkembangannya, orang Islam ingin membuktikan bahwa sebelum datangnya sumber
falsafat dari Yunani, Islam sebetulnya sudah memiliki sumber falsafat yaitu
Kalam Allah atau al-Qur’ân. Orang Islam ingin membuktikan bahwa doktrin pertama
pemikiran falsafat Islam adalah dari al-Qur’ân dan hadits. Sumber lainnya
adalah ajaran Nabi Muhammad saw, yang banyak diikuti banyak orang, dan jelas
bahwa setiap ajaran nabi bersumber dari al-Qur’ân. Bukti lainnya adalah bahwa
orang Islam sebelum berfalsafat mereka terlebih dahulu memeluk agama Islam, dan
sebelum adanya falsafat, orang Islam sudah memiliki berbagai ilmu rasional yang
mendorong untuk berfikir dan berfalsafat seperti ilmu kalam, eksak dan tasawuf.
2.
PERKEMBANGAN FALSAFAT ISLAM DI INDONESIA
Perkembangan kajian
falsafat Islam di Indonesia tidak akan lepas dari peran dan perkembangan
lembaga pendidikan di Indonesia. Dalam Sejarah Institut Agama Islam
Negeri dari tahun 1976 sampai tahun 1980, tercatat 14 nama Institut
Agama Islam Negeri di Indonesia. Bahkan sumber lain mengatakan bahwa jumlah
IAIN yang tersebar di seluruh Indonesia tersebut sudah ada sejak tahun 1973.[4] Beberapa diantaranya sudah mulai
mengkaji falsafat Islam. Salah satu IAIN yang sangat fokus dalam membahas
kajian ini adalah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.[5] Baik IAIN Syarif Hidayatullah atau
IAIN manapun di Indonesia merupakan barometer dalam kajian falsafat Islam dan
kajian Islam lainnya. Karena hanya IAIN berspesialisasi dalam kajian Islam.
Oleh sebab itu, IAIN menjadi lembaga paling otoritatif dalam mendiskusikan
kajian-kajian Islam pada umumnya, apalagi falsafat Islam.[6] Dengan demikian, mungkin pembahasan
falsafat Islam akan lebih banyak dibahas dalam lingkup IAIN Syarif Hidayatullah
atau yang sekarang sudah menjadi Universitas Islam Negri (UIN).
Kajian Falsafat Islam IAIN
tahun 80’an
Jurusan dan mata
kuliah falsafat Islam benar-benar merupakan hal yang baru di IAIN pada tahun
1980. Meskipun sejak tahun 1970’an falsafat Islam telah diajarkan di Fakultas
Ushuluddin, melalui buku-buku Guru Besar Harun Nasution (GBHN), namun materinya
tidak diajarkan secara mendalam, karena buku-buku tersebut sebenarnya hanya
merupakan pengantar awal pengenalan terhadap kajian-kajian Islam. Maka selain
falsafat Islam diberikan juga disana: sejarah Islam, kalâm, tasauf, falsafat
agama dan seluruh disiplin ilmu Islam lainnya. Hanya atas prakarsa GBHN, pada
tahun 1982 didirikan jurusan baru bernama Aqidah Falsafat.[7] Namun banyak sekali tantangan yang
dihadapi GBHN dalam pembentukan jurusan AF ini seperti dari sisi tenaga
pengajar, silabus, materi dan satuan acara perkuliahan. Ternyata mata kuliah
dan bahan-bahan yang bersentuhan dengan falsafat Islam pun belum sekomperhensif
seperti sekarang. Namun tidak hanya di IAIN Syarif Hidayatullah saja. Ternyata,
problema inipun dirasakan juga oleh semua IAIN di Indonsia. Problema lainnya
adalah seperti masalah tenga pengajar yang masih kurang, baik dalam jumlah
maupun kualitasnya, proses belajar mengajar, kurikulum dan pendanaan.[8] Masalah lainnya adalah paradigma
mahasiswa yang masih hawatir tentang masa depannya bila mereka belajar di
jurusan ini, dan itu menjadi masalah yang mungkin sampai saat ini masih
dirasakan oleh sebagian banyak mahasiswa.
Seperti sudah
dijelaskan bahwa salah satu permasalahan yang dihadapi pada saat itu selain
bahan sumber referensi yang masih terbatas juga masalah tenaga pengajar yang
masih belum memadai, mengingat pada waktu itu dosen falsafat Islam diambil dari
lulusan Perbandingan Agama. Dan ketika tiga tahun berselang dan melahirkan
sarjana-sarjana baru yang kemudian menggantikan dosen-dosen tersebut pun
sebenarnya masih kurang memenuhi kebutuhan. Kurangnya para ahli di bidang
tersebut sangat mempengaruhi proses belajar, ditambah lagi mahasiswa yang lebih
banyak menguasai materi-materi falsafat barat, sangat disayangkan sebetulnya,
mengingat Institut Agama Islam namun yang lebih banyak di pelajari dan
diperdalam malahan bersumber dari barat.
Rujukan Pustaka Falsafat Islam
Jika silabus dan SAP
mengalami kemunduran, justru perkembangan diperlihatkan dari sisi buku rujukan
di Indonesia.
Selain buku-buku GBHN,
kitab falsafat Islam pertama kali terbit tahun 1961, berjudul Filsafat Islam, yang dikarang oleh Oemar Amin Hoesin.
Tetapi buku ini hanya menyentuh sedikit saja asas-asas falsafat dan kurang
masyhur juga tidak monumental. Pada tahun 1962, terbit buku Disekitar Filsafat Scholastik Islam, oleh
Hasbullah Bakry dan menjadi buku pegangan di sekolah Pendidikan Hakim dalam
Negeri di Yogyakarta. Ia juga merupakan dosen falsafat di Fakultas Tarbiyah
IAIN Ciputat. Delapan tahun kemudian terbit buku karangan Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, namun juga tidak terlalu
populer. Referensi yang paling monumental adalah karangan dari GBHN seperti
buku Falsafat dan Mistisisme dalam Islam dan Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Sepuluh
tahun kemudian, muncul karya falsafat Islam yang disunting oleh Nurcholis
Madjid (Cak Nur), Khazanah Intelektual Islam. Tahun
1985 muncul terjemahan falsafat Islam karangan Ahmed Fouad El-Ehwany, Filsafat Islam. Adapun terjemahan M.M Sharif
berjudul, Para Filosof Muslim.Padahal buku
aslinya berjudul, A History of Muslim Philosophy,
terdisi dari dua jilid yang terbit pada tahun 1963 dan 1966.
Karya W. Montgomery
Watt, Pemikiran Teologi dan Filsafat Islam, terjemahan
dari Islamic Philosophy and Theology: an Extended Survey. Karya
Majid Fakhry, Sejarah Filsafat Islam, dari versi asli A History of Islamic Philosophy, yang terbit
pertama kali pada tahun 1970. Buku Ibrahim Madkour, Filsafat Islam: Metode dan Penerapan, terjemahan
dari Arab: Fî al-Falsafah al-Islâmiyyah: Manhaj wa
Tatbîquhu. Terjemahan lain adalah C.A Qadir, Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam, dengan judul
asli Philosophy and Science in the Islamic World.Tahun 1993
terbit buku Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasauf, ditulis
oleh Abuddin Nata. Tahun 1999 Hasyimsyah Nasution mengeluarkan karya Filsafat Islam.
Pada tahun 2001 muncul
karangan Oliver Leaman, Pengantar Filsafat Islam dengan
judul asli A Brief Introduction to Islamic Philosophy. Ditahun
yang sama karya Majid Fakhry diterjemahkan dengan judul Filsafat Islam: Sebuah Peta Kronologis. Tahun 2003
Abdul Aziz Dahlan mengeluarkan buku Pemikiran Falsafi dalam Islam.
2004 diterbitkan Wacana baru Filsafat Islam,
Sirajuddin Zar dengan bukunya Filsafat Islam: Filosof dan
Filsafatnya, ditahun ini pula terbit terjemahan karya Ali Mahdi
Khan, Dasar-dasar Filsafat Islam dengan judul asli The Element of Islamic Philosopy.
Tahun 2005 terbit buku
karya Haidar Bagir, Buku Saku Filsafat Islam,
Mulyadhi Kartanegara juga menerbitkan Gerbang kearifan: Sebuah
Pengantar Filsafat Islam dan tiga tahun kemudian melahirkan
buku Filsafat Islam, Etika dan Tasauf. Tahun 2010 Dedy
Supriadi mengeluarkan karangannya, Pengantar Filsafat Islam
(lanjutan).
Pada tahun 2012
didirikan ICAS (Islamic College for Advanced Studies), kemudian mendirikan
Sadra Internasional Institute, buku-buku dari Iran diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia, seperti buku karya Mohsen Gharawiyan, Pengantar Memahami Buku Daras Filsafat Islam. Adapun
penulis lain semisal Muhammad Taqî Misbâh Yazdî[9].
Dengan demikian,
maslah kepustakaan sedikit demi sedikit sudah menemui titik terangnya. Selain
itu juga pada tahun 2013 sudah dibuka program S2 untuk jurusan Falsafat, namun
untuk S3 masih belum ada titik terang mengingat harus berjalannya terlebih
dahulu program S2 tersebut
- MASA DEPAN FALSAFAT
Jika kita membahas
masa depan falsafat Islam, bahkan seorang profesor dari manapun tidak akan bisa
menjawabnya. Masa depan adalah perkara yang metafisik, gaib, yang semua orang
pun tidak pernah akan mengetahui. Semuanya adalah rahasia sang Pencipta. Bagi
kita, manusia biasa hanya mampu memperkirakan atau hanya dapat memberikan
spekulatif perihal masa depan falsafat Islam yang tentunya ditinjau dari
sejarah juga dari perkembangan zaman sampai saat ini. Dari situ baru akan
ditarik kesimpulan perkiraan yang akan terjadi dengan falsafat Islam.
Kita mulai pembahasan
dengan pengembangan lembaga pendidikan dalam era global. Menurut Richard
Crawford, salah seorang futurolog kenamaan, abad yang baru berusia dua tahun
ini disebut sebagai era of human capital, yakni
suatu masa yang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat
pesat. Oleh karena itu, kecenderungan di masa depan akan ditandai oleh ledakan pengetahuan dan ledakan informasi. Arus informasi yang akan kita
hadapi sangat besar dan juga pengetahuan baru yang akan diciptakan oleh para
ilmuwan. Sebagai konsekuensi logisnya adalah bahwa keberadaan sumber daya
manusia di Indonesia yang unggul dan memadai di masa yang akan datang menduduki
posisi yang sangat penting dan strategis.[10] Bagaiman persiapan IAIN dimasa
depan yang akan sangat kompetitif, global dan sering kali penuh nuansa krisis
keguncangan. IAIN harus meninjau kembali paradigma pemikiran Islam yang
dikmbangkan didalamnya. Sebab IAIN sebagai lembaga pendidikan tinggi yang
merupakan pusat pengkajian dan pemikiran Islam yang paling advance di negeri kita. Pemikiran Islam itu
sendiri merupakan penggrak sekaligus pengontrol perubahan dan inovasi setiap
gerak langkah kesejarahan Islam. Pemikiran Islam secara formal meliputi:
Teologi/Ilmu Kalam, Tasawuf, Falsafat Islam, dan Perkembangan Modern di Dunia
Islam.[11]
Untuk melihat
kontribusi IAIN yang mengembangkan pemikiran Islam dalam dunia yang semakin
global di masa yang akan datang, kiranya perlu ditinjau dari sudut bagaimana
pergaulan global dijalankan dan bagaimana dampak negatif pergaulan global itu
bagi perkembangan masyarakat. Di celah itulah kita kemudian melihat bagaimana
kontribusi IAIN yang mengembangkan pemikiran Islam. Ciri-ciri pergaulan global
adalah sebagai berikut: Pertama, Terjadi
pergeseran dari konflik ideologi dan politik mengarah pada persaingan
perdagangan, investasi dan informasi. Kedua, hubungan
antarnegara/ bangsa secara struktural berubah dari sifat ketergantungan ke arah
saling tergantung. Ketiga,persaingan
antarnegara diwarnai perang teknologi tinggi. Keempat, terciptanya
budaya dunia yang cenderung mekanistik, efisien, tidak menghargai nilai dan
norma. Dan kelima,batas-batas geografi hampir
kehilangan arti operasionalnya.
Kesemuanya itu
menimbulkan berbagai dampak negatif seperti: Pemiskinan nilai spiritual,
manusia dari makhluk yang spiritual menjadi material, terjadi sekularisasi pada
agama, Tuhan hanya sebatas ucapan dan dalam pikiran tidak ada dalam perilaku,
individualistik dan terjadi frustasi eksistensial.
Dari semua ini, para
Pemikir Muslim modern berusaha memajukan Islam dengan melakukan pemikiran
terhadap Islam yang mengedepankan beberapa tema seperti: gagasan untuk kembali
kepada sumber al-Qur’an dan Hadits, gagasan tentang islamisasi Ilmu Pengetahuan
dan Prebumisasi Islam.
Kontribusi pemikiran
Islam bagi pembangunan dapat kita lihat sebagai berikut: Pertama, pemikiran Islam yang menjadikan teologi
sebagai salah satu kajian yang ini juga dibahas dalam falsafat. Kedua, tawarannya menyangkut pentingnya pemahaman
agama yang lebih rasional. Ketiga, pemikiran
Islam menawarkan dengan antusias sekali kesadaran pluralistik secara
tulus. Keempat, pemikiran Islam menekankan dengan kuat
sekali dinamika manusia. Kelima, pemikiran
Islam menekankan dengan kuat sekali penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dan itu semua dapat kita lakukan dengan mempelajari berbagai ilmu pemikiran
Islam yang salah satunya adalah falsafat Islam.[12]
BAB III
KESIMPULAN
Sekarang, harusnya
sudah tidak ada lagi orang yang ragu mempelajari falsafat, apalagi memperdalam
falsafat Islam. Falsafat memberikan kita kesempatan untuk berfikir dan membaca
situasi serta menilai secara bebas dan mendalam. Tapi berfikir bebas bukan
berarti tanpa bobot yang bagus, melainkan berfikir bebas, radikal namun
sistematis. Pada tantangan zaman sekarang ini ataupun dimasa yang akan datang,
falsafat harusnya bisa menjadi titik terang dan jawaban bagi setiap tantangan
dan pertanyaan yang ada. Bagaimana tidak, pemikiran atau berfilsafat akan
menghasilkan kesadaran akan pemahaman Islam secara lebih intelektual, rasional
dan kontkstual sehingga kita dapat melihat berbagai masalah dari berbagai sudut
pandang dan dapat menyelesaikan dengan mudah. Pemikiran Islam juga menjanjikan
lapangan kerja yang lebih luas dari sekedar pegawai negeri. Jika orang sudah
mengetahui berbagai aspek yang terdapat dalam falsafat Islam, sudah barang
tentu UIN akan dipenuhi oleh calon-calon pemikir dunia. Hanya karena mereka
masih belum memahami betul apa sebenarnya falsafat, apa itu berfalsafat dan apa
itu proses berfikir. Mereka mampu berfikir namun hanya dalam batasan-batasan
tertentu. Beruntunglah bagi yang sudah dibukakan pintu pengetahuan tentang
hakkat segala yang ada.
DAFTAR PUSTAKA
Aceh, Abubakar, Sejarah Filsafat Islam. Jakarta: Ramadhani, Sala,
1982.
Hossein, Seyyed Nasr
dan Oliver Leaman (ed.), Ensiklopdi Tematis Filsafat
Islam: Buku Pertama, terj. Tim Penerjemah Mizan,
Bandung:Mizan,2003.
Harahap, Syahrin
(ed), Perguruan Tinggi Islam di Era Globalisasi. Yogyakarta:
IAIN Sumatera Utara bekerjasama dengan Tiara Wacana Yogya, 1998.
Putra, Haidar
Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia.
Jakarta: Kencana, 2007.
Sejarah Institut Agama Islam
tahun 1976 sampai 1980 , Proyek Pembinaan Prasarana dan Sarana
Perguruan Tinggi Agama/IAIN di Jakarta, Direktorat Jendral Pembinaan
Kelembagaan Agama Islam, Departemen Agama RI. Jakarta: 1986.
Suwendi,Sejarah dan Pemikiran Pendidikan Islam. Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2004.
Tahqiq, Nanang, Kajian dan Pustaka Falsafat Islam di Indonesia dalam
Ilmu Ushuluddin, Jurnal Himpunan Peminat Ilmu-ilmu Ushuluddin. Ciputat: HIPIUS,
2013.
[1] Seyyed Hossein
Nasr dan Oliver Leaman (ed.), Ensiklopdi Tematis Filsafat
Islam: Buku Pertama, terj. Tim Penerjemah Mizan (Bandung:Mizan,2003)
hlm, 30
[4]Haidar Putra
Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia(jakarta:
Kencana, 2007) hlm.129
[5] Sejarah Institut Agama Islam tahun 1976 sampai 1980 , Proyek
Pembinaan Prasarana dan Sarana Perguruan Tinggi Agama/IAIN di Jakarta,
Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Departemen Agama RI
(Jakarta: 1986)
[6] Nanang
Tahqiq, Kajian dan Pustaka Falsafat Islam di Indonesia dalam
Ilmu Ushuluddin, Jurnal Himpunan Peminat Ilmu-ilmu Ushuluddin (Ciputat: HIPIUS,
2013), vol. 1, no. 6, hlm. 509
[8] Haidar Putra
Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia(jakarta:
Kencana, 2007) hlm.131-134
[9] Nanang
Tahqiq, Kajian dan Pustaka Falsafat Islam di Indonesia dalam
Ilmu Ushuluddin, Jurnal Himpunan Peminat Ilmu-ilmu Ushuluddin (Ciputat: HIPIUS,
2013), vol. 1, no. 6, hlm. 515-525
[11] Syahrin Harahap
(ed), Perguruan Tinggi Islam di Era Globalisasi (Yogyakarta:
IAIN Sumatera Utara bekerjasama dengan Tiara Wacana Yogya, 1998) hlm.127
[12] Syahrin Harahap
(ed), Perguruan Tinggi Islam di Era Globalisasi (Yogyakarta:
IAIN Sumatera Utara bekerjasama dengan Tiara Wacana Yogya, 1998) hlm. 135-141
0 Response to "Sejarah Filsafat Pendidikan Islam di indonesia"
Post a Comment