Pendekatan Filosofis dalam Pengkajian Islam
Abstrak
Pengkajian Islam sejauh ini yang ada di dunia Islam (Timur
Tengah Khususnya Arab) maupun barat telah banyak melahirkan hasil-hasil yang
signifikan. Beberapa pendekatan digunakan untuk mencoba melihat Islam secara
spesifik. Sedang, dari beberapa pendekatan tersebut, terdapat pengkajian Islam
dengan pendekatan filosofis (philoshopical approach). Penelitian ini
bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana pengkajian Islam menggunakan
pedekatan filosofis tersebut. selain itu, peneliti mencoba menyibak topik ini
dari pendekatan yang lain, dan memfokuskan kajian ini. Peneliti juga mencoba
menguatkan topik ini melalui kajian beberapa filsuf, baik dari intern (muslim)
dan ekstern (non-muslim). Peneliti menggunakan metode library
research. Topik ini selanjutnya disajikan secara deskriptif analitis yang
mana dapat penulis ketahui bahwasannya pendekatan ini digunakan untuk
menguji seluruh aspek argumen yang diajukan orang beriman. Penerapan
menggunakan berfikir dikombinasikan dengan kebutuhan sosial dan spiritual maka
akan menghasilkan nilai kebenaran hakiki dari Islam tersebut. tujuan utamanya
adalah melihat agama secara hakiki dan selanjutnya diterapkan sesuai dengan
tantangan zaman.
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Topik pengkajian Islam dengan pendekatan filosofis
sebenarnya berawal dari kegelisahan peneliti akan kegamangan beragama.
Penelitian bertujuan untuk menggali kembali dasar-dasar dan pokok-pokok ajaran
Islam sebagaimana yang ada dalam sumber dasarnya yang bersifat hakiki,
universal, dan dinamis serta abadi (eternal) untuk dihadapkan atau
dipertemukan dengan budaya dan dunia modern, agar mampu memberi alternatif
pemecahan masalah yang dihadapi oleh umat manusia pada umumnya dan umat Islam
pada khususnya. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam memahami
ajaran Islam adalah pendekatan filosofis. Adapun yang dimaksud dengan
pendekatan ini adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam satu
bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama. Dalam hal ini,
Jalaludin Rahmat mengatakan bahwa agama dapat diteliti dengan menggunakan
berbagai paradigma. Realitas keagamaan yang diungkapkan mempunyai nilai
kebenaran sesuai dengan kerangka paradigmanya.[1]
Oleh sebab itu, tidak ada persoalan apakah penelitian agama itu penelitian
sosial, penelitian legalistik, atau penelitian filosofis.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apa pengertian pendekatan filosofis?
2. Bagaimana cara pendekatan filosofis
dalam kajian Islam?
3. Apa saja karakteristik prinsipil
pendekatan filosofis?
4. Bagaimana aplikasi pendekatan
filosofis dalam memandang Agama?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pendekatan Filosofis
Istilah pendekatan menurut bahasa sering disebut dengan madkhal
(bahasa Arab) atau approach (bahasa Inggris). Pendekatan / approach
adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu.[2]
Selain kedua istilah tersebut, istilah lain yang mempunyai arti hampir sama dan
menunjukkan tujuan yang sama adalah theoretical framework, conceptual
framework, prespektive, point of view, dan paradigm. Ini berarti
bahwa semuanya memiliki makna “cara memandang dan cara menjelaskan
suatu gejala atau peristiwa”. Secara lebih spesifik pendekatan adalah suatu
sikap ilmiah (persepsi) dari seorang untuk menemukan kebenaran ilmiah. Dengan
kata lain pendekatan berarti cara pandang atau paradigma dalam suatu bidang
ilmu, yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama.[3]
Pendekatan biasanya selalu melekat atau terdapat dalam suatu bidang ilmu,
selanjutnya digunakan untuk memahami agama serta seluruh aspek yang berkaitan
dengan agama.[4]
Dengan demikian, secara sederhana pendekatan itu dapat kita maknai sebagai cara
pandang seseorang untuk memahami sesuatu. Jika objeknya adalah agama Islam,
pendekatan yang dimaksud adalah cara pandang seseorang dalam memahami Islam itu
sendiri.[5]
Filosofis
merupakan ilmu pengetahuan yang mempersoalkan hakikat dari segala yang ada.[6]
Kata filosofis atau falsafah secara harfiah, kata filosofis berasal dari
kata “philo” dan “shopia”. Philo berarti cinta kepada kebenaran,
ilmu, dan hikmah. Sedangkan, shopia berarti mencari hakikat sesuatu,
berusaha mentautkan sebab dan akibat serta berusaha menafsirkan
pengalaman-pengalaman manusia. Pengertian filosofis yang umumnya digunakan
adalah pendekatan yang dikemukakan Sidi Gazalba. Menurutnya filosofis adalah
berfikir secara mendalam, sistematik, radikal, dan universal dalam rangka
mencari kebenaran, inti, hikmah atau hakikat mengenai segala sesuatu yang ada.
Dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa filosofis
berupaya menjelaskan inti, hikmah atau hakikat mengenai sesuatu yang berada di
balik objek formalnya. Filosofis mencari sesuatu yang mendasar, asas, dan inti
yang terdapat di balik yang bersifat lahiriah. Kegiatan berfikir untuk
menemukan hakikat itu dilakukan secara mendalam. Louis O. Kattsof mengatakan
bahwa kegiatan kefilosofisan ialah merenung, akan tetapi merenung bukanlah
melamun atau berfikir secara kebetulan, melainkan dilakukan secara mendalam,
radikal, sistematik, dan universal.[7]Rene
Descartes mengatakan filosofis adalah meditasi, yang artinya ada proses
merenung dan berfikir akan suatu hal. Dan ditegaskan pada adagium “cogito
ergo sum”, saya berfikir maka saya ada.[8]Mendalam
artinya dilakukan sedemikian rupa sehingga dicari sampai batas bahwa
akal tidak sanggup lagi. Radikal artinya sampai ke akar-akarnya sehingga tidak
ada lagi yang tersisa, sistematis maksudnya adalah dilakukan secara teratur
dengan menggunakan metode berfikir tertentu, dan universal maksudnya tidak
dibatasi hanya pada suatu kepentingan kelompok tertentu, tetapi untuk
seluruhnya.[9] Pandangan
ini juga tidak luput dari sanggahan filsuf, pemikir konteporer Islam, Arkoun
dia menyatakan metode ini sangat lemah, bahwa sikap filosofis mengunjung diri
dalam batas-batas anggitan dan metodologi yang telah ditetapkan oleh
nalar mandiri secara berdaulat. Selain itu, terkesan metode filosofis ini
melakukan pemaksaan gagasan-gagasan. Gagasan-gagasan yang dipaksakan terlihat
dalam penjelasan para filosof Muslim mengenai kebangkitan manusia di akhirat
kelak. Kemudian, sejumlah besar gagasan asing lainnya telah disampaikan oleh
para filosof ke dalam Alquran ketika membahas tentang kekekalan dunia, doktrin
kenabian, dan Iain-Iain.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat
kita ambil kesimpulan bahwa pendekatan filosofis (dalam arti sempit) dalam
kajian studi Islam merupakan studi proses tentang kependidikan yang didasari
nilai-nilai ajaran Islam menurut konsep cinta terhadap
keberanian, ilmu,
dan hikmah yang
bersumber dari Al-Qur’an
dan Hadist. Sedangkan, pendekatan filosofis (dalam arti praktis) dipahami
sebagai pendekatan yang penilaiannya berdasarkan akal (rasional). Ukuran benar
dan salahnya ditentukan dengan penilaian akal, dapat diterima oleh akal atau
tidaknya.[10]
B.
Filosofis sebagai Pendekatan dalam Kajian Islam
Sebelum lebih jauh menjabarkan pendekatan filosofis, maka
penulis mencoba mengutip kembali beberapa ayat yang menjadi
penegas dan/atau legitimasi umat manusia untuk berfikir, berfilosofis.
فَٱعْتَبِرُوا۟ يَٰٓأُو۟لِى ٱلْأَبْصَٰرِ
Artinya:
“..Maka ambillah untuk menjadi pelajaran, hai
orang-orang
yang mempunyai pandangan” Q.S Al
hasyr (59:2)
أَوَلَمْ
يَنظُرُوا۟ فِى مَلَكُوتِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ ٱللَّهُ مِن
شَىْءٍ..
Artinya: “Dan apakah
mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan
...” Q.S Al A’raf (7:185)
إِنَّ
فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ
وَٱلْفُلْكِ ٱلَّتِى تَجْرِى فِى ٱلْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ وَمَآ أَنزَلَ
ٱللَّهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مِن مَّآءٍ فَأَحْيَا بِهِ ٱلْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا
وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ ٱلرِّيَٰحِ وَٱلسَّحَابِ
ٱلْمُسَخَّرِ بَيْنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan
bumi, silih
bergantinya malam dan siang, bahtera
yang berlayar di
laut membawa apa yang berguna bagi
manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air
itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu
segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara
langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah)
bagi kaum yang memikirkan”. Q.S
Albaqarah (2:164)
Berdasarkan definisi uraian pada bagian sebelumnya,
diperkuat dengan beberapa ayat di atas, pendekatan filosofis dalam studi Islam
dapat diartikan, memandang dan memahami ajaran agama dengan cara memikirkannya
secara mendalam, sistematis, radikal, dan universal dengan maksud agar hikmah,
hakikat atau inti dari ajaran agama dapat dimengerti dan dipahami secara
seksama. Agama yang dapat didekati secara filosofis dapat berupa
ajaran-ajarannya yang terdapat dalam Kitab Suci maupun realitasnya.[11]
Ajaran agama misalnya mengajarkan agar melaksanakan shalat berjama’ah.
Tujuannya antara lain agar seseorang merasakan hikmah hidup secara berdampingan
dengan orang lain, atau dengan mengerjakan puasa misalnya, agar seseorang dapat
merasakan lapar yang selanjutnya menimbulkan rasa iba kepada sesamanya yang
hidup serba kekurangan.
Demikian pula kita telah membaca
sejarah kehidupan para Nabi terdahulu. Maksudnya bukan hanya sekedar tontonan
atau sekedar mengenangnya akan tetapi bersamaan dengan itu diperlukan kemampuan
menangkap makna filosofis yang terkandung di belakang peristiwa tersebut.
Misalnya kisah Nabi Yusuf yang “digoda” seorang wanita bangsawan, secara
lahiriah menggambarkan kisah yang bertema pornografi atau kecabulan. Kesimpulan
demikian itu bisa terjadi manakala seseorang hanya memahami bentuk lahiriah
dari kisah tersebut. Tetapi melalui kisah itu Tuhan ingin mengajarkan kepada
manusia agar memiliki ketampanan lahiriah dan batiniah secara utuh. Nabi Yusuf
telah menunjukkan kesanggupannya mengendalikan farji-nya dari berbuat
maksiat. Sementara dari sisi lahiriahnya ia tampan dan menyenangkan orang yang
melihatnya. Pemaknaan demikian dapat dijumpai melalui pendekatan yang bersifat
filosofis. Dengan menggunakan pendekatan filosofis ini seseorang akan dapat
memberi makna terhadap sesuatu yang dijumpainya; dan dapat pula menangkap
hikmah dan ajaran yang terkandung didalamnya. Dengan cara demikian, ketika
seseorang mengerjakan suatu amal ibadah tidak akan merasa kekeringan spiritual
yang dapat menimbulkan kebosanan. Semakin mampu menggali makna filosofis dari
suatu ajaran agama, maka semakin meningkatkan pula sikap, penghayatan, dan daya
spiritualitas yang dimiliki seseorang. Penggalian makna ini tentunya menjadi
kekhususan bagi manusia, sebagaimana Ibn Khaldun menyatakan[12],
Allah membedakan manusia dengan hewan adalah dengan berfikir, yang menjadi
sumber dari segala kebenaran, kemulaan tertinggi. Al-Maraghi juga
menegaskan bahwasannya Allah memberikan hidayah yang dianugrahkan kepada
manusia dalam lima tingkatan, yang mana hidayah ketiga adalah akal-budi. Akal
budilah yang menjadi pembeda manusia dengan hewan.
Demikian pentingnya pendekatan
filosofis ini, seringkali kita jumpai, filosofis telah digunakan untuk memahami
berbagai bidang lainnya selain agama. Kita misalnya membaca filosofis hukum
Islam, filosofis sejarah, filosofis kebudayaan, filosofis ekonomi, dan lain
sebagainya. Melalui pendekatan filosofis ini, seseorang tidak akan terjebak
pada pengamalan agama yang bersifat formalistic, yakni mengamalkan agama dengan
susah payah tetapi tidak memiliki makna apa-apa, kosong tanpa arti. Yang mereka
dapatkan dari pengalaman agama tersebut hanyalah pengakuan formalistic,
misalnya sudah haji, sudah menunaikan rukun Islam yang kelima, dan berhenti
sampai disitu. Mereka tidak merasakan nilai-nilai spiritual yang terkandung di
dalamnya.[13]
C.
Karakteristik Prinsipil Pendekatan filosofis
John Hick menyatakan bahwa pemikiran filosofis mengenai
agama bukan merupakan cabang teologi atau studi-studi keagamaan, melainkan
sebagai cabang filosofis. Dengan demikian, filosofis merupakan suatu “aktivitas
keteraturan kedua” (second order activity) yang menggunakan
perangkat-perangkat filosofis bagi agama dan pemikiran keagamaan. Pernyataan
Hick memberikan suatu cara menarik kepada kita dalam membahas, “Apa gambaran
karakteristik pendekatan filosofis” Pada umumnya kita dapat menyatakan
pendekatan filosofis memiliki empat cabang.
1.
Logika
Berasal dari bahasa yunani logos, secara literal
logika berarti “pemikiran” atau “akal”, logika adalah seni argument rasional
dan koheren. Seperti telah kita lihat, kita semua memiliki
argument-argumen, kita semua marah ketika seseorang menentang suatu yang kita
yakini atau kita kemukakan secara bentuk alasan untuk membenarkan posisi kita.
Logika merasuk ke seluruh proses berargumentasi dengan seseorang menjadikannya
lebih cermat dan meningkatkan proses tersebut.
Semua argumen mempunyai titik pangkal, argumen-argumen ini
memerlukan pernyataan pembuka untuk memulai. Dalam logika pernyataan pembuka
ini disebut premis. Premis adalah apa yang mengawali argument\. Salah satu
premis yang paling terkenal dalam filosofis agama adalah apa yang dikemukakan
oleh Anselm “Tuhan adalah sesuatu yang tidak ada hal lebih besar yang dapat
dipikirkan selain Dia”. Ketika berkaitan dengan argumen itu benar atau salah,
dan apakah ia koheren (berhubungan), karena jika premisnya keliru, tidak
ada argumen yang dapat dibangun darinya.[14]
Tidak ada keraguan bahwa sesuatu yang lebih kecil daripada sesuatu yang lebih
besar yang tidak dapat dipikirkan, ada dalam pemahaman dan realitas.
Maka seorang logikawan, ketika
berargumentasi dengan seseorang, mencoba menententukan premis apa yang
dijadikan titik pijak, bagaimana mereka membangun argumennya dan bagaimana
mereka sampai pada kesimpulan. Ini diterapkan dalam banyak argumen, dan dalam
kaitan dengan agama, suatu pendekatan filosofis, secara teliti menguji seluruh
aspek argumen yang diajukan orang beriman. Proses ini memiliki dua keuntungan
di satu sisi, poses ini dapat memperlebar friksi yang mungkin terjadi antara
orang-orang yang terlibat dalam satu argument, juga memperlihatkan bahwa anda
tidak tertarik membuat komentar personal tetapi hanya concern dengan
kekuatan apa yang telah dikatakan. Di sisi lain, semua argumen harus bertahan
atau jatuh karena di belakangnya memiliki penalaran yang baik. Proses ini
memungkinkan kita melihat secara pasti bentuk panalaran apa yang digunakan
dalam argument tertentu. Kemampuan berargumen dengan cara begini merupakan
keahlian yang dicapai secara berangsur-angsur melalui praktik, dan merupakan
perbutan yang bermanfaat mempersingkat apa yang dikatakan seseorang ke dalam
bagian-bagian rinci.[15]
2.
Metafisika
Istilah ini digunakan pertama kali pada tahun 60 SM oleh
filsuf Yunani Andronicus. Metafisika terkait dengan hal yang paling dasar,
pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang kehidupan, eksistensi, dan watak ada
(being) itu sendiri, secara literal metafisika berarti kehidupan, alam,
dan segala hal. Metafisika mengemukakan pertanyaan tentang apakah sesungguhnya
aku (what I am), sebagai seorang pribadi, apakah aku tubuh
materiil, otak yang akan berhenti dari keberadaanya ketika mati? Atau
apakah benar terletak antara keduanya? Metafisika mengemukakan
pertanyaan-pertanyaan tentan “siapakah” aku sebagai seorang pribadi: apakah
yang menjadikan aku sebagai aku? Apakah aku pribadi yang sama 5,10, dan 15
tahun yang lalu? Apakah aku akan menjadi pribadi yang berbeda ketika aku berusia
40, 50, dan 60 tahun? Apa yang menjadikan sebagai pribadi yang sama? Apakah ini
persoalan memori? Atau apakah ini persoalan hiasan fisik? Metafisika
mempertanyakan eksistensi; apakah yang dimaksud dengan ada? Apakah Daffy Duck
ada dalam pengertian yang sama dengan keberadaanku? Apakah Tuhan ada? Dalam
pengertian bagaimana Tuhan ada?
Aspek aktivitas filosofis ini
menunjukkan concern pada komprehensifitas. Tidak ada sesuatu pun yang
berada di luar wilayah perhatian filosofis, bagi filsuf segala sesuatu adalah
penting. Ini melindungi dari digunakannya pandangan “menutup mata” atau berat
sebelah (bias) dalam hal-hal tertentu, filsuf harus menyadari segala sesuatu
yang memang atau mungkin penting bagi persoalan yang sedang dihadapi.[16]
Dan hal ini diterapkan dalam pendekatan filosofis terhadap agama, yang dengan
sendirinys berkaitan misalnya dengan pertanyaan-pertanyaan ontologism
(studi tentang ada atau eksistensi, termasuk eksistensi Tuhan),
pertanyaan-pertanyaan kosmologis (argument-argumen yang terkait asal-usul
dan tujuan dunia, termasuk pengaruh yang ditimbulkan oleh ilmu) dan
pertanyaan-pertanyaan tentang humanitas (watak dan status manusia dan
komunitas manusia termasuk watak subjektivitas.
3.
Epistemologi
Epistemologi menitikberatkan pada apa yang dapat kita
ketahui, dan bagaimana kita mengetahui. Epistemology memberi perhatian pada
pengetahuan dan bagaimana kita memperolehnya. Plato misalnya, berpendapat tidak
mungkin memperoleh pengetahuan, dan dia menggunakan apa yang disebut dengan
“Paradok Meno” guna menunjukkan mengapa “seseorang tidak dapat menyelidiki apa
yang dia tahu karena dengan mengasumsikan bahwa ia tahu berarti ia tidak perlu
menyelidiki, demikian juga ia tidak dapat menyelidiki apa yang tidak dia
ketahui karena dia tidak tahu apa yang harus diselidiki”.
Inti dari pertanyaan Plato adalah bahwa ketika kita sampai
pada pengetahuan, kita tidak pernah memulainya dari permulaan. Seluruh
pertanyaan yang kita ajukan , segala sesuatu yang kita ketahui terletakdalam
suatu konteks peranggapan dan keyakinan yang luas dan sering tidak
dipertanyakan.tidak suatupun dimulai dari daftar yang bersih. Segala sesuatu
dibangun berdasar sesuatu lainnya. Plato juga menunjukkan bahwa penelitian dan
pencarian pengetahuan tidak pernah berhenti, jawaban terhadap pertanyaan kita
menjadi dasar bagi seluruh pertanyaan selanjutnya dan begitu seterusnya.[17]
Bagi Plato, pengetahuan adalah persoalan mengumpulkan kembali atau mengingat
segala sesuatu yang telah dipelajari dalam kehidupan sebelumnya, bagi kita
sekarang pengetahuan adalah persoalan proses penelitian dan penemuan. Proses
ini hanya akan berhenti jika kita secara sewenang-wenang dan artificial
menjadikannya berhenti. Itulah mengapa kesimpulan yang kita capai hanya dapat
bersifat tentative dan sementara.
Bicara soal Plato maka penulis tertarik melihat kembali pada
Filosofis Islam tentunya terdapat Ibn ‘Arabi. James Morris seorang yang
mendalami karya Ibn ‘Arabi menyatakan bahwasannya, paraphrasing whitehead’s
famous remark about plato-one could say taht the history of Islamic
tought subsequent to Ibn ‘Arabi might largely be construed as a series of
footnotes to his work.[18] James
Morris cenderung terlihat berlebihan dalam menggambarkan Ibn ‘Arabi
terlepas dari karyanya yang mencapai 700 judul berdasar dari pengalaman kasyf,
dan ketersingkapan tabir rohani terhadap fenomena gaib.[19]
Tugas epistemologi adalah menemukan bagaimana pengetahuan
berbeda dari keyakinan dan pendapat, apakah pengetahuan dan keyakinan berbeda
secara esensial? Jika saya berkata “saya meyakini” dia berbohong kepadaku, itu
pertanyaan yang lebih lemah disbandingkan jika saya mengatakan “saya tahu” dia
berbohong kepadaku. Sekarang lihatlah pernyataan ini dalam konteks berbeda.
Orang beriman berkata “saya meyakini Tuhan itu ada”, apakah ini sama dengan
pernyataan “saya tahu Tuhan ada”. Menyatakan “saya meyakini Tuhan ada” dan
“saya tahu Tuhan ada” tampak merupakan dua pernyataan yang berbeda dari apa
yang menjadikan sesuatu sebagai sebuah pengetahuan. Beberapa umat beragama
menyatakan “mengetahui” bahwa Tuhan ada, namun apa yang mereka ketahui? Dengan
kata lain, kapan kita dapat menyatakan kita mengetahui sesuatu? Dan dimana
persoalan kebenaran mengenai apa yang kita ketahui muncul? Apakah
keyakinan-keyakinan yang kita pegang dapat menjadi benar atau salah? Atau
apakah ini secara tepat yang menjadikannya keyakinan, yakni bahwa kita tidak
dapat menunjukkannya benar atau salah, hanya mungkin dan tidak mungkin, lebih
berpeluang atau kurang berpeluang.
Berkenaan dengan benar salah tentunya ini mempunyai relasi
dengan Tuhan, suatu dzat gaib yang kita percaya mempunyai kekuatan
terkuat. Kita akan susah menghubungkan epistemologi untuk menggali hakekat
Tuhan. Pada bagian sebelumnya telah dijabarkan bagaimana Ibn ‘Arabi mempunyai
pengalaman luar biasa dengan hal gaib. Sehingga Ibn ‘Arabi bisa
mengilustrasikan bagaimana Tuhan itu dengan sisi imajinasi yang kental yang
keluar dari jalur utama. Kita meyakini bahwasannya Tuhan mengetahui segalanya,
baik yang nampak dan tidak/ rahasia. Pada sisi ini ada kecocokan aantara Ibn
‘Arabi dan Ibn Sina berkaitan keilmuan tuhan yang umum, bukan keilmuan yang
khusus/ tertentu. Ibn Sina memberikan contoh yaitu gerhana. Bagaimana gerhana
bisa terjadi pada waktu dan tempat tertentu berlandaskan hukum tatasurya, dan
sejak Tuhan mengetahui hukum-hukum tersebut, dan Tuhan membuatnya dengan
dirinya sendiri, tetapi tidak mengidahkan bagaimana itu terjadi. Berbeda halnya
dengan Al-Ghazali yang mana mengungkapkan ketidak tahuan tentang apa yang
terjadi setelah kematian. Disini mengisyaratkan bahwasannya Allah yang tahu,
dan mengingatkan kita untuk selalu waspada apa yang kita lakukan dimanapun dan
kapanpun. Pada bagian akhir dengan bukunya Tahafut at-Tahafut Ibn Rusyd
menyarankan, kita bisa memecahkan masalah tentang pengetahuan Tuhan /
penggalian tentang Tuhan, jika kita bisa mempelajari ilmu Tuhan dengan sudut
pandang ilmu yang sempurna, dan perlu diketahui bahwasannya ilmu kita adalah
kurang mencerminkan suatu kesempurnaan.
4.
Etika
Secara harfiah etika berarti studi tentang “perilaku” atau
studi dan penyelidikan tentang nilai-nilai yang dengannya kita hidup, yang
mengatur cara kita hidup dengan lainnya, dalam satu komunitas local,nasional,
maupun internasional. Etika menitikberatkan perhatian pada
pertanyaan-pertanyaan tentang kewajiban, keadilan, cinta, dan kebaikan.[20].
Etika sebagai concern general, muncul perhatian pada praktik-praktik
particular dalam masyarakat, maka kita memiliki perhatian khusus pada
etika bisnis, etika medis, etika kerja, dan etika politik. Semua itu kadang
disebut sebagai persoalan yang termasuk dalam etika penerapan dengan kata lain
ia menerapkan ide-ide, teori-teori, dan prinsip-prinsip etika general pada
wilayahwilayah particular, dan spesifik dalam kehidupan dan kerja manusia.
Dalam kaitannya dengan studi agama, etika terlihat jelas
dalam “kehidupan keagamaan” aturan-aturan dan prinsip-prinsip yang menerangkan
tentang cara kehidupan religious. Apa yang menjadi sumber dan darimana
asal-usul aturan itu? Apa sumber dan asal-usul moralitas? Beberapa orang
beriman mengatakan bahwa Tuhan adalah sumber moralitas, dan prinsip-prinsip
yang mereka ikuti dalam kehidupan mereka adalah baik karena Tuhan menyatakannya
sebagai baik. Akan tetapi apakah yang seandainya terjadi jika Tuhan menyatakan
bahwa pembunuh itu baik? Apa yang terjadi jika Tuhan memerintahkan orang untuk
membunuh orang lain? Haruskah itu disebut baik? Dalam menanggapi hal ini, umat
beragama sering mengatakan bahwa Tuhan tidak akan memerintahkan membunuh orang
lain, tetapi dalam pernyataan ini, mereka menunjukkan bahwa Tuhan juga tunduk
pada satu kode moral dan karenanya Tuhan bukan sumber moralitas. Akan tetapi
jika Tuhan bukan sumber moralitas, lalu siapa? Apakah anda menjadi agamis jika
anda hidup dalam kehidupan moral? Apakah ateis itu moral? Apa kaitan antara
moralitas dan agama?
Pada umumnya, di sini terdapat empat wilayah yang menghiasi
aktivitas filosofis sebagai suatu disiplin akademik, dan bagaimana aktivitas
filosofis mendekati studi agama. Ini adalah bentuk aktivitas filosofis yang
paling banyak dilakukan oleh orang di Barat.[21]
D.
Aplikasi Pendekatan Filosofis dalam Kajian Islam
Untuk membawa pendekatan filosofis dalam tataran aplikasi
seseorang tidak bisa lepas dari pengertian pendekatan filosofis yang bersifat
mendalam, radikal, sistematik dan universal. Karena sumber pengetahuan
pendekatan filosofis adalah rasio, maka untuk melakukan kajian dengan
pendekatan ini akal mempunyai peranan yang sangat signifikan.
Filosofis mencari sesuatu yang mendasar, asas dan inti yang
terdapat dibalik yang bersifat lahiriah, sebagai contoh “kita jumpai berbagai
bentuk rumah dengan kualitas yang berbeda, tetapi semua rumah intinya adalah
sebagai tempat tinggal”. Kegiatan berpikir untuk menemukan hakikat itu
dilakukan secara mendalam, berfikir secara filosofis tersebut selanjutnya dapat
digunakan dalam memahami ajaran agama, dengan maksud agar hikmah, hakikat atau
inti dari ajaran agama dapat dimengerti dan dipahami secara seksama.
Menurut Musa Asy’ari, filosofis Islam dapat diartikan
sebagai kegiatan pemikiran yang bercorak Islami, Islam di sini menjadi jiwa
yang mewarnai suatu pemikiran, filosofis disebut Islam bukan karena yang
melakukan aktivitas kefilosofisan itu orang beragama Islam, atau orang yang
berkebangsaan Arab atau dari segi objeknya yang membahas mengenai pokok-pokok
keIslaman.[22]
Menurut Muhamad Al-Jurjawi, pendekatan filosofis dalam kajian Islam berusaha
mengungkapkan hikmah yang terdapat dibalik ajaran-ajaran agama Islam. Agama
misalnya mengajarkan agar melaksanakan shalat berjama’ah. Tujuannya antara lain
agar seseorang merasakan hikmahnya hidup secara berdampingan dengan yang lain.
Melalui pendekatan filosofis ini, seseorang tidak akan terjebak pada pengalaman
agama yang bersifat formalistik, yakni mengamalkan agama dengan susah payah
tapi tidak memiliki makna apa-apa, kosong tanpa arti. Yang mereka dapatkan dari
pengalaman agama tersebut hanyalah pengakuan formalistik, misalnya sudah haji,
sudah menunaikan rukun Islam kelima, dan berhenti pada disitu. Mereka tidak
merasakan nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya. Namun demikian,
pendekatan filosofis ini tidak berarti menafikan atau menyepelekan bentuk
pengalaman agama secara formal. Filosofis mempelajari segi batin yang bersifat
esoterik. Sedangkan bentuk (formal) memfokuskan segi lahiriah yang bersifat
eksoterik.
Beberapa hasil dari beberapa aktifitas berfikir dalam
pengkajian Islam menghasilkan segmentasi sekaligus polarisasi dalam aktifitas
pengkajiannya yang selanjutnya membawa dampak yang bebeda-beda. Penulis merujuk
pada pandangan Harjoni dalam klasifikasi ini[23],
berikut adalah pandangannya,
Kebutuhan biologis + kebutuhuan egoistik = perilaku binatang
Kebutuhan biologis + kebutuhan sosial = pahlawan
Kebutuhan biologis + berfikir = rasional ekonomis
Kebutuhan biologis/ sosiologis + spiritual = halal haram
Berfikir + spiritual = tawakal
Berfikir + kebutuhan sosial + spiritual = nilai kebenaran
hakiki Berfikir + kebutuhan sosial + kebutuhan egoistik = penghianat.
Uraian yang disampaikan Harjoni sudah ideal, akan tetapi
penulis mengkritik pada bagian berfikir. Karena berfikir tentunya masih ada
beberapa alirannya/ manhaj. Penulis merujuk pada alternatif pandangan M.
Amin Abdullah[24]
yaitu bayani, irfani dan burhani. Beberapa aliran tersebut
juga memberikan dampak dari produk berfikirnya. Sebagaimana diungkapkan oleh
Zuhri[25],
pola nalar yang dibangun saat ini melulu pada pola burhani. Penulis
menekankan harus adanya keserasian, integrasi, dan sesuai dengan struktur dan
fungsinya. Sehingga produk yang dihasilkan bisa seimbang dan komprehensif serta
tidak mengesampingkan ketiga pola nalar.
Perkembangan pengkajian Islam ini menjadi bekal bagi pemikir
Islam untuk mengembangkan ilmu. Tidak hanya itu, pengkajian ini juga akan
mempengaruhi pada bidang-bidang studi lain yang masih mengakar pada isu Agama.
Dampak secara lebih lanjutnya adalah perkembangan zaman juga terpengaruh pada
berfikir filosofis ini. Pemikir akan bisa cenderung berfikir progresif. Ini
diibaratkan menjadi dua mata pisau. Pada satu sisi Islam akan bisa berkembang
secara signifikan. Namun pada lain sisi, juga akan bisa menjadi peruntuh ajaran
Islam sendiri. Karena pola pikir yang menekankan pada pikiran akan ada
kecenderungan produk yang dihasilkan bisa saja kontras dengan makna tekstual,
sebagaimana selama ini menjadi sumber primordial umat secara umum. Sehingga
keseimbangan pola berfikir dalam mengkaji Islam menjadi keharusan. Sehingga
Islam yang dipersepsikan bisa lebih rahmatan lil ‘alamin.
BAB III
KESIMPULAN
Dalam memahami dan mengungkap kebenaran dari suatu realitas
agama, diperlukan suatu cara pandang atau paradigm untuk menggali dasar-dasar
serta pokok-pokok ajaran agamanya, termasuk Islam sendiri sebagai suatu objek
kajian studi. Pendekatan biasanya selalu melekat atau terdapat dalam suatu
bidang ilmu, dalam pendekatan filosofis, berarti dibutuhkan suatu cara pandang
tertentu dengan cara memikirkannya secara mendalam, sistematis, radikal, dan
universal dalam memahami suatu kebenaran dari inti, hakikat, atau hikmah
mengenal sesuatu yang berada di balik objek formalnya, yakni agama Islam itu
sendiri.
Melalui pendekatan filosofis ini, seseorang tidak akan
terjebak pada pengamalan agama yang bersifat formalistik yakni mengamalkan
agama dengan susah payah tapi tidak memiliki makna apa-apa, kosong tanpa arti.
Yang mereka dapatkan dari pengalaman agama tersebut hanyalah pengakuan
formalistic, mereka tidak bisa merasakan nilai-nilai spiritual yang terkandung
di dalamnya. Namun demikian, pendekatan filosofis ini tidak berarti menafikan
atau menyepelekan bentuk pengalaman agama secara formal. Filosofis mempelajari
segi batin yang bersifat esoterik. Sedangkan bentuk (formal) memfokuskan segi
lahiriah yang bersifat eksoterik.
DAFTAR
PUSTAKA
Abdullah, M Amin. Islamic Studies di
Perguruan Tinggi: Pendekatan Integratif-interkonektif. Yogyakarta: Pustaka
Belajar, 2012.
Anshari, Endang
Saifudin. Ilmu, Filosofis dan Agama. Surabaya: Bina Ilmu, 1974.
Anwar, Rosihon,
dan dkk. Pengantar Studi Islam: Disusun Berdasarkan Kurikulum Terbaru
Perguruan Tinggi Islam. Bandung: CV Pustaka Setia, 2009.
Asy’ari, Musa,
dan dkk. Filosofis Islam: Kajian Ontologis, Epistemologis, Aksiologis,
Historis, Prospektif. Yogyakarta: Lembaga Studi Filosofis Islam, 1992.
Connolly, Peter.
Aneka Pendekatan Studi Agama. Yogyakarta: LkiS Group, 2012.
Ghazali, Dede
Ahmad, dan dkk. Studi Islam: Suatu Pengantar dengan Pendekatan
Interdisipliner. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2015.
Harjoni. Agama
Islam dalam Pandangan Filosofis. Bandung: Alfabeta, 2012.
Hasanah, Hasyim.
Pengantar Studi Islam. Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2013.
Kodir, Koko
Abdul. Metodologi Studi Islam. Bandung: Pustaka Setia, 2014.
M Nurhakim. Metodologi
Studi Islam. Malang: UMM Press, 2004.
Muhaimin, dan
dkk. Studi Islam: Dalam Ragam Dimensi dan Pendekatan. Jakarta: Kencana,
2012.
Nasr, Seyyed
Hossein, dan Oliver Leaman. History of Islamic Philosophy Part I.
London: Routledge, 1996.
Nata, Abuddin. Metodologi
Studi Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004.
———. Metodologi
Studi Islam. Jakarta: Rajawali Pers, 2010.
Rosen, Stanley. The
Philosopher’s Handbook: Essential Readings from Plato to Kant, dalam Rene
Descartes, Meditation. New York: Random House Reference, 2003.
Zaprulkhan. Ilmu
Tasawuf: Sebuah Kajian Tematik. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2016.
Zuhri. Islam
dan Pluralisme, dalam Antologi Isu-Isu Global dalam Kajian Agama dan Filosofis.
Yogyakarta: PPs UIN Sunan Kalijaga, 2010.
[1] Muhaimin
dan dkk, Studi Islam: Dalam Ragam Dimensi dan Pendekatan (Jakarta:
Kencana, 2012), hlm. 12.
[3] Dede
Ahmad Ghazali dan dkk, Studi Islam: Suatu Pengantar dengan Pendekatan
Interdisipliner (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2015), hlm. 64.
[6] Rosihon
Anwar dan dkk, Pengantar Studi Islam: Disusun Berdasarkan Kurikulum Terbaru
Perguruan Tinggi Islam (Bandung: CV Pustaka Setia, 2009), hlm. 86.
[8] Stanley
Rosen, The Philosopher’s Handbook: Essential Readings from Plato to Kant,
dalam Rene Descartes, Meditation (New York: Random House Reference, 2003),
hlm. 428-434.
[17] Ibid, hlm. 174
[18] Seyyed
Hossein Nasr dan Oliver Leaman, History of Islamic Philosophy Part I
(London: Routledge, 1996), hlm. 497.
[19] Zaprulkhan,
Ilmu Tasawuf: Sebuah Kajian Tematik (Jakarta: Raja Grafindo Persada,
2016), hlm. 157.
[22] Musa
Asy’ari dan dkk, Filsafat Islam: Kajian Ontologis, Epistemologis,
Aksiologis, Historis, Prospektif (Yogyakarta: Lembaga Studi Filsafat Islam,
1992), hlm. 13.
[24] M
Amin Abdullah, Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Pendekatan
Integratif-interkonektif (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2012), hlm.
200-2018.
[25] Zuhri,
Islam dan Pluralisme, dalam Antologi Isu-Isu Global dalam Kajian Agama dan
Filsafat (Yogyakarta: PPs UIN Sunan Kalijaga, 2010), hlm. 17.
0 Response to "Pendekatan Filosofis dalam Pengkajian Islam"
Post a Comment