Peran Negara Singapura dan Malaysia dalam Pendidikan Islam
BAB
I
PENDAHULUAN
Pendidikan
menjadi sesuatu yang penting dalam kehidupan setiap individu. Pendidikan lebih
dari sekedar membaca, menulis, dan berhitung. Setiap manusia membutuhkan
pendidikan, sampai kapan dan di manapun ia berada. Pendidikan sangat penting
artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan
terbelakang. Saat ini, pendidikan merupakan salah satu investasi yang paling
penting bagi masa depan masyarakat suatu negara dan sangat penting untuk
mengurangi tingkat kemiskinan dan ketidaksetaraan atau ketidakadilan.
Pendidikan
merupakan ivestasi jangka panjang bagi kemajuan suatu negara yaitu sebagai
instrumen bagi perkembangan ekonomi dan bukan sekedar pertumbuhan ekonomi.
Dalam manajemen pendidikan modern, salah satu fungsi pendidikan adalah fungsi
teknis-ekonomis. Fungsi teknis-ekonomis merujuk pada kontribusi pendidikan
untuk perkembangan ekonomi, misalnya pendidikan dapat membimbing peserta didik
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta sikap dan perilaku yang
diperlukan untuk hidup dan berkompetisi dalam ekonomi yang berdaya saing.
Secara umum terbukti bahwa semakin berpendidikan seseorang, maka tingkat
pendapatannya semakin baik. Hal ini dimungkinkan karena orang yang berpendidikan
lebih produktif bila dibandingkan dengan yang tidak berpendidikan.
Produktivitas seseorang tersebut dikarenakan dimilikinya pengetahuan,
keterampilan, sikap hidup yang diperoleh melalui pendidikan.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Sejarah
Pendidikan
1. Singapura
Sir
Thomas Stamford Raffles mendirikan Institut Singapura (sekarang dikenal sebagai
Institut Raffles) pada tahun 1823, yang memulai pendidikan di Singapura yang
berada dibawah kekuasaan Inggris. Kemudian, terdapat tiga jenis sekolah muncul
di Singapura yaitu sekolah Melayu, sekolah Tionghoa dan Tamil, dan sekolah
Bahasa Inggris. Sekolah Melayu digratiskan untuk semua siswa oleh Inggris,
dimana bahasa Inggris dijadikan bahasa utama dalam proses belajar mengajar.
Sebagian besar sekolah Tionghoa dan Tamil mengajarkan dengan bahasa ibu
masing-masing. Siswa dari sekolah Tionghoa sangat serius mengikuti perkembangan
di Tiongkok, terutama saat kebangkitan nasionalisme Tiongkok.
Selama
Perang Dunia II, banyak siswa di Singapura yang putus sekolah. Hal tersebut
menyebabkan terjadinya backlog siswa setelah perang. Pada
tahun 1947, program pendidikan sepuluh tahun dirumuskan. Antara tahun 1950 dan
1960-an, ketika ekonomi di
Singapura mulai berkembang, Singapura mengadopsi sistem
pendidikan yang menyediakan tenaga kerja terampil untuk program industrialisasi
serta untuk menurunkan angka pengangguran. Kebijakan bilingualisme di sekolah
secara resmi diperkenalkan pada tahun 1960, dimulai dengan menetapkan bahasa
Inggris sebagai bahasa resmi negara. Pendidikan untuk anak-anak dari semua ras
dan latar belakang mulai terbentuk.
Pada
tahun 1980-an, perekonomian Singapura mulai makmur, membuat fokus sistem
pendidikan Singapura bergeser dari kuantitas menjadi kualitas. Diferensiasi
bagi siswa dengan kemampuan akademik yang berbeda mulai dilaksanaan, seperti
pembenahan pendidikan kejuruan dan pembentukan Institut Teknologi baru.
Pada
tahun 1997, sistem pendidikan di Singapura mulai berubah menjadi “kemampuan
yang digerakkan” setelah Perdana Menteri Goh Chok Tong merumuskan visi
pendidikan sebagai tempat untuk mempelajari bangsa. Kebijakan ini lebih
menekankan kepada pendidikan nasional, berpikir kreatif, pembelajaran
kolaboratif, dan pembelajaran TIK. Sekolah menjadi lebih beragam dan diberi
otonomi yang lebih bebas dalam menentukan kurikulum sendiri dan potensi
akademik di daerahnya. Perbedaan antara berbagai aliran akademis mulai hilang.
Kementerian Pendidikan secara resmi menyatakan bahwa “kesempurnaan” tidak hanya
diukur dari segi akademik, sama seperti pegunungan “kesempurnaan” yang memiliki
banyak puncak.[1]
2. Malaysia
Di
Malaysia, pendidikan telah mengalami evolusi yang sejalan dengan pembangunan
dan kemajuan negara ini. Evolusi pendidikan ini yakni zaman pramerdeka (sebelum
1957), zaman pasca merdeka (1957 – 1970), zaman dasar ekonomi baru (1971
-1990), zaman dasar pembangunan negara (1991 – 2000), dan zaman dasar wawasan
negara yang berlangsung hingga saat ini.
Pada
mulanya, pendidikan di Malaysia menggunakan sistem pondok yang dijalankan di
madrasah dan sekolah-sekolah agama. Sekolah ini memiliki kurikulum yang lebih
terstruktur, waktu berlajar yang terjadwal, sarana dan prasana yang memadai.
Tujuan sekolah tersebut ialah untuk melahirkan sumber daya yang bermoral
tinggi.
Selain
sekolah pondok tersebut, adapula sekolah vernakular yang menggunakan bahasa ibu
dalam sistem pengajarannya. Bahasa yang digunakan di antaranya yaitu Melayu,
Cina, dan Tamil. Mata pelajaran yang biasa diaplikasikan di sekolah-sekolah
Vernakular ialah Bacaan, Mengarang, Ejaan, Menulis, Ilmu Hisab, Latihan Jasmani
dan Ilmu Alam. Kegiatan pembelajaran juga mulai dikembangkan di Tanah Melayu
pada saat ini.
Pada
zaman penjajahan Inggris, pendidikan di Malaysia memiliki ciri-ciri yakni
kurikulum yang diterapkan sekolah satu dengan lainnya berbeda, lokasi sekolah
bagi setiap kaum terpisah, setiap jenis sekolah khusus mengikuti kaum, bahasa
pengantar berbeda-beda seperti Sekolah Cina berbahasa pengantar bahasa
Mandarin, dan Sekolah Tamil berbahasa pengantar bahasa Tamil.[2]
B. Kebijakan
dan Politik Pendidikan
1. Singapura
Pendidikan di Singapura dikelola oleh Kementerian Pendidikan
Singapura, yang mengontrol perkembangan dan administrasi sekolah negeri yang menerima dana dari pemerintah, tetapi juga memiliki peran penasehat dan pengawas dalam
hal sekolah swasta. Baik sekolah swasta maupun negeri, ada variasi dalam
tingkat otonomi dalam kurikulum mereka, ruang lingkup bantuan pemerintah dan
pendanaan, beban tuisi siswa, dan kebijakan masuk.
Pendidikan dianggarkan sekitar 20 persen dari anggaran
tahunan nasional, yang mensubsidi pendidikan negara dan pendidikan swasta yang
dibantu pemerintah bagi warga Singapura dan mendanai program Edusave, biaya
yang secara signifikan lebih tinggi untuk non-warga negara. Pada tahun 2000
Undang-Undang Wajib Belajar mengkodifikasikan wajib belajar bagi anak-anak usia
sekolah dasar (kecuali bagi mereka yang berkebutuhan khusus), dan
menjadikan tindak pidana bagi orang tua yang gagal mendaftarkan anak-anak
mereka di sekolah dan memastikan kehadiran mereka. Pengecualian dierikan
untuk sekolah
rumah atau lembaga keagamaan penuh-waktu,
tetapi orangtua harus mengajukan permohonan pengecualian dari Kementerian
Pendidikan dan memenuhi patokan minimum.
Bahasa utama pengajaran di Singapura
adalah bahasa Inggris, yang secara resmi ditetapkan sebagai bahasa pertama
dalam sistem pendidikan setempat pada tahun 1987. Bahasa Inggris adalah
bahasa pertama yang dipelajari oleh separuh anak-anak pada saat mereka mencapai
usia prasekolah dan menjadi media utama pengajaran pada saat mereka mencapai
sekolah dasar. Meskipun bahasa Melayu, Mandarin dan Tamil juga termasuk bahasa resmi,
bahasa Inggris adalah bahasa pengantar untuk hampir semua mata pelajaran
kecuali bahasa ibu resmi dan sastra dari bahasa-bahasa tersebut; ini umumnya
tidak diajarkan dalam bahasa Inggris, meskipun ada ketentuan untuk penggunaan
bahasa Inggris pada tahap awal. Sekolah-sekolah tertentu, seperti sekolah
menengah di bawah Special Assistance Plan (SAP), mendorong penggunaan lebih
kaya dari bahasa ibu dan kadang-kadang dapat mengajar mata pelajaran dalam
bahasa Mandarin. Beberapa sekolah telah bereksperimen dengan kurikulum yang
mengintegrasikan mata pelajaran bahasa dengan matematika dan sains, menggunakan
kedua bahasa Inggris dan bahasa kedua.
Sistem pendidikan Singapura telah
digambarkan sebagai "terkemuka di dunia" dan pada tahun 2010 termasuk
di antara yang terpilih untuk pujian oleh mantan Sekretasis Pendidikan Britania
Raya dari Partai Konservatif Michael Gove. [3]
2.
Malaysia
Pada
tahun 1957, Malaysia mewarisi sistem pendidikan yang terfragmentasi. Beberapa
golongan dipilih untuk dididik di lembaga elit, sedangkan lebih dari setengah dari populasi tidak pernah
menerima pendidikan formal. Tidak mengherankan, melek huruf pada usia dewasa
termasuk rendah sebesar 52%. Hal tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah
dalam menjamin akses terhadap pendidikan untuk semua anak tanpa terkecuali.
Selama periode 1956-1960, pendidikan dikembangkan dengan cepat. Hal tersebut
sebagai wujud dari sebuah visi ambisi mengenai bagaimana nantinya dan akan
seperti apa sistem pendidikan nasional yang baru. Prinsip-prinsip tersebut
diatur sebagai dasar bagi Malaysia’s
first Education Act di tahun 1961. Maka, berkembanglah pandangan mengenai
pendidikan yang bersifat holistik di mana bertujuan untuk mengembangkan
kemampuan intelektual para siswa, kemampuan spiritual, emosional, dan kemampuan
secara fisik .
Lebih
dari lima dekade sejak kemerdekaan, sistem pendidikan telah melewati beberapa
tonggak penting, dimulai dari pengenalan kurikulum baru seperti Sekolah Dasar
Terpadu, Kurikulum Bersepadu Sekolah atau Rendah (KBSR) dan Kurikulum
Sekunder Sekolah Terpadu atau Kurikulum
Bersepadu Sekolah Menengah (KBSM) yang dikembangkan setelah Laporan Kabinet
(1979), melalui pengembangan Pendidikan Filsafat Nasional (1988) dan Amandemen
Undang-Undang Pendidikan (1996). Dengan
beberapa langkah, Malaysia jelas telah berhasil selama masa 50 tahun terakhir.
Tingkat melek huruf pada tahun 2010 untuk penduduk usia 15 tahun ke atas
sebesar 92%. Sekitar dua pertiga siswa melanjutkan pendidikan pasca sekolah
menengah atau pelatihan, dari yayasan pra-universitas atau program matrikulasi
pada lembaga-lembaga kejuruan. Sistem pendidikan juga secara konsisten
menghasilkan siswa dan sekolah yang sebanding dengan skala internasional.
Sistem yang terfragmentasi berusaha diperbaiki oleh
pemerintah yaitu dengan membuat blueprint kebijakan pendidikan di Malaysia. Berikut merupakan sejumlah agenda dalam
roadmap kebijakan pendidikan di Malaysia. Menjamin keadilan
dalam akses pendidikan
berkualitas serta berstandar internasional, menjamin setiap
anak mahir
berbahasa malaysia dan bahasa inggris, mengembangkan nilai-nilai
kebangsaan malaysia, transformasi profesi mengajar sebagai sebuah pilihan
profesi, memastikan pimpinan sekolah yang memiliki performa
terbaik di setiap sekolah, pemberdayaan JPNs, District Education Office or
Pejabat Pelajaran Daerah (PPD),
dan Lembaga Sekolah untuk menyesuaikan
solusi permasalahan
berdasarkan kebutuhan, menggunakan ICT untuk membangun kualitas pendidikan di Malaysia, penguatan kapasitas dan kapabilitas Kementerian Pendidikan, membangun kerjasama atau kemitraan dengan orang tua,
masyarakat, serta sektor swasta, memberikan kualitas pendidikan
yang sesuai dengan pengorbanan biaya pendidikan, serta meningkatkan transparansi dan akuntabilitas publik secara langsung.
Dalam proses kebijakan pendidikan di Malaysia, terdapat
beberapa fase dalam proses pembuatan rencana strategis perbaikan pendidikan di
Malaysia. Berikut merupakan proses kebijakan pendidikan di Malaysia:
Blueprint mencakup rencana aksi dan intervensi prioritas untuk
transformasi dari sistem pendidikan secara keseluruhan. Transformasi pendidikan
akan memakan waktu lebih dari 13 tahun, di mana:
Gelombang 1 (2013-2015): pembangunan kerangka
sistematik dengan daya dukung pengajar dan berfokus pada keterampilan dasar
dengan kunci keberhasilan yaitu 100% murid mampu berbahasa Malaysia serta
target kemampuan Bahasa Inggris.
Gelombang 2 (2016-2020): mempercepat perbaikan
sistem dengan kinerja pelajar lulusan Malaysia setara dengan rata-rata standar
internasional serta 50% pengurangan kesenjangan pendidikan di Kota dan Desa
serta penurunan 25% dalam kesenjangan sosial-ekonomi serta kesenjangan gender.
Gelombang 3 (2021-2025): bergerak menuju
keunggulan dengan peningkatan fleksibilitas operasional dengan performa yang
dimiliki Malaysia pada TIMSS dan PISA berada di peringkat tiga teratas dalam
hal sistem pendidikan.
Kebijakan pendidikan tersebut juga dilakukan melalui 3
fase, yaitu :
- Fase
1: Merupakan kajian komprehensif dan
diagnosis
sistem pendidikan. Fase ini dimulai dengan evaluasi rinci dari kinerja
sistem pendidikan Malaysia, dengan fokus pada capaian yang dihasilkan oleh
pelajar, menilai akar penyebab dan pendorong utama untuk meningkatkan
kinerja, dan mengenali contoh-contoh keunggulan yang terdapat dalam sistem
pendidikan lainnya sebagai model untuk emulasi dan replikasi.
- Fase
2: Berfokus pada
pembangunan blueprint preliminary education dengan mengidentifikasikan
prioritas pembangunan serta pembuatan program dari kebijakan yang lebih
rinci dan mendetail. Fase ini menggabungkan hasil dialog nasional dengan
GTP 2.0 lab pendidikan sebagai input. Pada April 2012, kementerian
menyelenggarakan dialog nasional untuk menggali umpan balik dari rakyat
sebagai masukan dari pembuatan sistem pendidikan. Dialog ini melibatkan
peran orang tuan, guru, dan murid. Dialog dipimpin oleh Tan Sri Dato’ Dr.
Wan Mohd. Zahid Mohd.
Noordin yang
mengepalai 16 townhalls (Putrajaya, Perak, Kedah, Sabah, Sarawak, Labuan, Negeri Sembilan, Melaka, Selangor, Penang,
Pahang, Kelantan, Terengganu, dan Johor) yang dihadiri sebanyak 12.000 anggota perwakilan publik dan 20 sesi roundtable
dengan 325 partisipan. Anggota
juga memiliki kesempatan memberikan ide atau masukan melalui online portal
MyEduReview, Facebook, dan Twitter. Lebih dari 150 memorendum telah masuk
ke kementerian dengan total lebih dari 7.000 rekomendasi telah diterima.
Sekitar 90 anggota dari kementerian terkait (seperti Departemen
Keuangan, Departemen Sumber Daya Manusia, Departemen Pendidikan Tinggi dan
Departemen Perempuan, Keluarga, dan Pengembangan Masyarakat) terlibat pada
basis full-time. Kementerian mereview semua input baik dari
dialog nasional maupun lab secara cermat, kemudian mengintegrasikannya ke dalam
blueprint yang berdasarkan pada 4 kriteria, yakni: Pertama, setiap tindakan yang dilakukan harus
berkontribusi terhadap sistem dan merupakan hasil representasi dari para
pelajar. Kedua, departemen menyesuaikan dengan keadaan internasional dalam
mengidentifikasi dan memprioritaskan faktor-faktor yang membuat perbedaan besar
dalam sistem dan perbaikan pelajar. Ketiga, usulan harus relevan dengan titik
awal sistem dan berada dalam kemampuan departemen untuk mewujudkannya. Keempat,
manfaat dari pelaksanaan proposal harus lebih besar daripada kerugian finansial
dan operasional.
- Fase
3: Berfokus pada
keputusan akhir dari blueprint. Selama proses ini, upaya kementerian yakni
memperoleh input yang bersifat independen dari masyarakat Malaysia dan
Panel Review Internasional. Umpan balik diperoleh anggota melalui
interaksi tatap muka, baik secara langsung maupun melalui video. Malaysia Panel Review: Sebanyak 12 warga
Malaysia terkemuka dari latar belakang profesional dan sektor swasta
berkumpul, di bawah kepemimpinan Tan Sri Dato’ Dzulkifli bin Abdul Razak,
Wakil Rektor Albukhary International University. International Review Panel: Pemerintah
menggelar workshop yang melibatkan empat pendidik global terkemuka.
Pendidik ini melakukan kajian dan menyumbangkan inisiatif transformasi,
dan mengajukan perspektif mereka berdasarkan tolak ukur Malaysia dan. Para
anggota panel juga melakukan perjalanan ke Malaysia untuk melakukan lokakarya
dan kunjungan lapangan di Q4 2012 dan akan memberikan umpan balik sebelum
finalisasi Blueprint pada akhir 2012.
Proses kebijakan pendidikan di Malaysia tidak terlepas
dari peran aktor dalam pembuatan kebijakan. Selain pemerintah, terdapat peran Bank Dunia, UNESCO, dan OECD dalam
proses kebijakan pendidikan di Malaysia. Kementerian juga berkonsultasi
mengenai kebijakan terkait yang dihasilkan oleh lembaga-lembaga lain, termasuk
Departemen strategi blueprint transformasi Pendidikan Tinggi 2007-2020 dan 2011-2020
terhadap enkulturasi belajar sepanjang hayat. Blueprint ini merupakan hasil
dari analisis mendalam, wawancara, Focus
Group Discussion (FGD), survei
dan penelitian yang dilakukan dengan dukungan Pemerintah Malaysia serta
sejumlah pakar pendidikan skala internasional, pejabat kementerian terkait,
perwakilan guru, kepala sekolah, dan orang tua di seluruh wilayah Malaysia.
Selain itu, melalui dialog nasional yang dilakukan antara bulan April dan Juli
2012, hampir 12.000 anggota pemangku kepentingan publik dan kelompok
kepentingan lainnya ikut terlibat
dalam pemberian saran dan masukan dalam proses pembuatan kebijakan. Blueprint
mencakup rencana aksi dan intervensi prioritas untuk melakukan transformasi
sistem pendidikan secara keseluruhan.[4]
BAB III
KESIMPULAN
Kebijakan dan politik pendidikan pada
suatu Negara merupakan suatu rangkaian kegiatan yang meliputi perumusan,
analisis, implementasi, monitoring/pemantauan serta evaluasi seputar masalah
pendidikan yang diterapkan dalam menjawab tantangan pendidikan dan diberlakukan
dan diperbarui secara periodik.
DAFTAR
PUSTAKA
Ril,
As. “WARTA SEJARAH: SEJARAH PENDIDIKAN DI MALAYSIA.” WARTA SEJARAH
(blog), 9 Juni 2016.
http://wartasejarah.blogspot.com/2016/06/sejarah-pendidikan-di-malaysia.html.
sasrawan,
hedi. “Pendidikan di Singapura (Artikel Lengkap) | Hedi Sasrawan.” Pendidikan
di Singapura (Artikel Lengkap) | Hedi Sasrawan (blog). Diakses 13 Maret
2019.
http://hedisasrawan.blogspot.com/2015/03/pendidikan-di-singapura-artikel-lengkap.html.
Wikipedia.
“Pendidikan di Singapura.” Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas,
2018. https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pendidikan_di_Singapura&oldid=14503702.
Yuliantika,
Widya. “Studi Perbandingan Kebijakan Pendidikan Malaysia - Australia,” 2014.
https://www.academia.edu/7368464/Studi_Perbandingan_Kebijakan_Pendidikan_Malaysia_-_Australia.
[1]
hedi sasrawan, “Pendidikan di Singapura
(Artikel Lengkap) | Hedi Sasrawan,” Pendidikan di Singapura (Artikel
Lengkap) | Hedi Sasrawan (blog), diakses 13 Maret 2019,
http://hedisasrawan.blogspot.com/2015/03/pendidikan-di-singapura-artikel-lengkap.html.
[2]
As Ril, “WARTA SEJARAH: SEJARAH
PENDIDIKAN DI MALAYSIA,” WARTA SEJARAH (blog), 9 Juni 2016,
http://wartasejarah.blogspot.com/2016/06/sejarah-pendidikan-di-malaysia.html.
[3]
Wikipedia, “Pendidikan di Singapura,” Wikipedia
bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, 2018,
https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pendidikan_di_Singapura&oldid=14503702.
[4]
Widya Yuliantika, “Studi Perbandingan
Kebijakan Pendidikan Malaysia - Australia,” 2014,
https://www.academia.edu/7368464/Studi_Perbandingan_Kebijakan_Pendidikan_Malaysia_-_Australia.
0 Response to "Peran Negara Singapura dan Malaysia dalam Pendidikan Islam"
Post a Comment